Puisi-Puisi Edid Teresa: Kertas Putih, Pelacur Negeri, Terima Mintaku

oleh
Ilustrasi (Foto: istimewa/seni.co.id)

Oleh: Edid Teresa*

Kertas Putih

Gundah terasa hari-hari

Sebab tak jarang aku kau dustai

Tapi demi kertas putih yang terikat predikat

Setia aku menempuhmu

Bila seering aku kau dapati sendiri

Abaikan saja, jangan kau peduli

Itu hanya inginku sejenak menyepi

Entah mengapa,

Hanya diam yang senantiasa berlagu

Berirama

Cinta putihku yang kian berkesima

Serabut kata mencoba terantuk

Sebab terlampau sering aku salah jalan

Namun atas nama cinta putihku

Kubalutkan raga bersama irama

Tak rapuh aku bertahan

Tergeletak, mengejar

Selembar kertas putih bepredikat

Yang tersimpan indah dimeja

Sang pemuja tanpa tanda jasa

Pelacur Negeri

Pada sebuah perjumpaan terkesima, aku tertegun

Belaian jari-jarimu memanjakan daku pada sebuah kisah

Pada waktu itu pula, aku sempat mengucap janji

Aku adalah untukmu, seluruhku adalah untukmu

Dan kau tahu,

Semenjak itu pula, sejuta modifikasi serentak menjadi reparasi tak ternilai

Kau yang menjadi pemilik singgasana berbalut emas

Kini, berubah serentak menjadi pelacur tak bertuan

Lalu lalang sampah-sampah terabaikan, begitu saja

Kau semacam tak peduli

Mungkin terlalu nyaman dengan suguhan mistik ranjang semalam?

Terbalas dengan jasa kertas, sekejap pula engkau bergaya

Sejenak pula, preman-preman berteriak

Mengucap sumpah serapah, membobol ranjang kronologi

Sekejap amnesia dengan suguhan adegan mesum pada sebuah akun

Dasar pelacur!

Tetapi, aku tidak peduli dengan sikap pelacurmu

Karena engkau lebih bermartabat dari kami yang terbayar kata.

Terima Mintaku

Hujan di luar membasahi  jagat

Gemercik rintik pada belantara

Gonggongan niat kian mendekat

Menerkam!!

Adakah aku dalam pilihanmu

Anganku, aku mengeluh

Bulir-bulir rindu tak lagi bersahabat

Cita-cita tak lagi seirama

Kaku, membeku, terbalik

Anganku, aku menangis

Hilang tentang kataku

Berbaur pada niatku di kala itu

Gemercik rintik hujan tak lagi kurindu

Alunan melodi tak ingin kudengar

Tumpukan buku memenuhi akalku

Apa itu?

Terbawa rindu di kala senja

Hancur melebur

Menyerbu, menerkam di siang bolong

Apa kabarku

Aku sudah  malas

Aku mau berhenti sejenak

Mengejar pengalaman dinegeri  seberang

Meraih angan di persimpangan

Reputasiku itu.

*) Mahasiswa PBSI Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *