Namanya Lena

oleh
Model Ellen Legon. (Sudah ada persetujuan pemilik foto dengan penulis)

Oleh : Remigius Nahal

Aku melihatnya pertama kali di tengah kerumunan massa. Saat ribuan mata sedang terpanah ke satu titik. Mata laki-laki dan perempuan. Dari yang tua sampai anak-anak.

Di pelataran rumah besar yang dihuni oleh beberapa kepala keluarga ada kemah yang atapnya dari terpal berwarna hijau dan kuning sebagai tambahan karena kekurangan zink yang menjadi atapnya. Dinding dari papan yang dijepit oleh belahan bambu diikat kencang dengan tali rafia. Sedangkan lantainya terbuat dari papan-papan tebal yang mirip dengan lempengan tembaga. Keras dan jika diangkat, harus digotong oleh dua orang.

Di tengah halaman kampung yang datar itu ada orang berjejer menyerupai pasukan yang akan memperagakan latihan baris berbaris. Pakaian warna warni melilit tubuh mereka. Yang pria mengenakan penutup kepala menyerupai blangkon. Mereka juga mengenakan baju putih, selendang menyilang di tubuh, serta mengenakan sarung songket dan pinggang diikat.

Di baris yang lain, berjejer juga para wanita. Mereka menyerupai pengantin yang akan menyelenggarakan pertunangan. Itu tergambar jelas dari pakaian yang mereka kenakan. Tangan meliur-liur.

Terlihat, hentak kaki mereka seakan seragam mengikuti irama bunyian gong dan gendang yang terdengar begitu syahdu menghilangkan rasa dahaga bercampur panasnya terik matahari hari.

Hari ini adalah hari kedua dari pagelaran itu. Kemarin pembukaannya. Dan besok adalah puncaknya. Ritual itu mengorbankan seekor kerbau putih untuk dipersembahkan kepada roh nenek moyang.

“Itu siapa?” Sahutku sembari menunjuk ke arah sosok itu.

Dua kali aku menanyakan kepada Gius namun ia tidak menyahut. Tetap menatap ke depan. Bulir bola matanya terlihat menyelinap ke kanan dan kiri. Kepulan asap menyembur keluar dari dalam mulutnya. Dia peminat rokok DJitoe.

“Oe…Jawab?” teriakku sambil memukul pahanya.

Dia terkaget. Menyela napas. Sambil tangan menuju dua kuping. Astaga, Gius tampaknya sambil mendengarkan musik yang dialihkan dari HP Samsung yang belum android. Airphone berkabel putih itu langsung ia selipkan ke arah saku jaket levis yang dikenakan.

“Mohon maaf, saya tidak dengar. Bilang apa tadi?” jawabnya sembari memindahkan posisi duduk.

Hari semakin terik. Suasana semakin ramai. Para pemuda dan pemudi di kampung ikut terlarut suasana. Sebagiannya hanya menjadi penonton dan sebagiannya lagi ikut terlibat di dalam pagelaran maha besar ini.

“Biar sudah,” jawabku singkat.

Pandanganku kembali tertuju ke arah sebelah sana untuk mencari sosok yang dimaksud. Aku berubah sibuk, mata kembali hilir mudik dari sudut ke sudut di antara barisan para wanita yang sedang mengayunkan tangan menari-nari.

Dia tampaknya sudah menghilang. Entah ke mana. Mungkin istirahat. Memang saat itu sinar matahari mencekam. Panasnya menyengat menembus kulit.

Aku kebingungan. Antara mau mencari dia atau mengikuti seorang lelaki paruh baya yang mengajakku bersama Gius bertandang ke rumahnya untuk makan siang.

“Aduh, dia sudah menghilang. Gara-gara kau,” hardikku kesal.

“Memangnya kenapa,” timpal Gius.

“Biar sudah,” jawabku berlalu. Angkat kaki dan pergi bersama bapak tua itu menuju rumahnya.

Dendangan lagu-lagu adat terus dikumandangkan dari pusat kampung itu. Tak terasa hari menjemput sorenya. Semarak ritual untuk hari itu sebentar lagi berlalu.

Aku kembali terjerumus ke sosok itu. Anggunnya saat ia kenakan kebaya. Ditambah juga dengan dandanan yang pas-pasan, cukup menarik perhatian diriku yang lagi jatuh terpingkal-pingkal oleh lenggokkan tubuhnya yang semampai bagaikan nona-nona Melayu. Kulitnya putih. Wajahnya oval. Bagiku dia tiada duanya jika kubandingi dengan wanita yang sempat aku kenal beberapa waktu lalu.

Di rumah bapak tua itu, aku kembali membayangkan gerak-gerik tubuhnya mengikuti irama gong dan gendang. Goyangan pinggulnya yang dibalut oleh kain songket sungguh memukau. Senyuman bertebaran keluar dari raut mukanya. Aku terkesiap. Ah, dia sungguh luar biasa. Asalnya dari mana. Apakah anak asli kampung sini. Kalau benaran anak sini, rumahnya di mana aku harus mencari tahunya. Begitulah pembicaraaku dalam hati.

Malam hari bulan purnama menyinari seluruh penjuru. Lalu lalang warga tak terbendung. Nyanyian-nyanyian dari setiap rumah warga yang bersebelahan seakan berlomba. Di rumah besar, alunan gong dan gendang terus berdendang. Halaman kampung masih tampak riak. Anak-anak, para orang tua dan kawula muda berkumpul. Di rumah Bibiku acara serupa seperti di rumah tetangga sebelahnya juga sedang berlangsung.

Namanya Rino, anak semata wayang dari Bibiku yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama sempat berbincang-bincang saat makan malam bahwa di depan rumah besar ada latihan menari untuk anak-anak dan yang muda juga bisa ikut.

Dia pun mengajakku untuk sama-sama menuju ke rumah besar. Aku sebenarnya merasa malas untuk ikut bersamanya. Sebenarnya bukan karena malas, namun aku merasa malu. Aku orang baru di sini
Karena terus dipaksakan aku pun mengikuti ajakan Rino.

Semakin dekat ke rumah besar terdengar bunyian gong dan gendang semakin kencang. Terlihat di halaman anak-anak sedang melakukan latihan menari. Di bawah kemah segerombolan pemuda kampung sedang asyik bercengkerama. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sesekali letupan ketawa terbahak-bahak menyeruak dari dalam gerombolan itu. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Sedangkan Rino sudah ikut bergabung di dalam barisan untuk mulai menari.

Mataku terpukau, seakan tak percaya. Bagaikan disambar halilintar tubuhku berubah canggung bercampur syukur. Entah apa yang terjadi, sosok itu tiba-tiba menohok nadiku yang sementara tentram mengalir. Dia, gadis yang tadi siang aku lihat muncul tepat di depan barisan anak-anak. Lenggokkannya semakin menyun. Ternyata dia adalah pelatih anak- anak itu.

Rino kembali menghampiriku sambil terengah-engah.

“Kaka, capek,” sahutnya dengan kening mengerut.

“Istirahat dulu kalau gitu,” jawabku.

“Oh, ya. Siapa nama pelatih kamu itu No,” tanyaku membuka rasa penasaran yang dari tadi terpendam.

“Oh, Kaka yang itu, (sambil menunjuk). Namanya Kak Lena. Dia anaknya pak Kades sini. Cie…Kaka suka ya,” jawab Rino sembari ketawa.

“Ah, apaan sih kamu No. Aku cuman nanya,” jawabku.

Aku sebenarnya senang dengan ucapan Rino yang terakhir. Memang, itulah rasa yang sedang bermekaran di dalam jiwaku saat ini.

“Oh, ya No. Bisa minta tolong nggak.”

“Untuk apa kak,” jawab Rino.

“Aku boleh gabung enggak ikutan latih menari. Biar tidak sendiri duduk di sini.”

“Boleh kok kak. Ayo, kita ikutan gabung di sana sekarang,” ajak Rino.

“Yes. Ini kesempatanku untuk bisa mendekatinya. Sosok yang telaherasuk hasratku,” gumamku dalam hati.

***
Malam ini, dia telah menjadi bintang. Semenjak pertama kali aku melihatnya tadi, dia mulai tinggal di dalam benak dan pikiranku, serta telah menguasai hatiku yang sangat rindu ingin berkenalan lebih dalam.

Saat itu aku sedikit tersipu malu. Untung, bukan hanya aku yang ikut tergabung. Segerombolan pemuda kampung yang dari tadi cengengesan tertawa tidak karuan ikut juga dalam barisan kami. Walaupun agak sedikit jengkel oleh kehadiran mereka namun diriku tetap larut dalam bentara itu. Ini adalah kesempatanku untuk melihatnya lebih dekat secara saksama.

Dari pandangan yang terdekat itu, aku bisa melihatnya dengan buas. Kami semua yang ada di belakangnya mengikuti sentakan gerak yang ia peragakan. Khusus diriku, jujur, aku sangat terkesima.

“Baik, sampai di sini dulu Yach. Sekarang sudah malam. Dan latihannya uda cukup,” ujarnya sembari merapikan rambut yang dari tadi sedikit berai oleh gerakan tubuh.

Aku semakin yakin untuk memberanikan diri berjabat tangan dengannya. Aku sudah siap secara lahir maupun batin. Apa pun yang akan terjadi.

“Hai, Ade nona. Kenalan dulu. Namaku Yere,” ucapku sembari dag-dig-dug.

“Oh, ya kaka. Aku Lena,” suaranya kalem lembut beraturan.

“Kamu jago sekali menari. Pantas dan layak jika saat ini aku boleh mengatakan, Ade nona adalah sosok yang patut dijadikan contoh oleh anak-anak di kampung ini,” sahutku memberi pujian kepadanya.

“Ah, kaka ini bisa aja. Kan kita sebagai anak muda harus bisa dan menjadi kewajiban dan tanggung jawab untuk melestarikan adat istiadat kita,” jawab Lena dengan nada tegasnya yang dicampur tatapan penuh makna ke arahku.

“Oh ia, kamu masih kuliah atau uda tamat,” tanyaku sengaja untuk mengikis sedikit rasa penasaran yang tertuang di hati.

“Saya kuliah di IKIP PGRI Bali, Jurusan SENDARATASIK. Sekarang kan uda libur. Ya, secara kebetulan di kampung kami ada acara adat. Dari pada tidak bisa berbuat apa-apa mendingan ajar in adik-adik ini untuk menari,” jawab Lena dengan senyuman yang lembut.

Keinginanku untuk bisa melampiaskan dahaga rasa yang terus saja bergelora di dalam hati semakin tak canggung. Dan ingin sekali rasanya untuk mengungkapkan apa sebenarnya yang ada. Jujur, semenjak tadi siang itu benih-benih cinta itu sudah mulai bertumbuh.

“Pantasan, ternyata ini bidangmu. Saya salut dengan kamu. Masih ada rasa untuk terus melestarikan adat budaya kita,” jawabku dengan nada datar berirama meyakinkan Lena. Gadis yang terus merasuk anganku untuk menyatakan perasaan.

“Ngomong-ngomong, kamu orang baru yang di sini. Kamu dari mana?”

“Ia. Saya datang libur di Bibiku. Tau Rino kan? Mamanya Rino adalah saudari kandung dari ayahku. Jadi ya, kemarin saya diajak ke sini. Kata mamanya Rino di sini akan ada pagelaran adat. Saya ingin juga menyaksikannya. Eh, tahunya ketemu kamu deh. Memang ya, Tuhan itu punya cara tersendiri buat umatnya.”

Raut muka Lena berubah. Tatapannya semakin sayup. Dan binar matanya jeda tepat di retina mataku yang dari tadi tak puas melihat wajahnya yang memesona.

“Ngomong apa sih,” jawabnya berlalu dan ingin dijawab secara tegas olehku. Itu terlihat dari gerak-geriknya yang semakin menarik perhatianku.

Aku tak mau buang waktu. Toh, kalau dia-nya mau bersyukur. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Inilah saatku yang diberikan Tuhan. Saya yakin Tuhan yang mengatur semuanya ini.

“Lena jujur. Saat tadi siang aku sudah melihatmu. Aku melihatmu secara saksama dan dalam tempo yang cukup lama. Aku terpukau oleh setiap lenggokkan yang engkau pertontonkan. Sekali lagi jujur, aku melihatmu bagai melihat pelangi di tengah rintik hujan, kau benar-benar mengalihkan pandanganku. Bolehkah aku menyatakan perasaanku kepadamu. Itu pun jika dirimu berkenan Lena.”

Lena tak bersuara. Setalah aku mengucapkan itu. Aku juga diam. Yang ada hanya anggukan yang tak berkode dari Lena . Aku juga bingung. Antara jawab ya atau tidak dari gerakan yang melingkupi Lena saat itu.

“Bohong,” jawab Lena singkat.

Aku pun kembali meyakini bahwa apa yang kuucapkan benar adanya. Semuanya tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam.

“Hadirmu seperti mentari yang menyambut pagi, menghangatkan hatiku yang dingin melewati malam yang sepi. Ijin kan aku bersemangat di hatimu. Lena, cinta tak bisa melihat, maka dari itu cinta tak pernah memilih untuk menghampiri. Seperti kini cinta dihatiku telah tumbuh untuk kupersembahkan untukmu si pencuri hatiku.”

Lena terpukau oleh keyakinan tulus yang aku ucapkan. Dia tak banyak berkata. Hanya menjawab, ” Kaka terima kasih. Jika niatmu benar. Bertandang ke rumahku besok pagi. Dan ingat, besok, kau dan aku harus sama-sama menari di halaman ini. Aku yakin kau bisa. Dan aku ingin melihatmu menari.

Besoknya aku pun mengiyakan penawarannya. Aku menari bersamanya. Kami larut bersama dalam hajatan itu. Lena dan aku akhirnya menjadi sepasang kekasih yang menurutku di Ridhoi oleh nenek moyang mereka. ***

*) Penulis adalah Pecinta Kopi Manggarai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *