Ayunan Awal Politik Pilkada Manggarai 2020

oleh
Alfred Tuname, Penulis Buku “le politique” (2018) (Foto: DOK. Pribadi)

Oleh Alfred Tuname*

Politik selalu melahirkan riak. Riak itu seperti bayangan yang selalu muncul sekalipun wujud aslinya urung tiba. Memperbincangkan bayangan itu di ruang publik menjadi menarik sebab akan menarik aktor-aktor politik keluar dari naungannya.

Seperti itulah riak politik Manggarai menuju Pilkada 2020. Riaknya, “modest but positive trend” (istilah Freedom House); sedang-sedang saja tetapi trendnya postif. Riak pertama muncul justru dari petahana. Ada desas-desus “pecah kongsi” paket politik yang dulu (Pilkada 2015) disebut dengan “DM” (Deno Kamelus dan Viktor Madur). Desas-desas itu seperti angin puting beliung yang begitu kecang di seputaran kota Ruteng.

Kencangnya desas-desus pecah kongsi politik tersebut diperkuat oleh terpilihnya Viktor Madur menjadi Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Manggarai. Itu artinya dengan kekuatan tiga kursi di DPRD Manggarai, Viktor Madur punya “modal politik” awal menuju Pilkada 2020. Apalagi Partai Nasdem tampaknya terdorong untuk menjadi the ruling party di daerah.

Tetapi, boleh jadi, desas-desus tersebut hanyalah sebuah “testing the water” politik. Semacam cara untuk meneropong radiasi reaksi publik. Dalam politik praktis hal itu biasa. Tesisnya, jika radiasi reaksi publik itu besar dan luas, maka desas-desus pecah kongsi tersebut akan terbukti benar. Atau vise versa.

Celakanya, belakangan, angin desas-desus tersebut dibaca publik sebagai fatamorgana tenggelamnya kapal “DM”. jadi ada ancang-ancang gejala “like rats fleeing a sinking ship” (mengutip Rocky Gerung). The sinking ship tersebut melahirkan kedamainan yang gamang (unease peace) dalam lambung politik “DM”. Partai-partai kaolisi seakan merasa ada guncangan dalam lambung politik itu.

Guncangan itu, mungkin saja, dirasakan oleh Partai Golkar. Ada semacam ancang-ancang membaca the  fleeing rat di lambung kapal petahana. Tanda-tanda awal cukup jelas untuk membaca riak di lambung politik “DM”. Partai Golkar pun mulai lebih awal membuka pendaftaran calon bupati Manggarai menuju Pilkada 2020. Jelas, harapannya, bakal-bakal calon bupati muncul ke permukaan.

Dari Partai Golkar sendiri muncul nama Osi Gandut atau Simprosa Rianasari Gandut (bdk. voxntt.com, 19/01/2019). Dengan munculnya nama itu, Partai Golkar seakan tak ingin kehilangan muka dalam politik Manggarai. Tetapi Osi Gandut hanya populer di media dalam seteru perebutan “harta gono-gini” politik di DPRD Manggarai. Tandem seteru itu adalah Marsel Ahang, politisi Partai PKS Manggarai. Popularitas Osi Gandut seputar  perihal itu-itu saja.

Mungkin saja, Partai Golkar perlu memilih kader-kadernya yang lebih “menggigit”, yang popularitasnya muncul karena ide atau terobosan kebijakan pembangunan yang progresif. Kalau tidak, ajang politik Pilkada tidak lebih dari politik “aji mumpung”: politisi yang gagal di Pileg 2019 siap maju di Pilkada Manggarai 2020. Celakanya, publik sudah pandai memilah: mana politisi oportunis dan mana politis otentik.

Terkait Pilkada, publik Manggarai tentu berharap hanya politisi-politisi otentik yang muncul. Politisi-politisi itu lahir dari rahim ide dan gagasan politik jernih untuk kehidupan rakyat yang lebih baik. Mereka bukan oportunis yang mengais remah-remah popularitas demi kekuasaan dan kepentingan pribadi: setelah jadi lupa. Padahal politik adalah ritus bersama melawan lupa (terhadap rakyat).

Melalui Pilkada itu pula publik mengevaluasi  lupa itu. Publik akan “me-refresh” lagi semua janji dan ikhtiar politik melalui Pilkada. Pilihan publik pun akan mengikuti magnitudo kebijakan dan diskresi menurut lajur janji dan ikhtiar tersebut. Karena itu, dalam Pilkada, ucapan pemungkas sekaligus berbahaya pemilih Manggarai adalah “gereng le tanda” (tunggu di bilik suara).

Dalam langkah menuju “tanda” itu, publik Manggarai menanti figur-figur pemimpin yang muncul dan bisa menggagas lompatan besar politik (political quantum leap) bagi masyarakat Manggarai. Setiap figur tersebut akan menjadi pembanding satu sama lain. Ingatan dan mata publik akan menjadi “neraca politik” yang ampuh dalam menakar figur pemimpin.

Jika ingatan publik ditarik kepada Pilkada Manggarai 2015, nama Heribertus Nabit masih cukup fenomenal. Publik, mungkin saja, berharap ada sepotong kalimat “i’ll be back” dari Heribertus Nabit untuk Pilkada Manggarai 2020. Atau, ia sedang menunggu “hari baik” sehingga kaliberasi keputusannya itu bisa mengoyak ruang publik Manggarai yang beku.

Atau mungkin  saja publik sedang menantikan nama-nama baru untuk masuk dalam bursa politik Pilkada 2020.  Adakah “mesias politik” di Pilkada 2020 nanti? Semua itu tergantung performativitas (performativity) politisi dan perspektif politik publik.  Biasanya, “mesias” itu lahir dari masyarakat dan mengerti urusan masyarakat. Politisi yang sibuk mengurus memperkaya diri dan elitis adalah “fake messiah”.

Akhirnya, ayunan politik Pilkada sedang berlangsung. Siapa saja bisa bermainan ayunan itu. Yang tak bertahan, akan jatuh. Siapa yang siap, ia akan bertahan. Mengutip Franklin D. Roosevelt, “in politics, nothing happens by accident. If it happens, you can bet it was planned that way”. Semua yang berlangsung di ruang publik adalah “nothing happens by accident”. Semuanya adalah politik.

Bersiap-siaplah!! Victoria amat curam.

*)Penulis Buku “le politique” (2018)

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *