Wacana Penutupan TNK Ditolak Pelaku Pariwisata di Manggarai Barat

oleh
Taman Nasional Komodo. (Foto/Istimewa)

FLORESPOST.CO, Labuan Bajo– Pemerintah provinsi NTT kembali mengeluarkan wacana terkait penutupan Taman Nasional Komodo selama satu tahun.

Wacana tersebut disampaikan oleh gubernur NTT Viktor Laiskodat di Kupang Jumat lalu.

Pemerintah beralasan penutupan Taman Nasional Komodo dilakukan karena populasi Varanus Komodo itu kian menurun. Karenanya pemerintah berencana akan menata kembali habitat asli Komodo itu selama setahun ke depan.

“Pemerintah NTT akan melakukan penataan terhadap kawasan Taman Nasional Komodo agar menjadi lebih baik, sehingga habitat komodo menjadi lebih berkembang. Kami akan menutup Taman Nasional Komodo selama satu tahun,” kata Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dalam keterangan persnya di Kupang, Jumat (18/1) lalu.

Menteri KLHK Siti Nurbaya sebagai pihak yang memegang otoritas pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo saat ini sedang mempelajari wacana gubernur NTT itu.

Untuk itu, menteri Siti mempersilahkan pemprov NTT untuk berdiskusi dengan KLHK untuk membahas wacana yang digulirkan pemprov NTT itu.

“Saya minta Direktur Jenderal (Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem/KSDAE) memeriksa, karena pertama, otoritas tentang kawasan konservasi itu sepenuhnya ada di pusat. Jadi, kalau pemerintah daerah punya gagasan, nanti kita diskusikan, lalu kita akan lihat inti-intinya apa yang dipersoalkan,” tutur menteri KLHK Siti Nurbaya di Jakarta.

Wacana penutupan Taman Nasional Komodo itu rupanya direspons beragam oleh warga dan pelaku pariwisata di Labuan Bajo.

Bonne Reza merupakan anggota himpunan pelaku pariwisata muda asal Labuan Bajo Manggarai Barat, yang selama ini banyak berkecimpung di bidang penemuan obyek wisata pendukung di Manggarai Barat.

Tugas mereka adalah mengeksplor obyek wisata baru di Manggarai Barat untuk mendukung obyek wisata utama yakni Taman Nasional Komodo.

Bonne Reza menyebut, wacana penutupan obyek wisata Komodo yang digulirkan pemprov NTT itu sebagai ide gila.

“Kalau obyek wisata Komodo ini ditutup, maka hal itu akan berimbas pada kedatangan wisatawan ke Labuan Bajo, kalau tamu tidak ada yang datang, maka denyut nadi sektor pariwisata di Manggarai Barat akan berhenti, karena tamu sepih, hotel restoran akan sepih juga itu sudah pasti,”ujar Bone Reza di Labuan Bajo Selasa (22/1) pagi.

Karenanya pria yang telah banyak menghabiskan waktunya untuk mengeksplor tempat wisata baru di Manggarai Barat ini berharap, wacana gubernur NTT untuk menutup kawasan Taman Nasional Komodo itu perlu dikaji ulang sehingga tidak mengorbankan pelaku usaha di Labuan Bajo.

“Apa lagi rencana penutupan TNK ini kan bertolak belakang dengan target 20 juta kedatangan wisatawan ke Indonesia yang ditetapkan kemenpar tahun ini,”tambahnya.

Sementara itu, Jhon Kadis yang merupakan salah seorang warga Manggarai Barat menilai wacana penutupan Kawasan Taman Nasional Komodo ini sebagai langkah yang cukup tepat untuk merawat varanus Komodo dari abcaman kepunahan.

“Penutupan sementara selama satu tahun untuk renovasi, tentu saja menimbulkan reaksi bagi pelaku pariwisata yang selama ini merasa sudah mapan dengan status quo TNK, tapi kalau untuk tujuan peningkatan kualitas pelayanan terutama untuk menjaga populasi Komodo tetap terjaga saya pikir itu hal yang baik,”kata Jhon Kadis.

Hanya saja, menurut Jhon, wacana penutupan Taman Nasional Komodo ini perlu disosialisasikan terlebih dahulu kepada pelaku pariwisata, masyarakat dan DPRD NTT.

“Penutupan satu tahun ini juga memberi waktu kepada para pelaku pariwisata untuk mempersiapkan diri menyediakan sarana usahanya yang lebih memadai untuk kondisi pelayanan kepada wisatawan yang datang,”tambah Jhon Kadis.

Berdasarkan data resmi KLHK, populasi komodo relatif stabil, meski sempat turun. Tahun 2017 jumlah binatang purba itu 2.762 ekor, sementara pada 2016 berjumlah 3.012 ekor.

Ini bukan kali pertama gubernur Viktor menggulirkan wacana kontroversial terkait pengelolaan Taman Nasional Komodo, sebelumnya orang nomor satu di lingkup pemprov NTT itu berujar bahwa komodo jauh lebih penting dari nyawa manusia.

Selain itu, gubernur Viktor juga mewacanakan kenaikan tarif masuk ke Taman Nasional Komodo sebesar 500 dolar.

Penulis: Antonius Rahu
Editor: AR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *