Seleksi Anggota KPU di Flotim Diduga Bermasalah

oleh
Logo KPU Pada Kantor KPU Pusat. ( Foto/Istimewa)

FLORESPOST.CO, Larantuka – Seleksi Calon Anggota KPU Kabupaten Flores Timur diduga bermasalah. Pasalnya ada calon yang dinyatakan lulus dalam 10 besar, namun tiba-tiba nama mereka diganti dengan nama calon yang sebelumnya tidak lolos dalam 10 besar.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, kuat dugaan ada permainan penerimaan calon anggota KPU Kabupaten Flotim.

Bernadina Pusun Gapun, salah seorang calon peserta yang lulus dalam 10 besar namun namanya dicoret, kepada FLORESPOST-CO, Minggu, (26/1/2019) mengungkapkan, saat dirinya dinyatakan lulus 10 besar calon anggota KPU Kabupaten Flotim, Ia di undang oleh Sekretariat KPU Provinsi NTT untuk mengikuti Fit and Proper Test (FPT) di Kupang, pada tanggal 27 s/d 28 Januari 2019.

“Namun pada Sabtu, 26 Januari 2019 kemarin, sesuai dengan pengumuman KPU RI terkait nama yang ikut FPT, kok aneh, nama saya bersama 12 teman lainnya se NTT tidak ada, dan digantikan oleh calon lain yang sudah gugur sebelumnya,” ungkap Bernadina penuh kesal, kepada Florespost.co via telepon.

Ia meriwayatkan, setelah mengetahui namanya tidak termasuk dalam daftar peserta Fit and Proper Test di KPU Propinsi, Ia bersama teman-temannya mendatangi KPU Propinsi meminta klarifikasi persoalan tersebut.

“Jawaban dari KPU Provinsi membuat kami sangat terpukul dan kaget. Mereka mengatakan bahwa nama kami tidak ada dalam daftar tersebut. Pihak KPU Propinsi menambahkan ini kewenangan KPU pusat dan sangat rahasia, jadi mereka hanya melanjutkan saja pengumuman dari KPU Pusat. Lalu kenapa nama kami tidak ada sedangkan kami diundang mengikuti FPT ini,” tegasnya.

Ia juga mempertanyakan dasar dan regulasi pencoretan yang dilakukan oleh KPU Pusat terhadap namanya, dengan menggantikan nama peserta yang sebelumnya tidak lulus dalam 10 besar.

“Kenapa KPU Pusat mencoret nama Saya seorang perempuan dengan menggantikan dengan seorang laki-laki yang sebelumnya tidak lolos.? Kenapa juga Saya di undang oleh Sekretariat KPU Provinsi NTT untuk ikut FPT.? Di aturan kan sudah sangat jelas bahwa yang berhak mengikuti FPT adalah peserta yang sudah lolos 10 Besar yang sudah ditetapkan oleh Timsel,” katanya.

perempuan asal Desa Wato Baya, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur, yang bekerja pada Lembaga NGO Internasional di wilayah Kabupaten Sikka ini juga menyayangkan kinerja dari Tim Seleksi (Timsel), Ia mengatakan Timsel terkesan tidak profesional dalam menyeleksi calon anggota KPU Kabupaten.

“Tetapi jujur saya mau katakan bahwa, nilai CAT, nilai psikotest, nilai wawancara, Saya mendapatkan nilai lebih tinggi dari 10 besar Flotim yang lolos. Apalagi dengan calon yang sudah digugurkan. Selama proses seleksi tanpa ada tanggapan sedikit pun dari masyatakat terhadap Saya. Saya semakin menduga kerja KPU Pusat penuh mafia, ada pesan kelompok atau ada orang tertentu,” tegasnya.

“Semuanya penuh dengan mafia. Lembaga KPU sangat disayangkan kinerjanya dalam hal menyeleksi calon anggota KPU Kabupaten. Kita yang tidak ada jaringan, pasti terlempar keluar gelanggang. Semoga kebenaran dan keadilan ditegakkan,” ujarnya.

Menghadapai persoalan ini, Dirinya juga sudah membuat surat pengaduan memohon pembatalan keputusan KPU Republik Indonesia yang mencoret namanya dari 10 besar calon anggota KPU Kabupaten Flotim.

Penulis : Stanis
Editor: STO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *