Cerpen: Jodoh Kawin Paksa

oleh
Foto Ilustrasi.(Foto/net)

Oleh: Vinsensius Lado

Gelak tawa orang kampung memecahkan keheningan malam itu. Kilat bersambaran dan suara gemuruh bersahutan bagai lantunan intonasi pemain musik skala nasional. Aku merinding. Bulu kuduk berdiri. Aku hanya terpaku. Mematung ketika aku berada didekat jendela rumahku. Di mana rumah tua ini telah membesarkan aku belasan tahun. Baik suka maupun duka. Gubuk tua bertembok bambu sebagai tempat perlindunganku siang dan malam. Saat sengatnya mentari maupun gigilnya malam lantaran hembusan angin laut mesra menyapa ragaku dikala musim dingin.

Aku meninggalkan rumah ini belasan tahun. Meninggalkan orang yang yang telah melahirkan dan membesar aku. Lantaran perosalan jodoh kawin paksa. Aku terlahir sebagai seorang putri Sematawayang. Kedua orang tuaku melahirkan aku ke dunia,setelah ayah ibuku menikah sepuluh tahun. Pada usia pernikahan yang ke sepuluh tahun barulah ibuku mengandung dan melahirkan aku. Kebahagian dan keharuan mewarnai wajah ke kedua orang tuaku,bagai samudra maha luas,saat tangis isak sang bayi mungil memecahkan malam Rabu kelabu.

Mereka sangat bahagia ketika aku dilahirkan tempo itu. Segala cara dipakai oleh ayah dan ibuku untuk bisa memperoleh keturunan. Para medis dan dukun segala daerah hampir ditemui oleh ke dua orangku untuk membantu memberikan petunjuk agar diberikan generasi pewaris harta karun pada sebidang tanah sewahan. Sujud sembah pada sang khalik pun tak terlupakan oleh ayah ibuku setiap menjelang larut malam. Rutin doa selalu di panjakan. Doa permohonan pun berkali-kali namun, tak pernah terkabulkan oleh Sang Khalik. Mungkin Tuhan masih memberikan hikmah kesabaran pada kedua orang tuaku.

Tepat usiaku delapan belas tahun, usia yang sangat produktif untuk menikah, kata orang-orang kampung.

Saat itu aku mengenal seorang lelaki. Lelaki itu sekampung denganku. Perjalanan cinta kami menuai masalah yang luar biasa, lantaran lelaki tersebut seorang duda. Melihat lelaki itu setiap hari berada di rumahku, maka suatu malam terjadi pertengkaran mulut yang tak bisa dibendung antara aku dan ke dua orang tuaku. “Kamu tidak bisa membedakan seorang lelaki yang belum menikah dan lelaki yang sudah menikah,” kata Ayahku. Ibuku pun tak kalah menghujamiku dengan kata-kata ironis. Kedengarannya pedis. Sakit hati. Aku terbungkam. Bisu. Aku mencintainya” gumanku dalam hati. Lantuan amarah bertubi-tubi dari ke dua ornag tuaku. Malam itu serasa neraka dalam bayangan mimpi. Suara teriakan ayahku terdengar jauh ke sebelah tetangga kampung, bagaikan stunami melulantakan kota-kota mega bertembok beton buatan baja asli.

Melihat perilaku ke dua orang tuaku,tak pernah berubah maka aku memilih untuk lari kawin paksa. Tekat ini pun terwujud ketika aku meyampaikan niat ini kepada calon suamiku. Dia pun menyetujui apa yang kurencanakan.
Kami merantau. Sepuluh tahun kami berada di negeri jiran tanah Malaysia. Pernikahan tak direstui orang tuaku terjadi negeri tetangga Indonesia.

Beberapa tahun hidup bersama, namun kami tidak dikaruniakan seorang anak. Kami menyerahkan sepenuhnya pada Sang Khalik. Jika Tuhan merestui maka kelak kami mempunyai seorang keturunan.

Semua keniginan tersebut belum dikabulkan, suamiku mendapat kecelakaan tabrak maut di Kota Kinabalu.

Perisatiwa ini sangat naas. Aku mengurusnya sampai selesai dan aku putuskan tuk pulang ke kampung halaman. Kini aku kembali ke kampung.

Memanggil mereka aku tak sanggup. Mengetuk pintu aku tak sudi. Pergolakan hebat dalam diriku. Detak jantung dan aliran darah tak seperti biasanya. Aku memilih masuk ke dalam rumah atau aku berdiri mematung di luar dekat jendela rumahku sampai malam menemui pagi. Kegelisahan kian menjadi-jadi. Seluruh tubuhku basah kuyup,lantaran siraman air dari langit semenjak kepergian senja. Aku menggigil.

Aku memutuskan untuk mengetuk pintu. Tok…tok…tok…seiring bunyi hujan di atas atap rumahku. Tak lama kemudian aku mencoba sekali lagi. Bunyi ketukan semakin besar.

Tok…tok…tok…mendengar bunyi ketukan itu, terdengar suara bisikan diam seketika.

Iya….siapa….itu suara Ibuku. Wajahku pucat pasi. Badanku gemetar. Apa yang akan terjadi ketika ayah dan ibuku melihat bahwa yang mengetuk pintu adalah aku.

Pe…ra…da….suaraku terbata-bata. Nyaris rasa takut akan dibunuh oleh ayahku,sebab tidak mendengar nasihat orang tua.

Aku melakah maju. Langkahku seakan tersendat seketika mendengar teriak ayah. Aku berhenti.

Keluar….kau pergi….pergi dari rumah ini. Suara Ayah semakin keras meneriakiku. Aku terus melangkah maju menuju suara itu. Ibuku membuang muka. Kelihatan pada wajah Ibu tidak terbesit sedikit pun rasa keharuan ketika sepuluh tahun tak bersua dengan anaknya. Aku merangkul ibuku. Dalam dekapan itu aku mendengar isak tangis histeris sambil mengeluarkan kata-kata penyesalan atas perbuatanku.

Ayahku masih tertidur. Aku berpikir bahwa Ayah hanya tertidur mungkin karena kecapain setelah pulang dari kebun. Aku menggapai ayahku. Aku memegang erat tangannya. Semakin menjadi-jadi teriakan Ayah menghujamiku laksana petir di siang bolong.

“Kau anak durhaka. Pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi,” kata Ayahku. “Kenapa kau tidak melihat aku diatas pusara kelak,” bebernya lagi.

“Aku minta maaf Ayah. Aku mohon Ayah,” kataku dengan suara terbata-bata. Seribu maaf dan sejuta permohonan tak pernah bisa mengagantikan perbuatan durhakamu yang mengakibatkan ayah terbaring sekian tahun. Aku kaget mendengar perkataan ayah. Ternyata ayah jatuh sakit(Struk) ketika aku bersama laki-laki melantunkan perkawinan tak direstui di negeri jiran tempo itu. Kabar perkawinan kami pun tersiar sampai ke kampung halaman. Saat itu pun ayahku jatuh sakit dan tertidur sampai hari ini.

Dalam kehisteris itu, aku terus memegang erat tangan Ayahku. Aku tak mau melepaskannya. Di mana suamimu Nak? Tanya Ayahku. Kalimat itu terdengar ditelingaku dan hatiku seperti disirami air es petang hari. “Dia sudah meninggal akibat kecelakaan tabrak maut di Kota Kinabalu. Setelah peristiwa itu, hari ini aku terpaksa untuk kembali,” kataku.

Semakin kuat isak tangis Ayahku. Kami telah sumpah serapamu di Nuba Nara dan Ori gera’ra itu Nak. Ketika Ayah dan Ibumu mendengar kamu sudah menikah dengan laki-laki itu di tanah perantaun. Kami bersumpah jika kamu bukan darah daging kami, maka kamu akan selamat. Akan tetapi, jika kamu adalah darah daging kami maka kamu tidak dikarunia anak dan suamimu akan mendapatkan malapeta. Itulah kalimat-kalimat yang kami lantuankan di Nuba Nara tempo itu. Kini, semua itu terwujud. Aku merebahkan tubuh mungilku di atas dada kulit pembalut tulang Ayahku seiring tetasan air mata membahasahi pipi keriputnya.

Catatan:

(Nuba Nara= tepat memberikan sesajian untuk leluhur)
(Ori gerar’a= Ruamah keramat)

*) Penulis adalah seorang Guru di SMP Phaladia, Adonara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *