Menuai Polemik, Masyarakat Adat Lembur Adukan Proyek Listrik SUTT ke DPRD Matim

oleh
P

FLORESPOST.CO, Borong – Masyarakat adat di Desa Lembur, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur mendatangi gedung DPRD Kabupaten Manggarai Timur pada, Rabu (23/1/2019) lalu.

Kedatangan mereka dalam rangka meminta meninjau ulang kembali, persoalan pembangunan jalur Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), yang melintas di tempat mereka.

Dalam poin yang disampaikan mereka menegaskan, proyek tersebut telah melewati mata air yang selama ini menjadi sandaran para petani untuk mengairi sawah yang ada sekitar daerah itu.

Sebelum polemik ini terjadi, masyarakat adat dan pihak pemerintah desa, sudah menandatangani berita acara, tentang peninjauan kembali proyek tersebut.

Dalam salinan (laporan) yang di terima FLORES-POST.CO, hutan mata air Wae Sele merupakan nadi perekonomian mereka, namun dengan adanya proyek ini menurut mereka, telah mengancam keberlansungan hidup masyarakat yang sebagian besar adalah petani.

Kepada FLORES-POST. CO, tua adat desa Lembur, Nikolaus Nalang mengatakan, bahwa perjuangan ini demi kepentingan bersama. Ia menambahkan hal ini dilakukan guna menyelamatkan hutan, mata air dan keberlansungan hidup anak cucu ke depannya.

Nikolaus akan tetap menperjuangkan persoalan ini hingga tuntas demi keberlansungan hidup para petani, dan juga kata dia, demi keselamatan anak cucu mereka kedepan.

“Kami ini sudah tua tapi kami juga wajib memikirkan nasib generasi kami kedepan. Jika hutan mata air ini di tebang, maka pengairan sawah sudah tidak bisa lagi,” ungkap Nikolaus di Rumah Gendang desa Lembur, pada, Kamis (24/1/2019).

Ditegaskan Niko, jika hutan mata air ini di tebang semua, maka banyak dampak yang akan terjadi di sekitarnya.

“Saat rapat bersama di kantor desa, kami memberikan penjelasan dampak dari proyek ini. kami beritahukn agar proyek ini ditinjau dan dipikirkan dengan baik. Jika dibiarkan maka akan terjadi erosi atau pengikisan lahan, debit air berkurang, mata air hilang. Tetapi keluhan- keluhan kami ini mereka tidak menghiraukan kami,” pungkasnya.

Kisah Mistis Burung Kedasih Dalam Kasus Wae Sele

Burung kedasi merupakan burung yang berkicau pada sore hari. Dalam bahasa Manggarai Timur, burung ini dinamakan tik toe. Burung ini menurut kepercayaan warga desa Lembur, Kecamatan Kota Komba adalah burung yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Leluhur mereka (kampung Lembur-red) meyakini, jika kicauan burung Kedasih terjadi pada sore hari maka bertanda akan ada kematian (orang meninggal-red) di kampung tersebut.

Wae Sele merupakan hutan mata air yang selalu dilestarikan masyarakat adat kampung Lembur. Hampir setiap tahunnya, mereka selalu melaksanakan ritual dan memberikan sesajian ditempat mata air itu.

Warga kampung setempat juga meyakini ada keterlibatan nenek moyang mereka dalam menjaga mata air tersebut.

Kisah burung kedasi yang berbunyi pada sore hari juga, ternyata terjadi sebelum adanya pembangunan jalur Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) itu.

Burung Kedasih. (Foto/ De Journey)

“Burung itu berkicau sepanjang hari dibelakang rumah gendang sebelum esoknya ada pembabatan oleh pekerja SUTT,” tutur tua adat desa Lembur, Nikolaus Nalang kepada FLORES-POST.CO, Kamis (24/1/2019)

Niko mengungkapkan kicauan burung pada saat itu membuatnya merinding. Menurutnya, burung itu datang memberitahukan kepada masyarakat setempat agar bergegas menujuh mata air Wae Sele yang akan dibabat itu.
Penulis : Acong Harson
Editor : STO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *