Beranda Florata News Kecacatan Pola Pikir Prabowo Subianto dalam Menangkap Kebenaran

Kecacatan Pola Pikir Prabowo Subianto dalam Menangkap Kebenaran

723 views
0
Yulianus Nurdin. (Foto/dokpri)

Oleh : Yulianus Nardin, S.AP

Kontestasi pemilihan umum (pemilu) identik dengan pesta rakyat, tradisi ritualitas lima tahun sekali bangsa Indonesia. kali ini titah dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 14/PUU-XI/2013 hasil dari judicial review dari undang-undang nomor 42 tahun 2018 tentang pemilihan umum presiden dan wakil presiden telah selesai dijalankan. Dan Pada tanggal 21 Mei 2019 akhir penetapan Presiden dan wakil presiden terpilih oleh KPU Pemilu 2019.

Pemenang adalah Jokowi Dodo dan Maruf Amin. Sejenak melihat serpihan sejarah tercecer beberapa bulan telah terlewatkan, drama politik pemilihan umum (pemilu). Gelar perdana 17 April 2019 mencuat berbagai banyak spekulasi.

Ada kelompok/Individu yang mengklaim kemenangan sepihak. Cukup ngeri untuk diperbincangkan, kirsu politik pasca kontestasi pilpres mengakar dikalangan masyarakat umum. Semua karena kecintaan masyarakat Indonesia terhadap masing-masing kedua kandidat capres dan cawapres. Namun ada yang menarik, penulis menemukan kejangalan atas pernyataan dari calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto yang gagal naik tata kekuasaan. “Kami menolak perhitungan rekaptulasi KPU Pemilu 2019”.

Menyoal Kebenaran ala Teori Korespodensi

Umumnya manusia berusaha menemukan kebenaran, untuk memperoleh dan menempuh kebenaran tentunya dapat menggunakan rasio seperti para rasionalis serta melalui pengalaman maupun empiris. Pengalaman akan kenyataan melekat pada indrawi manusia selama ia beraktifitas, sehingga kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti. Namun fenomena berkendak lain, penyangkalan atas kebenaran terjadi pada individu seseorang. Prabowo Subianto menghendaki diri sebagai pembela kebenaran dan bertolak dari kenyataan.

Berdasarkan teori korespodensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahauan yang dikandung pernyataan itu berhubungan dan sesuai dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Misalnya sala satu mansyarakat mengatakan presiden terpilih adalah Jokowi Dodo dan Maruf Amin, maka pernyataan itu benar sebab pernyataan tersebut bersifat factual, atau sesuai dengan fakta yang ada bahwa presiden terpilih Jokowi Dodo dan Maruf Amin berdasarkan perhitungan rekaptulasi KPU Pemilu 2019. Lalu bagaimana dengan Prabowo Subianto yang mengklaim kemangan dan menolak hasil perhitungan rekaptulasi KPU Pemilu 2019, seperti dilansir dari BBC News Idonesia “Kami tidak akan menerima hasil penghitungan suara yang dilakukan KPU selama penghitungan tersebut bersumber pada kecurangan,” kata Prabowo Subianto dalam jumpa pers di kediamannya, Jakarta, Selasa (21/05).

Sikap dan pernyataan Prabowo ini sama sekali tidak menunjukan seorang kandidat yang kalah setelah perhitungan rekaptulasi KPU Pemilu 2019, narasi dibangun terlalu percaya diri, memaksa kehendak diri untuk mempengaruhi publik. Penolakan akan keberanan kemenangan kontestasi terus digumandangkan oleh kubu yang mengklaim kemenangan sepihak, dan deklarasi dijadikan ritual rutinitas bilamana hal mendesak.

Secara konotasinya dapat dipahami bahwa ada mimpi yang tidak dapat diurai, melebur pada ruang logika dengan khayalan, fantasi, atau ilusi, hal ini adalah sikap gegabah dari pemberontak intelektual. Fantasi di artikan dengan daya membayangkan sesuatu hal yang tidak real atau yang tidak mungkin terjadi, pun sepadan dengan ilusi atau khayalan. Dalam benakan Prabowo Subianto ada ilusi, keyakinan tentang suatu kebenaran yang jelas-jelas sangat keliru. Dalam persolan ini, kenyataan sesunggunya tidak mampu membuka ruang imajinasi dan rasio Prabowo Subianto.

Kerancuan pola pikir Prabowo Subianto terlihat ketika ia menolak imajinasi dan rasio untuk mengukur kebenaran, pahahal imajinasi dan rasio sebetulnya saling mendukung dan melengkapi. Pacuan intelek, imajinasi berfungsi sebagai pemecah kebuntuhan ketika rasio tidak lagi mampu mengatasi persolan pengetahauan yang membekap, apalagi berkaitan dengan kenyataan atau fakta yang betul terjadi. Jika Imajinasi membuat dunia hadir dalam banyak kemungkinan, maka rasio membuat kemungkinan-kemungkinan itu menjadi pengetahauan yang masuk akal.

Berbalik dari pernyataan prabowo bahwa pihaknya akan melakukan seluruh upaya hukum sesuai dengan konstitusi dalam apa yang disebut sebagai membela kedaulatan rakyat yang hak-hak konstitusinya dirampas pada pemilu 2019 menununjukan kecatacan pola pikir Prabowo Subianto dalam menangkap kebenaran.

Disini sangat terbukti ada indikasi perlawanan terhadap kebenaran perhitungan rekaptuliasi KPU Pemilu 2019, ‘’hemat penulis ada paksaan pada pemberontak intelek, memaksa meleburkan diri pada senyawa hayalan, ilusi dan fantasi naik pada tata kekuasaan’’.

Tanpa disadari fenomena prilaku klaim kemenangan Probowo Subianto merupakan malapetaka yang dihasilkan dari virus kebongohan yang terstruktur, sistematis dan massif. Perlu penerangan untuk kembali memulikan pola pikir dan membutukan rekonsiliasi yang panjang bagi para kelompok/Individu yang tergolong politik dusta.

*) Penulis adalah anggota Demisioner GMNI Malang

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here