Citra Guru Pelaksana Kurikulum Sekolah (Refleksi Hardiknas 2 Mei 2019)

oleh
Ilustrasi (Foto: Istimewa/kopertis3.or.id)

Saveridus Naur, S.Pd*

Dewasa ini, dunia kita ditandai oleh perubahan-perubahan yang sangat cepat dan bersifat global. Hal ini diakibatkan oleh perkembangan ilmu dan tekhnologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang komunikasi dan elektronika. Perkembangan dalam bidang ini telah mengakibatkan revolusi informasi. Sejumlah besar informasi, hampir mengenai semua bidang kehidupan dari semua tempat. Semua aspek dan kegiatan telah terhimpun, terolah, tersimpan, dan tersebarkan. Secara terbuka, setiap saat informasi tersebut dapat diakses, dibaca, serta disaksikan oleh setiap orang, terutama melalui internet, media cetak, dan televisi.

Revolusi informasi telah mengakibatkan dunia menjadi semakin terbuka, menghilangkan batas-batas geografis, administratif-yuridis, politis, dan sosial budaya. Masyarakat global, masyarakat teknologis, ataupun masyarakat informasi yang bersifat terbuka, berubah sangat cepat dalam memberikan tuntutan, tantangan, bahkan ancaman-ancaman baru.

Pada abad sekarang ini, manusia-manusia dituntut berusaha untuk tahu banyak (“knowing much”), berbuat banyak (“doing much”), mencapai keunggulan (“being excellence”), menjalin hubungan dan kerja sama dengan orang lain (”being sociable”), serta berusaha memegang teguh nilai-nilai moral (“being morally”). Manusia- manusia “unggul, bermoral, dan pekerja keras” inilah yang menjadi tuntutan dari masyarakat global. Manusia-manusia seperti ini akan mampu berkompetensi kapanpun dan dimana saja berada.

Yang menjadi pertanyaan reflektifnya ialah, siapakah dan dimanakah yang lebih tepat bertanggung jawab dalam menghasilkan manusia-manusia yang unggul, bermoral, dan pekerja keras tersebut dalam era masyarakat global saat ini? Tentu pertanyaan ini hanya bisa dijawab apabila tugas dan tanggung jawab tersebut diserahkan ke guru dan sekolah sebagai tempat terpaannya. Karena melalui bimbingan seorang guru di lingkungan pendidikan di sekolah seseorang akan diterpa menjadi manusia yang unggul, bermoral dan pekerja keras.

Memang tanggung jawab yang diberikan pada guru sungguh berat rasanya. Guru menjadi ujung tombak dalam membina seseorang menjadi manusia yang berkualitas. Melalui didikan seorang guru telah banyak melahirkan anak-anak bangsa yang cerdas dan menguasai dunia. Guru yang membuat orang biasa menjadi pintar, guru yang mencetak para pemimpin bangsa.

Dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, disebutkan bahwa, “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Guru bagi Macmillan ialah, “Someone who other people respect and go to for advice about a particular subject”. Guru adalah seorang yang dihormati dan tempat meminta nasihat untuk permasalahan-permasalah tertentu. Guru merupakan profesi yang luhur dan mulia. Guru merupakan salah satu komponen penting dalam lembaga pendidikan khususnya sekolah. Karena proses membangun kecerdasan bangsa adalah melalui peningkatan mutu pendidikan yang landasan utamanya adalah ada pada faktor guru.

Guru merupakan unsur manusiawi yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Keberadaan guru sangat menentukan keberhasilan dunia pendidikan. Jika disarankan untuk memilih satu diantara dua pilihan dalam ruang pendidikan, yaitu sarana  yang lengkap atau guru yang kreatif dan profesional, posisi bargaining guru lebih tinggi daripada sarana.

Kualitas pendidikan sangat tergantung pada kualitas pendidiknya dalam hal ini guru. Guru menjadi kunci perkembangan kualitas pendidikan. Melalui peningkatan kualitas guru, maka akan menjadikan kualitas pendidikan semakin baik. Karena sesungguhnya kualitas seorang guru bisa ditinjau dari dua segi,  segi proses dan  segi hasil. Dari segi proses guru dikatakan berkualitas apabilah berhasil menjadikan semua ruang lingkup dalam lingkungan pendidikan sekolah untuk selalu terlibat aktif dalam setiap proses pembelajaran pendidikan.

Guru selalu menjadikan peserta didik sebagai subjek utama dalam proses pembelajaran. Guru membimbing, mengarah peserta didik untuk selalu terlibat aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran. Sedangkan dari segi hasil, guru dikatakan berhasil apabila pembelajaran yang diberikannya mampu mengubah perilaku sebagian besar peserta didik ke arah yang lebih baik. Melalui hasil, guru mampu merubah peserta didik menjadi anak bangsa yang siap berkompetensi di ruang apapun. Sehingga cita-cita untuk menghasilkan manusia yang unggul, bermoral, dan pekerja keras pada masyarakat global akan terwujud apabilah guru dengan sungguh-sungguh mendidik dengan hati yang pada akhirnya melahirkan potensi.

Guru menjadi faktor penentu dalam suksesnya pelaksana kurikulum pendidikan dalam sekolah. Karena sesungguhnya seorang guru yang profesional dalam Undang-undang Guru  dan Dosen menekankan bahwa guru memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogis (kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya), kompetensi professional (penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya), kompetensi sosial (kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali dan masyarakat sekitar, dan kompetensi keperibadian (kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawah, menjadi teladan dan berakhlak mulia. Keprofesionalan seorang guru bisa diukur melalui kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kurikulum pendidikan dalam lingkungan sekolah. Guru merupakan pelaksana kurikulum sekolah. Inilah yang merupakan salah satu persyaratan menjadi guru profesional.

Pertanyaan lanjutannya bagaimanakah citra guru sebagai pelaksana kurikulum sekolah?. pertanyaan ini menjadi persoalan pelik bagi semuanya. Mengapa demikian, karena sesungguhnya dalam ruang lingkup pendidikan hari ini, guru hanya dijadikan sebagai pelaksa kurikulum sekolah bukan menjadi  pembuat kurikulum sekolah. Guru hanya dijadikan objek kurikulum. Ini terpatri dalam sejarah kurikulum pendidikan kita. Sejak kurikulum 1984 sampai dengan saat ini, posisi guru hanya dijadikan sebagai pelaksana kurikulum sekolah.

Namun sesungguhnya jika dilihat dari realitas perjalanan pendidikan hari ini, sebenarnya dalam proses pelaksanaan pendidikan keterlibatan guru harus menjadi prioritas utama dan terutama. Karena yang lebih memahami karakter pendidikan sesungguhnya ada pada para pelaku pendidikan dalam hal ini guru. Guru lebih memahami karakter peserta didik dan lingkungan pendidikan disetiap lembaga pengabdiannya. Sesungguhnya karakteristik dalam proses pendidikan disetiap wilayah pendidikan sangatlah tidak sama. Proses pendidikan yang ada di wilayah Jawa sangatlah berbeda dengan proses pendidikan yang ada di Aceh hingga Papua.

Citra seorang guru dalam menentukan keberhasilannya dalam menjalankan tugas sebagai pelaku pendidikan disetiap wilayah pendidikan yang diabdinya sangatlah tergantung pada karakter pendidikan yang terjadi pada lingkungan pendidikan masing-masing. Sebagai misal, guru yang mengabdi di pedalaman Papua yang penuh dengan keterbatasan sarana pendidikan sangatlah tidak mungkin dalam proses pendidikannya harus disamakan dengan guru yang ada di Jawa yang fasilitas pendidikannya sangatlah memadai.

Namun apa daya, pendidikan kita hari ini lebih menekankan pada proses pendidikan yang bersifat sentralistik. Kurikulum pendidikan yang ada disetiap satuan pendidikan telah didesain dan dibuat oleh pemerintah pusat sedangkan pelaku pendidikan khusunya guru hanya siap dan terima menjalankan kurikulum pendidikan tersebut. Guru hanya sebagai pelaksana kurikulum, bukan bagian pembuat kurikulum. Inilah realitas dalam dunia pendidikan kita saat ini.

Pertanyaan lanjutannya, apakah kita masih bertahan pada pola lama proses pendidikan kita dalam menjawab tantangan global yang penuh dengan keterbukaan saat ini? Pertanyaan ini menjadi dasar kegelisahan penulis sebagai salah satu pelaku pendidikan. Bagi penulis, untuk melahirkan manusia yang unggul, bermoral dan pekerja keras dalam tuntuntan masyarakat global, sangatlah penting untuk memperbaiki perombakkan manajemen pendidikan.

Pendidikan yang sebelumnya bersifat top down harus diganti dengan proses pendidikan yang bersifat button up. Begitupun dalam proses pembuatan kurikulum pendidikan, Jika kurikulum pendidikan sebelumnya bersifat sentralistik maka kita harus menggantinya dengan menjadikan guru sebagai faktor utama dalam menghasilkan kurikulum pendidikan. Salah satu cara menjadikan guru sebagai pelaku utama pembuatan kurikulum pendidikan ialah dengan menjadikan guru selalu terlibat aktif dari perencanaan sampai dengan pembuatan kurikulum pendidikan.

Keterlibatan guru bisa melalui musyawarah guru tingkat sekolah, tingkat kabupaten kota, tingkat provinsi sampai pada tingkat pusat. Karena melalui musyawarah guru dari tingkat sekolah sampai pada tingkat pusat maka akan menghasilkan gagasan-gagasan intelektual yang berbeda berdasarkan pengalaman didikannya disetiap wilayah pengabdiannya masing-masing. Gagasan-gagasan intelektual yang berbeda inilah yang bisa disatukan dan disamakan serta dituangkan dalam kurikulum pendidikan itu sendiri.

Perbedaan pengalaman didik dari setiap pelaku pendidikan di setiap wilayah pengabdian masing-masing akan menghasilkan sebuah rancangan proses pendidikan yang berkualitas yang bisa menjamin masa depan lembaga pendidikan menjadi lebih baik. Sehingga pendidikan yang bersifat desentralistik benar-benar dijalankan. Dan citra guru sebagai bagian dari proses pendidikan itu sendiri akan tercermin melalu hasil karya pendidikannya yang dituangkan dalam kurikulum pendidikan yang pada akhirnya akan kembali kepada dirinya sebagai pelaksana kurikulum pendidikan itu sendiri.

Ketika guru menjalankan kurikulum pendidikan berdasarkan hasil karyanya sendiri yakin dan percaya keprofesionalan akan terjamin dengan baik. Dan kualitas didikannya pasti baik. Disinilah pendidikan yang bersifat desentralistik, menjadikan guru bukan hanya sebagai objek kurikulum pendidikan melainkan juga sebagai subjek dalam kurikulum pendidikan itu sendiri.

Sedangkan posisi pemerintah pusat dalam kurikulum pendidikan hanya sebagai penyusun rambu-rambu dalam pembuatan kurikulum pendidikan itu sendiri. Hal ini bertujuan agar dalam proses penyusunan kurikulum pendidikan guru dapat mengikuti panduan yang yang ada. Di sini agar pemerintah pusat juga dapat mengukur tingkat ketercapaian dalam kurikulum pendidikan tersebut. Dan inilah yang seharusnya terjadi, dalam proses perjalanan ruang lingkup pendidikan pada era masyarakat global saat ini. Sehingga pada akhirnya, tuntutan dalam dunia pendidikan pada era masyarakat global yang membutuhkan manusia-manusia unggul, bermoral, dan pekerja keras pasti akan terjawab melalui karya tangan didikan seorang guru dari lingkungan sekolah.

Akhirnya, semoga di momen hari pendidikan nasional 2 mei 2019 menjadikan kita untuk saling merefleksikan diri terhadap perjalanan pendidikan kita, dan semoga guru selalu dijadikan yang terdepan dalam proses perjalanan pendidikan kita kedepan. Salam Selamat Hari  Pendidikan Nasional!

* Guru IPA SMPN 2 Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co. ]�$��c���

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *