Catatan Dari Desa : Bukti Cinta Pemda Flotim Untuk Petani Desa Riang Padu

oleh
Petani. (Foto/Istimewa)

Oleh: Vinsensius Lado
Guru SMPK Phaladhya Waiwerang

(Pemda Kabupaten Flores Timur Luncurkan 6.000 Anakan Pala)

Riang Padu merupakan sebuah perkampungan di daerah perbukitan wilayah Kecamatan Adonara Barat. Jarak tempuk dari kota Kecamatan Adonara Barat, (Waiwadan) menuju ke kampung Riang Padu kurang lebih 4 Km atau memakan waktu sekita 45 menit. Jalan desa ini masih dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, karena baru 2 Km lebih yang dikerjakan menjadi rabat oleh masyarakat dengan menggunakan dana desa pada tahun2017 dan tahun 2018. Sementara, sebagian besar masih jalan bebatuan.

Dengan kondisi jalan ini, maka sangat menghambat akses perputaran ekonomi. Menjual hasil komoditi ke pasar menjadi hambatan besar ketika musim hujan. Mengandalkan tenaga manusia bukan zamannya lagi. Dengan demikian, akses perputaran uang di desa ini sangat ditentukan oleh musim dan menjadi indikator penghambat dalam laju pembangunan masyarakat modern.

Kampung Riang Padu dimekarkan dari desa induk pada tahun 2010. Sebelum dimekarkan menjadi sebuah desa defenitif, kampung Riang Padu merupakan sebuah dusun dari Desa Pajinian dengan pusat pemerintahan desa di Kenari Belolong.

Riang Padu memiliki letak geografis dengan batas-batas sebagai berikut: Utara berbatasan dengan dengan Desa Ilepati, Selatan berbatasan dengan Desa Hurung, Timur berbatasan dengan Desa Danibao, Barat berbatasan dengan Desa Wolo Klibang.

Jumlah penduduk yang mendiami desa ini berjumlah 328 jiwa yang terdiri dari 68 kepala keluarga.

Pemerintahan Desa Riang Padu baru berjalan dua peride dimulai pada tahun 2010 dengan Kepala Desa Agustinus Geroda dengan masa kepemimpinan sampai pada tahun 2017. Dan pada periode kedua mulai dari tahun 2017 sampai tahun 2023 di nahkodai oleh Alexander Daut Boli.

Dengan tingkat kepekaan yang tinggi dari Kepala Desa, Alexader Daut Boli dalam melihat lahan subur dan dapat dimaanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman.

Kenapa tidak diupayakan tanam jenis baru yang harus didatangkan untuk masyarakat? Mulai dari zaman nenek moyang hingga saat ini,tanaman hasil komoditi yang mendominasi di Desa Riang Padu, yakni: kemiri, Pinang, mente, kakao, kelapa dan sebagian memiliki cengkeh.

Dari hasil komoditi ini, namun ada beberapa anakan yang merupakan komoditi masyarakat yang belum pernah ditanam oleh masyarakat adalah pala. Dan tanaman ini merupakan salah satu jenis tanaman baru yang ditanam oleh masyarakat Desa Riang Padu diawal tahun 2019.

Pada masa kepemimpinan Alexander Daut Boli, atau biasa disapa Daut membuat salah satu program terobosan desa yang canangkan pada tahun 2018 silam, yaitu mendatangkan anakan pala untuk masyarakat. Pemerintah desa membuat proposal dan mengajukannya pada Pemerintah Kabupaten Flores Timur pada Dinas Pertanian.

Alhasil, proposal yang diajukan mendapat respon baik dari pemerintah Kabupaten Flores Timur. Dan pada tahun 2018 silam Dinas Pertanian Kabupaten Flores Timur meluncurkan anakan Pala sebanyak 6.000 anakan, untuk masyarakat Desa Riang Padu.

Dari 6.000 anakan pala itu, kemudian dibagikan kepada masyarakat pada penghujung tahun 2018 untuk ditanam oleh masyarakat dengan jumlah anakan per kepala keluarga sebanyak 70 anakan, tutur Daut dalam sapaan keseharianya. Daut pun menyampaikan kepada semua masyarakat bahwa anakan pala yang dibagikan harus ditanam pada musim hujan tahun 2019, merawat sampai membuahkan hasil.

Ini akan menjadi sebuah kenangan bagi generasi akan datang bahwa tanaman ini adalah sumbangan Pemerintah kabupaten Flores Timur dalam hal ini Dinas Pertanian secara percuma kepada masyarakat Desa Riang Padu, tutur Kepala Desa Alexander Daut Boli, disela-sela senda gurau, Minggu(27/01/2019).

Diawal musim hujan Desember 2018 lalu, sebagian anakan pala sudah ditanam oleh masyarakat. Dalam hasil pantauan kepala desa bersama aparat desa menjelaskan bahwa sudah mencapai 90% anakan pala sudah ditanam oleh masyarakat. Kendati demikan, lagi 10% belum ditanakam oleh masyarakat dikarenakan kesibukan dalam urusan-urusan yang tentu tidak bisa dibatalkan.

“Namun, bukan menjadi sebuah penghalang bagi pemerintah desa untuk terus memberikan motivasi kepada masyarakat dalam proses menanan anakan pala sampai selesai, merawat hingga menghasilkan buah,” Alexander Daut Boli.

Daut juga meyakini bahwa masyarakatnya akan bekerja maksimal dalam upaya melestarikan alam dengan menanam berbagai tanaman pada musim hujan sebagai cinta akan kelestarian lingkungan.

Dalam upaya pemerintah ini dan tingkat respons masyarakat yang tinggi, maka pemerintah semestinya melihat kebutuhan-kebutuhan yang dapat meningkatkan kesejateraan masyarakat. Dengan sebuah gebrakan menanam 6.000 anakan pala ini juga merupakan bagian dari melesrikan bumi.

Karena itu, pemerintah kabupaten tentunya mempunyai sebuah regulasi yang bersifat mengikat masyarakat dalam upaya menanam, merawat hingga besar. Misalnya, Pemerintah Kabupaten Flores Timur dalam hal ini Dinas Pertanian, akan melakukan pengecekan di lokasi-lokasi yang sudah ditanam atau memantau melalui pemerintah desa setempat. Melaui bantuan Pemerintah Kabupaten Flores Timur, dalam hal ini Dinas Pertanian saat ini dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Riang Padu dikemudian hari. Semoga!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *