Beranda Florata News Mahasiswa Wae Ri’i Kupang Menilai Pemda Manggarai Tidak Komitmen

Mahasiswa Wae Ri’i Kupang Menilai Pemda Manggarai Tidak Komitmen

461 views
0
Foto Himpunan Mahasiwa kecamatan Wae Ri’i, latar belakang Kantor Bupati Manggarai. (Desain foto/ Florespost)

FLORESPOST.CO, Kupang – Himpunan Mahasiwa kecamatan Wae Ri’i (Hipmawari) Kupang menilai pemerintah daerah Kabupaten Manggarai tidak komitmen.

Hal ini disampaikan dalam menyikapi aksi masyarakat Poco dalam menghadang dump truck sampah milik Dinas Lingkungkan Hidup Kabupaten Manggarai, Sabtu (18/5/2019).

Ketua Hipmawari Kupang, Eginius Nengko kepada Florespost.co, di Kupang menilai komitmen pemda Manggarai untuk menjadikan kota Ruteng sebagai kota molas hanya sebatas jargon.

“Komitmen kota Ruteng sebagai kota molas itu hanya sebatas kata-kata belum sampai pada tindakan yang konkrit, niat untuk mewujdkan belum ada,” kata Eginisius.

Egin melanjutkan, Pemda Manggarai hampir tidak ada kebijakan dalam mengurus masalah sampah.

Kenyataannya lanjut Dia, sampah selama ini dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) di Ruteng langsung dibuang begitu saja tanpa melalu proses pengolahan yang baik.

Untuk itu Mahasiswa Wae Ri’i Kupang mendorong pemda Manggarai untuk meningkatkan perhatian serius terhadap persoalan sampah baik dari sisi anggaran maupun sumber daya manusia.

Mahasiwa Wae Ri’i Kupang juga meminta agar pemerintah Manggarai menghentikan aktivitas pembuangan sampah di Poco, karena menurut mereka di lokasi tersebut merupakan pemukiman warga.

“Itu pemukiman warga jadi hargai warga termasuk kami orang Wae Ri’i,” tegasnya.

Senada dengan Egin, Mahasiswa asal Poco, Yohanes Ranggut juga menyampaikan bahwa reaksi masyarakat Poco seperti menghadang dump truck sampah milik Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai adalah salah satu bentuk protes dari masyarakat.

“Selama ini pemda hanya mengurus Ruteng, lupa bahwa mengurus sampah itu kajian masalahnya adalah dari hulu hingga hilirnya sehingga perhatiannya itu harus menyeluruh,” kata dia.

Menurut Yohan lokasi Tempat Pengolahan Akhir (TPA) di Poco tidak cocok selain karena berada di pemukiman warga juga tidak datar.

“Kalau saya tidak salah sepertinya Matim dan Mabar itu konsep TPA nya bagus, kita mesti belajar dari dua kabupaten baru ini,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan kajian yang dilakukan oleh Pemda Manggarai dalam menentukan Poco sebagai lokasi TPA.

“Saya tidak mengerti kajian pemerintah dulu menentukan tempat itu sebagai TPA, sepertinya itu hanya kajian untuk menguntungkan pemangku ketika itu,” tegas Yohan.

Untuk itu Ia berharap agar melalui persoalan ini menjadi pembelajaran buat warga Manggarai khusunya kota Ruteng dalam menjadikan sampah sebagai masalah bersama.

“Saya berharap dari kasus ini ada hikmah atau menjadi pembelajaran buat warga kota Ruteng, sehingga coba mulai untuk kurangi hasil sampah serta pemisahan sampah, penting untuk itu karena itu bagian dari sikap menghargai sebagai makhluk hidup,” harapnya.
Kontributor : Adrianus Dandi
Editor : Tarwan Stanislaus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here