Pidato Perdana Bupati Matim dan Politics of Friendship

oleh
Alfred Tuname, Penulis Buku “le politique” (2018) (Foto: DOK. Pribadi)

Oleh Alfred Tuname

Pidato perdana merupakan pidato resmi bupati dan wakil bupati di hadapan segenap lapisan masyarakat. Rujukannya, Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor SE.162/3484/OTDA yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2010. Atas dasar itulah Sidang Paripurna Istimewa mendengarkan Pidato Perdana digelar.

Di Kabupaten Manggarai Timur, Sidang Paripurna Istimewa pada tanggal 28 Februari 2019. Ruang sidang DPRD Kabupaten Manggarai (Matim) dipenuhi para anggota dewan terhormat dan berbagai lapisan masyarakat. Mereka mendengarkan isi pidato Bupati Agas Andreas, SH., M.Hum dengan penuh khidmat.

Sederhananya, pidato perdana bupati Manggarai Timur terdiri dari kerangka salam, ajakan, jabaran Matim Seber dan audacity of hope. Esensinya, ada tekad bersama untuk membangun masyarakat Manggarai Timur yang lebih baik dalam kepemimpinan Bupati Agas Andreas, SH., M.Hum dan Wakil Bupati Drs. Jaghur Stefanus.

Tesisnya, Manggarai Timur akan menjadi lebih baik apabila semua masyarakat bersatu dan bekerja sama. Bersatu berarti melepas semua luka traumatik politik Pilkada Matim 2018; bekerja sama berarti melepas ego (sektoral, primordial, politik, dll) untuk berpikir dan bertindak demi kepentingan publik.

“Manggarai Timur butuh tangan, pikiran dan hati kita semua biar seayun, searah dan satu rasa mewujudkan cita-cita bersama; biar “sekali mendayung, dua-tiga pulau visi-misi kita terlampaui”. Ungkapan metaforik pidato bupati Matim itu dengan sendirinya bermakna politik persahabatan, politics of friendship.

Dengan politics of friendship itu, urusan politik kekuasaan di Pilkada sudah selesai. Traumanya tak perlu dibawa-bawa; eforia pun tak perlu dikaliberasi. Pilkada Matim telah melahirkan pemimpin yang amanah. Dan, kekuasaan itu sudah ada dan akan dirayakan demi kebaikan bersama.

Politics of friendship itu bisa maknai sebagai “meterai” politik pembangunan Matim yang akan datang. Rasa persahabatan yang menjiwai politik Matim akan berujung pada pembangunan yang berkeadilan. Distribusi keadilan hanya bisa terjadi apabila semua pihak ambil bagian dalam kerja pembangunan.

Oleh karena itu, pidato perdana bupati Manggarai Timur sejatinya adalah maklumat politik untuk bekerja sama tanpa beban politik Pilkada. “Lawan-lawan” politik tak perlu “mencari muka”. Sebab dengan adanya politics of friendship, “dosamu telah diampuni”. Politics of friendship itu politik menghapus “lawan” menjadi “kawan”.

Karena politik pembangunan itu adalah urusan bersama maka bekerja sama dengan rasa persahabatan itu menjadi urgen. Mengurus Manggarai Timur yang berlimpah persoalannya itu tidak gampang. Perlu ada kerja sama semua pihak. Di sinilah, politics of friendsip itu bekerja. Kita ingat kata Cicero, “amicus certus in re incerta cernitur” (sahabat sejati dikenal dalam hal yang sulit).  

Benar kata Bupati Agas Andreas, “Manggarai Timur itu bukan lagi tentang Andreas Agas dan Stefanus Jaghur; Manggarai Timur itu tentang kita semua yang memberi hati, pikiran dan keringat demi cita-cita mulia bersama: Matim Seber (=Manggarai Timur yang sejahtera, berdaya dan berbudaya)”. Seperti Cicero, “amicus certus” itu memberikan hati, pikiran dan keringat untuk membenahi semua persoalan Matim secara bersama-sama.

Dalam birokrasi, pilihan untuk menjadi “amicus certus” bukan dengan cara merebut posisi atau jabatan, tetapi dengan paham dan melaksanakan visi dan misi bupati dan wakil bupati Matim.

Merebut jabatan atau posisi bukanlah sikap “amicus certus”, tetapi berpotensi jadi “Brutus”. Kata Gore Vidal, “there is something about a bureaucrat that does not like a poem”. Birokrat itu berada dalam alur prosa, yakni kerja dalam satu suara, bukan polifonik.     

Karenannya, mutasi atau promosi jabatan dimengerti sebagai cara “mengamankan” visi dan misi tersebut. Kapal Manggarai Timur tidak akan sampai ke pelabuhan visi-misi apabila “ABK” tidak paham arah angin dan titah nahkoda. Artinya, kerja birokrat harus “in tune with” visi-misi bupati dan wakil bupati Matim.

Dalam pidatonya, bupati juga meminta partisipasi publik. Partisipasi itu dalam bentuk mengafirmasi program-program pemerintah dan mengawasi kerja pemerintah. Keterlibatan masyarakat, LSM dan pers diperlukan dalam konteks mengaktifkan demokrasi yang deliberatif.

Deliberasi (Latin:menimbang-nimbang, konsultasi) hanya dapat terjadi bila ada komunikasi dialogis; komunikasi dalam rasa persahabatan. Deliberasi akan deadlock bila ada komunikasi yang konfrontatif; komunikasi dengan belenggu permusuhan.

Deliberasi tidak berarti menghilangkan perbedaan gagasan, ide, dll. Justru dialektika perbedaan itu menjadi bumbu racikan untuk memasak menu keadilan bagi masyarakat Manggarai Timur seluruhnya. Keadilan pembangunan itu bukan soal porsi menu yang sama, tetapi soal porsi yang sesuai kebutuhan. Di sini, skema prioritas pun menjadi pendekatan kebijakan yang adil dalam proses pembangunan Matim.

Tugas berat itu sudah ada di depan mata. Tangan harus bergerak, langkah mesti dipercepat dan pikiran perlu seirama. Selamat bekerja mewujudkan Matim Seber!!!

*)Penulis Buku “le politique” 2018

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *