Jokowi Adalah Kita Dan Kita Adalah Jokowi (bagian kedua)

oleh
Presiden Jokowi (Foto: istimewa/fajar.co.id)

Dionisius Ngeta*

Kita adalah Jokowi

Ketika menjadi  RI 1 bersama Jusuf Kala, Jokowi tidak berubah. Gaya Jokowi tetap seperti dahulu ketika ia sebagai wali kota Solo dan Gubernur DKI. Jabatan dan posisi tidak mengubah sikap dan gaya hidupnya. Posisi dan jabatannya adalah yang terberi dan sementara. Kesadaran akan hal ini menjadikan Jokowi tetap rendah hati dan menempatkan kepentingan rakyat di atas segala-galanya. Jokowi sadar bahwa ia hanyalah perpanjangan tangan untuk bekerja dan melayani kepentingan dan kebutuhan rakyat. Karena itu filosofi “Kerja, Kerja dan Kerja menjadi roh yang menjiwai seluruh karya pelayanannya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

Berbagai program dan besarnya alokasi dana pembangunan untuk kemajuan bangsa dan negara menujukkan bahwa Jokowi menempatkan kepentingan rakyat  di atas segala-galanya. Program mulai dari desa, daerah terluar dan terdepan dan alokasi dana desa yang terus meningkat dari tahun ke tahun merupakan indikator bahwa Jokowi mengutamakan kepentingan rakyat. Atau dengan kata lain, rakyat/kita masyarakat Indonesia menjadi subyek dan tujuan dari pembangunan dan keberadaannya sebagai presiden. Kunjungan dan kehadirannya  yang sering di berbagai daerah dari Sabang sampai Marauke, dari Rote sampai Sangihe Talaud adalah bukti bahwa Jokowi hadir untuk semua rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia ada di pikiran dan hatinya, Semua dirangkulnya. Semua diperhatikan. Semua dikunjunginya. Jadi, kita adalah Jokowi.

Kendatipun Jokowi bukan supermen dan jagoan Rambo, paling kurang ada beberapa pertimbangan rasional dan obyektif berdasarkan pengalaman dan kenyataan yang dialami rakyat Indonesia terutama masyarakat yang berada di wilayah-wilayah terluar,  terdepan dan di desa-desa sebagai efek dari filosofi pembangunan mulai dari desa, daerah terdepan dan terluar. Jokowi sungguh merasakan ketertinggalan dan ketimpangan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di daerah-daerah tersebut sebagai akibat dari pembangunan dan perhatian pemerintah pusat yang sangat sentralistrik-Jawa-is sebelumnya. Karena itu membuka konektivitas antara daerah seperti pembangunan jalan Trans Papua, Trans Kalimantan, Trans Sumatra dan Trans Jawa dan berbagai pembangunan sarana prasarana untuk kepentingan rakyat.

Komitmennya yang kuat untuk membangun mulai dari desa, daerah terluar dan terdepan adalah bukti bahwa Jokowi adalah kita dan kita adalah Jokowi. Pembangunan itu dikerjakan hanya dalam waktu kurang lebih 4 tahun. Jokowi membuktikan diri sebagai presiden yang sungguh-sungguh pro-rakyat. Hal ini bisa terjadi bila seorang pemimpin memiliki kerendahan hati, kemauan politik dan ketegasan sikap yang berpihak pada kepentingan rakyat. Hanya dalam jangka waktu  4 tahun lebih, Jokowi mampu membangun 846 bendungan baru yang dibangun oleh Kementrian PUPR sejak tahun 2015 – 2017, 846 embung baru dan kementrian pertanian berhasil membangun 2.348 embung dan kementrian desa membangun 1.927 embung baru. Ada 860.015 hektare jaringan irigasi yang dikerjakan, 10 Bandara baru dan revitalisasi/pengembangan ada 408 bandara, ada 19 pelabuhan laut yang baru, jalan nasional sepanjang 3.432 Km dan jalan tol sepanjang 941 Km (Kompas.com,20/10/2018). Ada 363 kapal pencuri ikan dan hasil laut lainnya dibom dan masih banyak hasil spektakuler lainnya. Jokowi bukan hanya memiliki filosofi kerja, kerja dan kerja tetapi juga kemampuan-kemampuan ini:

PertamaAlways listening, always understanding. Beliau tidak sok tau dalam menyusun program. Tapi disesuaikan dengan kebutuhan riil dan mendengarkan masyarakat. Untuk itu blusukan  menjadi strategi dan popular di tangannya. Dilansir dari Tempo, Jokowi masuk kategori tokoh Challenger (tokoh dengan gebrakan baru) dalam daftar “The Leading Global Thinkers of 2013”, versi Washington Post berkat aksi blusukannya.

Jokowi adalah Presiden yang paling sering dan selalu merasa senang turun ke daerah, bertemu dan berdialog dengan masyarakat. Hadir, ada dan duduk bersama rakyat di tenda-tenda pengungsian dan di sawah, bermain bersama anak-anak di istana adalah simbol kedekatan Jokowi dengan rakyat. Bahkan istana ditransformasikan menjadi rumah rakyat. Banyak masyarakat, kelompok masyarakat dari berbagai kalangan dan tingkatan usia datang bertemu dengannya dan melakukan kegiatan di Istana.

Kedua, karakteristik kepemimpinan yang santun dengan integritas moral yang mumpuni, bebas korupsi dan kolusi menjadikan Presiden Jokowi sebagai  salah satu tokoh hebat dunia mengalahkan Obama. Bangsa ini  butuh pemimpin yang berkarakter. Jokowi bukan saja politisi tetapi juga negarawan sejati, memiliki segudang pengalaman dan sederetan rekam jejak dengan kesuksesan di bidang kepemerintahan. 

Ia bukan politisi dan pemimpin instan yang terkenal karena uang dan berkuasa karena pemilik dan pimpinan oraganisasi politik. Ia hanya petugas dan pelayan parpol dan masyarakat yang terkenal dan dikenang warga masyarakat Indonesia kerena alam menyaksikan dan bumi mewartakan kerja keras dan kerja cerdasnya dengan spiritualitas melayani rakyat dan membangun negara mulai dari sebagai wali kota Solo, Gubernur DKI dan kemudian Presiden RI.

Jokowi adalah politisi dan negarawan sejati yang lahir secara  alami. Kecerdasan intelektual, emosional, sosial dan spiritual menjadikan kita sadar bahwa negara ini tidak saja dibangun dengan kekuatan otot dan otak tetapi dengan kerendahan hati tanpa pamrih dan kesederhanaan jiwa tanpa pencitraan agar bisa dekat dan melayani rakyat.

Ketiga, kepemimpinan yang melayani. Kepemimpinan Jokowi cenderung mengarah ke Servant Leadership. Servant Leadership merupakan kerangka kerja teoritis yang mengutamakan pelayanan kepada masyarakat sebagai motivasi kunci (Robert Kiefner Greenleaf, 1904-1990). Servant Leadership menekankan pendekatan holistik kepada pekerjaan, kepekaan terhadap kepentingan masyarakat, dan pembagian kekuasaan dalam pengambilan keputusan (Larry Spears, 1966).

Karena itu lagi-lagi blusukan menjadi strategi. Dengan berpakaian dan bersepatu seadanya, Jokowi bisa membaur dan tidak ada jarak antara dirinya dan masyarakat. Penampilan sederhana juga representasi adanya sifat rendah hati dan melayani. Ketika terus diserang, dituduh dan dihina, Jokowi tidak marah. Ia menghadapi semuanya dengan tenang. Ia tidak ingin membalas pembunuhan karakter terhadap dirinya dengan melakukan pembunuhan karakter pada orang lain. Malah yang membelanya adalah para netizen.

Eksistensi kepemimpinan yang fenomenal dan popularitasnya itu, akhirnya Jokowi dibuatkan patung lilin di Museum Madame Tussauds di Hong Kong. Nama Jokowi mendunia. Bahkan dalam sebuah survei yang digelar oleh pengelola Madame Tussauds di Hong Kong, popularitas Pak Jokowi mengalahkan calon Presiden Amerika Serikat, Hillary Clinton, dan Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump. Survei dilakukan kepada seluruh pengunjung museum lilin selama setahun. Di dalam lembar surveinya, terdapat sebuah pertanyaan tentang siapa yang ingin mereka lihat di museum tersebut. Para pengunjung tidak diberikan pilihan nama, namun mereka diharuskan menulis sendiri tokoh yang diharapkan ada untuk melengkapi koleksi patung lilin di sana.

Tidak hanya Clinton dan Trump, Pak Jokowi juga mengalahkan popularitas pesepak Lionel Messi dalam survei itu. Messi berada tepat satu peringkat di bawah Pak Jokowi. Dilansir dari Jakarta Post, General Manager Madame Tussauds Hong Kong, Jenny You, mengatakan Pak Jokowi terpilih berdasarkan hasil survei yang dilakukan di Madame Tussauds. Hasil survei itu menunjukkan Pak Jokowi adalah salah satu pemimpin dunia yang populer dan ingin disaksikan pengunjung museum. Patung lilin Pak Jokowi menjadi tokoh Indonesia kedua setelah presiden Indonesia pertama, Ir. Soekarno yang mengisi koleksi di Madame Tussauds. Makin bangga kita! Dan makin yakin bahwa Jokowi adalah kita dan kita adalah Jokowi

*)Putra Nangaroro-Nagekeo, Tinggal Di Maumere

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *