Cerpen Hilarius Darson: Ibu Pergi Membawa Rahasia

oleh
Ilustrasi (Foto: Istimewa/id.aliexpress.com)

Oleh Hilarius Darson*

Elusan tangan yang penuh dengan kasih sayang ibu telah tiada, dan semuanya telah meninggalkanku selamanya. Aku tidak akan bisa melihat ibu lagi. Ibu yang rutin menganyam tikar dengan bertegun-tegun demi menghidupi kami.  Ibu telah dipanggil sang pemilik hidup. Aku pikir mungkin pemilik hidup sekarang sangat mencintai ibuku dan mengalahkan cintaku  seorang anak.

Banyak tikar yang dihasilkan oleh ibu semasa hidupnya dan dijual untuk menghidupi kami. Tikar ibu yang belum terjual sampai sekarang ditumpukan sudut rumah ini. Melihat tumpukan tikar itu  membuat aku selalu meraung-raung dalam hati memanggil ibu. Hatiku sangat perih. Mengapa ibu pergi meninggalkan aku. Aku yang masih membutuhkan hangat tangannya yang membelai di kepalaku.

Melihat tumpukan tikar itu, aku selalu membayang  ibu, seakan-akan wajah ibu tergambar jelas pada tikar-tikar itu dan membuat aku selalu mengingat dengan jelas saat ibu  duduk di tempat yang biasa ia duduki saat menganyam tikarnya ketika kami selesai makan malam. Saat itu aku selalu menemani ibu, mulut kami tidak pernah diam. Ada-ada saja hal yang kami bicarakan, ibu yang konsentrasi dengan menganyam tikarnya selalu merespon pembicaraanku, dan bahkan ibu sendiri yang selalu memulai pembicaran kami setiap malam, mungkin ibu bermaksud  supaya kami tidak cepat mengantuk. Aku sangat merindukan suasana ini, suasana malam hari. Suasana malam yang ditemani oleh cahaya suram lampu pelita dan dihibur oleh suara nyamuk yang membisingkan di kala ibu menganyam tikar. 

Ketika aku teringat dengan semua  ini, aku tidak sadar meneteskan air mata. Aku sangat merindukan seorang ibu yang pernah memperkenalkan aku dengan suasana kebahagiaan. Ibu yang selalu menaruh harapan dan mimpi padaku.

Semasa hidup ibu, kami hidup dengan menjual tikar yang dihasilkan oleh ibu. Kerajinan tangan ibu yang menghidupi kami, karena ibu yang telah menggantikan ayah untuk bertugas sebagai kepala rumah tangga kami. Ayahku sudah meninggal dunia sejak aku berusia tiga tahun. Sekarang pun  ibu meninggal dunia, aku tidak tahu harus bagaimana, aku harus bekerja apa dengan usiaku yang masih kecil. 

Ibu pernah bercerita kepadaku bahwa aku memiliki seorang kakak. Kini ia ada di negri orang. Katanya kakakku itu sudah berkeluarga  di sana, dan menjadi kaya raya, hidupnya sejahtera. Dia  itu pergi merantau saat aku masih dalam kandungan ibu. Tetapi aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang kakak, dan aku merasa tidak memiliki seorang kakak. Aku tidak pernah melihat wajahnya, yang aku tau hanya namanya, itu pun karena aku dengar cerita dari ibu. Kini aku tidak tahu, apakah waktu ayah meninggal dunia  dulu, kakakku itu datang atau tidak.

***

Waktu ibuku meninggal  satu bulan yang lalu, aku sangat beban dengan perasaan tentang orang yang pernah diceritakan oleh ibu dahulu.

“Ibu apa salah kita bu, mengapa hatinya tega tidak peduli dengan kematianmu ibu. Apakah ibu punya kesalahan besar kepadanya dahulu sampai kematian ibunya sendiri tidak dihiraukan”, kata-kata yang terlontar dari mulutku kepada ibu di kala jenasah ibu di pembaringan dan hendak dikuburkan.   Aku mengatakan itu, karena aku sangat beban dan jengkel dengan sikap kakaku yang merantau dan tidak datang saat kematian ibu.

Sampai ibu meninggal, kakakku itu tidak pernah perduli dengan hidup kami. Selama aku hidup sampai saat ini aku tidak pernah mendengarkan dan merasakan bagaimana kasih sayangnya, sebagaimana kasih sayang seorang kakak kepada adiknya  dan bahkan ibu sendiri pun demikian.

Aku pernah berpikir sebelumnya, dan menjadi harapan saya bahwa setelah dia tahu ibu sakit parah, dia mengirimkan uang untuk ibu dirawatkan di rumah sakit. Ternyata itu hanya impianku belaka, ironis dengan apa yang terjadi. Saat menderita sakit aku tidak bisa membiayai ibu untuk masuk rumah sakit.

Hari ini adalah tepat empat puluh hari kematian ibu. Kami melaksanakan acara empat puluh malam kematian ibu. Acara ini adalah acara yang sering dilakukan oleh orang Mangarai ketika empat puluh hari kematian seseorang, sebagaimana adat istiadat dan budaya Manggarai.

 Ketika matahari sudah terbenam. Semua keluarga kami sudah berkumpul di rumah kami.  Tiba-tiba satu mobil mewah berhenti di depan rumahku, semua mata orang-orang di rumah tertuju ke mobil tersebut, dan semuanya saling bertanya-tanya siapakah orang di balik mobil mewah itu.

“Ibu, ibu, ibu maafkan aku ibu”, terdengar suara tangisan orang yang sepertinya sedang turun dari mobil yang baru tiba di depan rumah itu.  

“Siapakah dia yang menangis itu, mengapa dia menyebut nama ibu, dan sepertinya dia sangat mengenal ibu”, berkata dalam hatiku.

Aku dan orang-orang yang seumuran denganku, bahkan yang berumur di atas umur aku di kampung ini tidak tahu siapa orang itu.  Tidak tahu siapa dia yang datang ke rumahku di saat acara empat puluh malam kematian ibu. Dia datang dengan dua orang, kedua orang itu tampak diam saja.

Seorang bapak tua yang sedang duduk, sangat terkejut ketika melihat orang itu melangkah dan hendak memasuki rumahku bahkan.  Melihat aku kebingungan, bapak tua itu langsung menghampiriku.

“Nak dia itu kakakmu”, seruan terlontar dari mulut bapak tua itu kepadaku.

Semua orang tua yang masih ingat dan masih kenal dengan dia langsung bersalaman dan berpelukan dengan dia. Dia pun langsung memperkenalkan kedua orang yang berjalan bersamanya. Ternyata kedua oarag itu adalah istri dan anak pertamanya.

Mendengar seruan bapak tua itu membuat aku berdiam saja, dan kehadiran dia tdak mengejutkanku.

“Mengapa dia datang di saat yang tidak tepat. Mengapa dia tidak datang saat ibu menderita sakit. Ketika dia datang saat ibu menderita sakit, mungkin ibu tidak meninggal dunia. Ibu mati karena aku tidak mengantarnya ke rumah sakit karena aku tidak punya uang. Mengapa dia yang banyak uang tidak datang di saat itu”, aku berkata dalam hati.

Malam itu,   saat acara empat puluh malam ibu, di tengah orang banyak di rumahku, aku termenung memikirkan tentang sikap kakakku itu yang tidak pernah memperdulikan hidup kami. Mengapa dia tidak seperti orang-orang yang telah sukses dan sejahtera sepertinya, yang sangat memperhatikan kehidupan orang tua mereka.

Saat itu aku dipenuhi perasaan jengkel kepada kakakku itu, aku sangat menyesal terhadap sikapnya,

***

Ketika matahari terbit di ufuk timur, aku mengunjungi rumah bapak tua yang  tadi malam telah memberitahuku bahwa orang yang datang ke rumah itu adalah kakaku.  Sampai, di rumah bapak tua itu, aku ingin mengurangi beban dalam hatiku dengan menceritakan semua perasaanku tentang sikap dari orang yang katanya kakakku.

“Nak, sebaiknya engkau  jangan beban dengan sikap ketidakpeduliannya kepada kalian selama ini, dan bahkan saat kematian ibumu saja dia tidak peduli. Dan semua bebanmu itu sebenarnya terjawab dengan satu rahasia tentang hidup kalian berdua. Ibumu tidak pernah menceritakan rahasia itu kepadamu, tetapi kakakmu tahu rahasia itu, hanya engkau yang tidak mengetahuinya”. Inilah yang dilontarkan dari mulut bapak tua itu setelah aku menceritakan semuanya.

“Pak, tolong ceritakan semuanya pak! Apa yang dirahasiakan tentang kami?”, aku bertanya kepada bapak tua itu.

“Iya nak aku akan menceritakan semuannya”.

“Jadi, dia adalah kakamu, kalian adalah anak dari satu ayah, tetapi kalian dilahirkan dari ibu yang berbeda”.

Mendengar perkataan itu, mulutku terbuka menganga dan meneteskan air mata.

“Jadi, kami berdua bukan saudara kandung pak?”, aku bertanya sambil menangis.

“Iya nak, ibu dari kakakmu meninggal dunia saat melahirkannya. Setelah ibunya meninggal dunia, ayahnya menikah lagi, dan kamu adalah hasil dari perkawinan dengan istri ke dua ayah kalian”, lanjut bapak tua itu. Aku pun mendengarnya dengan tidak berhenti menangis.

“Mengapa ibu harus merahasiakan itu pak. Mengapa ibu tidak memberitahuku, bahwa kami berdua berasal dari rahim yang berbeda. Aku sangat menyesal dengan sikap ibu yang merahasiakan itu kepadaku. Mengapa ibu harus pergi dengan membawa rahasia besar itu pak”, kalimat inilah yang keluar dari mulutku sambil menangis.

Akhirnya,  aku tau semua alasan mengapa orang yang ibu bilang bahwa dia adalah kakaku, tidak peduli dengan penderitaan kami. Ia bersikap seperti itu ternyata karena ibuku bukanlah ibunya dan aku bukan adik kandungnya. Kami hanya satu ayah tetapi dari kandungan yang berbeda.

*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP St. Paulus, Ruteng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *