Penyair dan Bukan Penyair

oleh
Cover Buku "Penyair Bukan Kami", Karya Putra Niron dan Cici Ndiwa (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Alfred Tuname

i am not a poet

poets are what people call people

who give birth to surprise

something the couldn’t even control

like vomit, or sneezing, or giving birth

-Chris Spheeris, “i’m not a poet”,  2007)

Putra Niron (Putra) dan Cici Ndiwa (Cici) menerbitkan buku puisi bersama yang menarik sekaligus provokatif. Antologi Puisi “Penyair Bukan Kami” (Penerbit Wahana Resolusi, 2018) jelas saja bukan tentang penyair, tetapi puisi.  Katanya, puisi dari “bukan penyair”.

Tampaknya, Putra dan Cici tak mau disebut penyair. Penyair mungkin sebuah “posisi” yang menakutkan bagi mereka. Boleh jadi mirip apa yang dikatakan penyair Chris Spheeris, “i’am just reading something the poet in me wrote/ i’m just repeating what i was told to say in a/moment of inspiration”. Semacam ada puisi yang tertulis melalui diri mereka yang bukan penyair.

Puisi itu dunia privat yang diunggah ke dunia yang ramai. Puisi dihadapkan kepada kehidupan manusia yang tak sepi, juga penuh chaos. Dengan kata, puisi hendak menghentak kesadaran manusia munuju kedamaian.  Mengingat Toto Sudarto Bachtiar, “karena kata tak cukup buat berkata”. Dengan puisi, harapannya, kata dapat mengubah dunia.

Penyair berharap, kata-katanya dapat mengocok perasaan manusia yang lemah. Perubahan pun dimulai dari puisi (:kata). Kata Rendra, perjuangan merupakan pelaksanaan kata-kata. Dengan kata pun, penyair melabrak ketertundukan hidup, bahkan ketertundukan atas kata itu sendiri.

Yang tak takut terhadap perubahan dunia adalah bukan penyair. Sebab, ia tak mau melepas kungkungan dunia privatnya. Atau ia tak berani berkata melabarak belenggu yang sedang dihadapi sesamanya. Atau setidaknya, ia merasakan perasaan dirinya seperti perasaan orang lain. Meskipun itu ditulis dalam sepi.

Puisi yang lahir dari dunia sepi itu ditata secara jelas (:logis): jelas dalam ungkapan dan tujuan. Sekalipun itu terbaca dalam beribu tafsir dan bebas pikir. “A poem should be palpable and mute/ As a globed fruit”, tulis penyair Archibald MacLeish. Selebihnya, puisi itu bebas; siapa saja boleh “mengunyah” puisi.

Walaupun buku antologi puisi “Penyair Bukan Kami” tampak antonomistik, melalui puisi-puisinya, Putra dan Cici itu penyair. Mengutip MacLeish, “a poem should not me, but me”. Sebab, mereka telah masuk dalam “kesunyian masing-masing” dan melepas dunia sunyi itu ke dunia ramai. Mereka berhasil menulis keindahan bahasa dalam puisi.

Tetapi puisi tak hanya harus indah. Menurut Rene Wellek dan Austin Warren, puisi itu harus “dulce et utile” (menyenangkan/indah dan bermakna). Bagi Putra dan Cici, bukan cuma itu, tetapi ada “janji setia”. Dalam puisi “Penyair”, Putra menulis:

Isinya,

Janji setia ayah dan ibu

Yang terukir dalam sajak.

Aku hampir lupa namanya,

Tapi masih sedikit samar,

Kakek menulis:

Puisi

Puisi itu seperti “janji kesetiaan” kepada kehidupan yang lebih baik. Seperti janji setia ayah dan ibu untuk membina keluarga yang damai dan sejahtera. Puisi itu pun ungkapan dunia privat penyair yang menyerukan kedamaian kehidupan “keluarga” dunia. Dengan itu, penyair mengambil bagian dalam hiruk –pikuk dunia yang kerontang cinta.

Bagi penyair, Putra dan Cici, cinta menjadi sekaligus tema dan bahasa yang agung untuk terus didengungkan. Boleh jadi, “mereka bukan penyair” apabila tidak membahasakan cinta, segala lapis cinta itu. Tentu cinta itu harus tulus dan otentik. Bahasa penyair Cici Ndiwa, “cinta tanpa garam”.

Karena kami mencinta tanpa garam

Dengan segala ada yang ada

Dan ada yang selalu ada, Bapa.

Cici, dengan kepolosan sang feminim, menyuarakan cinta yang ada. Yang “ada” itu segalanya, dan bisa dimaknai sebagai setiap rahmat dan serangkaian tubuh dan jiwa. Cinta itu sekaligus pemberian dan penerimaan segalanya itu, tanpa garam: tanpa timbangan embel-embel status pun derajat manusia.

Selebihnya, ada rindu, harapan, hasrat, pergi, pulang, dekapan, dan berbagai bunga-bunga rasa dengan segala fetisnya. Penyair menyambar semua rasa itu untuk menciptakan dunia penuh rasa kemanusiaan dengan kata (:puisi).  

Tetang semua itu, penyair hanya menyiram. Manusia-lah (:penikmat puisi) yang memetik. Maknanya sudah terlepas dari pena penyair; maknanya bukan pula di dalam kata, pun di antara kata. mengutip Ode To Meaning Robert , you not in the words, not even/between words, but a tosion/ a cleavage,a stirring”. Mungkin, makna itu tersirat dalam pikiran dan tubuh yang menyeduh kenikmatan (jouissance) dalam kehidupan poetik.

Karena itu, menikmati puisi bukan untuk katarsis, melainkan untuk bertindak praxis:kerja dan refleksi. Itu saja. Selebihnya, senyummu adalah riang penyair; sedihmu adalah duka penyair. Sebab penyair itu “mata yang menyimpan segala musim, dengan jalan menuju hatinya” (Cici Ndiwa, puisi “Membaca Derita di Retakmu”).

*)Penulis dan Esais

Catatan Redaksi: Opini/esai kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *