Beranda Sastra Bunga Yang Binasa

Bunga Yang Binasa

498 views
1
Bunga Mawar. (Sumber foto Islam Kafah)

Oleh: Vinsensius Lado
Guru SMPK. Phaladhya Waiwerang

Ketika Bunga berusia tiga tahun lebih, saat pertama kali dia mulai mengenal semua huruf dan mampu merangkai huruf dengan huruf, kata dengan kata dan akirnya Bunga mampu menulis menjadi sebuah kalimat. Ketika Bunga sudah mampu menulis menjadi sebuah kalimat, dia pernah menulis dalam sebuah lembaran usang” Aku akan menggantungkan cita-citaku setinggi langit dan harus menggapai cita-cita itu. Ketika aku sudah menggapai cita-cita itu aku akan merendakan diriku seperti mutiara di dasar lautan .” Itulah kisah awal Bunga dalam merajut sebuah mimpi yang besar.

Kehidupan bunga sangat berkecukupan. Apalagi Bunga adalah anak semata wayang dari sebuah keluarga kecil. Indah memang kehidupan Bunga saat itu. Ketika beranjak lima tahunan Bunga memasuki sebuah sekolah Tanam Kanan-Kanan di desanya. Setalah tamat Bunga melanjutkan pendidikan Sekolah Dasar dan sampai Usia enam belas tahun, Bunga menamatkan pendidikan pada tinggkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

Setelah tamat di Tingkat SMA bunga tidak kewalahan soal pembiayan pendidikan lanjutan di perguruan tinggi. Bunga memang bahagia saat itu bahakan ditawarkan oleh orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Tawaran itu tidak diindahkan oleh Bunga, karena Bunga berpikir untuk tidak jauh dengan orang tuanya di kampung halaman.

Mondar mandir ke kota untuk mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa. Gelak tawa terdengar di mana-mana. Kesuksesan akan diraih dikemudian hari. Tawa riuh kembali memecahkan malam sunyi itu. Bunga pun selalu terpesona dengan kata-kata teman-temannya itu.

Bunga mendaftarkan dirinya pada beberapa universitas di kota. Seleksi masuk pun diikuti dengan baik oleh Bunga. Setelah mengikuti seleksi, disampaikan dari semua perguruan tinggi bahwa seminggu kemudian, pengumuman kelulusan akan disampaikan oleh pihak universitas.

Seminggu kemudian, pengumuman kelulusan pun disampaikan oleh pihak Universitas. Bunga dinyatakan lulus seleksi pada Program Studi Matematika dan siap untuk memasukan semua berkas serta registrasi tahap satu. Semuanya dilakukan dengan baik oleh Bunga. Setelah semua urusan selesai Bunga pulang ke kampung halaman untuk menyampaikan kepada orang tuanya bahwa dia sudah diterima di sebuah perguruan tinggi.

Keesokan hari, Bunga akan berangkat ke kota untuk mulai melanjutkan pendidikannya. Mentari condong ke barat. Warna jingga merekah dan tak lama sang mentari akan kembali keperaduannya. Si jago mulai bernotasi malam akan datang. Ketika malam semua keluarga Bunga mulai berkumpul bersama di rumah Bunga. Mereka bersuka ria dan bercanda tawa, bahwa keesokan harinya Bunga akan pergi mengais rezeki di perguruan tinggi dan kelak akan sukses menjadi orang kebanggan dalam keluarga dan kampung halamannya.

Keesokan harinya Bunga pun berangkat meninggalkan kedua orang tuanya, dan keluarga besar di kampung halaman. Ada canda tawa, tangis histeris mengiringi kepergian Bunga seorang diri untuk melangkah ke kota nan amat jauh. Kepedihan terlukis jelas pada wajah sang Ibunda. Semua itu hanya lukisan ratapan rasa iba seorang Ibu pada Bunga. Selangkah demi selangkah akhirnya Bunga menjauh dan siran dari pandangan ke dua orang tuanya.

Pada semester pertama Bunga menjalankan perkuliah serperti biasa. Bunga masih kelihat polos dan masih kentara anak desa. Kehidupan kota memang sangat memengaruhi kehidupan Bunga saat ini. Bunga berubah seiring pergaulan kota yang menjajikan kenikmatan duniawai. Semua urusan perkuliahan diabaikan. Susah. Bosan dengan hal-hal perkuliahan, kata Bunga berkali-kali kepada teman-temannya ketika ditanya. “ Aku tidak mau kuliah lagi,” kata Bunga sekali lagi. “ Aku mau hidup bebas, hidup sebagai perempuan malam jauh lebih nikmat” tegasnya. “Hidup di diskotik, tempat-tempat hiburan malam jauh lebih romantis,” kata Bunga dengan gelak tawa memecahkan kesunyian tempo itu.

Khabar tentang keberadaan Bunga di kota saat ini pun disampaikan kepada orang tua Bunga di kampung halamannya. Mendengar berita itu, orang tua Bunga tidak percaya dengan kabar burung itu. Mereka percaya Bunga tidak melakukan hal-hal itu.

Hari berganti hari, bulan dan tahun pun demikian,kini di penghujung bulan liburan sementer empat. Semua mahasiswa dan pelajar dari kota pulang ke kampung halaman. Semuanya pada bersuka cita dapat bertemu dengan orang di kampung halaman. Saat ini Bunga rasa gelisa,cemas dan takut berbaur jadi satu dalam diri Bunga. Apa yang harus kulakukan saat ini, kata Bunga dalam hati senja itu. Dengan rasa nekat, Bunga terpaksa kembali ke kampung halamannya. Sesampinya di kampung Bunga diterima dengan rasa bangga dan bahagia oleh orang tuanya.

Hari terus berlalu minggu dan bulan pun demikian. Kini tibalah saatnya semua mahasiswa dan pelajar harus kembali ke kota untuk melanjutkan perkuliahannya. Bunga masih dikampung. Suatu malam ketika sedang makan bersama dengan orang tuanya, bunga hanya meneteskan air mata.

Peristiwa ini membingungkan kedua orang tuanya. Apa yang terjadi dengan Bunga saat ini. Akirnya, kedua orang tuanya membujuk dan bertanya apa yang terjdi pada diri Bunga. Mereka pun bertanya hal itu kepada Bunga. Dengan suara terbata-bata dan linangan iar mata yang terus mengalir di pipi, Bunga berbisik kepada Ibunya, Aku sedang Hamil.

Mendengar jawaban itu,kedua orang tuanyanya hanya berpasrah kepada Tuhan. Dan kini Bunga tinggal bersama kedua orang tuanya di kampung dan hidup menjanda karena tidak seorang laki-laki pun yang bertanggung jawab atas kehamilan Bunga. Kenyataan pahit ini menjadi buah bibir masyarakat setempat dalam hari-hari belakangan ini. (*)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here