Ternyata Masih Seperti Yang Dulu

  • Whatsapp
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Cerpen.

Oleh: Marsel Koka, RCJ*

Suasana agak bising saat taksi yang kami tumpangi mulai pelan-pelan meninggalkan ibu kota siang ini. Di langit matahari tak terlalu nampak menunjukan sinarnya sebab terpeleh awan yang perlahan-lahan mulai tebal menghitam. Bunyi guntur sesekali mulai terdengar. Pertanda hujan akan segera turun. Aku sudah berada dalam taxi dan kini sudah dalam perjalanan pulang kampung untuk liburan.

Liburan kali ini cukup panjang sehingga aku memilih menikmati waktu senggang ini di kampung halamanku. Liburan bersama keluarga memang selalu kunantikan sejak dulu. Ada semacam kerinduan yang sedang menggunung di hatiku saat ini. Dan semua kekangenan itu akan segera terpenuhi setelah saya tiba di rumah sebentar.

Selama sekian tahun belakangan ini, aku tinggal di sebuah kota yang dari segi topografinya boleh dibilang sangat kecil. Tapi walau begitu, bisingnya bukan main. Setiap hari selalu ramai oleh berbagai deru keributan. Mulai dari bunyi kendaraan, bunyi mesin-mesin dan dentuman musik para tetangga. Macam-macam dan terdengar di mana-mana. Selain itu, kota ini juga dikenal sebagai kota dingin. Maklum letaknya berada di atas pegunungan yang tingginya berkisar tiga ribu meter di atas permukaan laut. Aku merasa sangat betah tinggal di kota ini.

Setelah kulewati demi waktu di sini, saya pun mulai sadar bahwa ternyata kota ini kadang berubah menjadi sangat panas. Bukan karena hawanya tetapi karena beberapa peristiwa yang sering terjadi secara panas, kasar dan tajam. Beberapa bulan yang lalu kota ini masuk dalam pemberitaan media, baik online maupun cetak tentang kasus moral menjerat beberapa orang ternama. Di sini, peristiwa pencurian masih menduduki peringkat satu. Kasus yang satu ini, menjadi keprihatinan publik baik lokal maupun nasional. Ya benar. Pencurian memang sudah akut sejak dulu. Kasus terakhir adalah pencurian uang oleh kepala wilayah. Katanya itu uang rakyat. Sedih memang. Yang anehnya lagi, si tersangka matian-matian bilang itu hoaks. Katanya itu fitnah dan omong kosong. Pusing memang. Hanya kebenaran yang tahu.

Taxi yang kami tumpangi ini melaju dengan kencang namun sangat hati-hati. Tak terasa kami sudah tiga puluh menit berlalu dari pusat kota. Baru beberapa saat berada dalam taxi ini aku mulai sadar bahwa bercerita dan apalagi tidur akan menjadi hal yang sulit terjadi. Memang tidak bisa. Bayangkan saja, sejak pantatku menduduki taxi ini, sang sopir tanpa ampun menghidupkan musik seenaknya. Kuat dan menggebu-gebu. Kami seperti berada di tempat pesta. Musik yang diputar macam-macam. Mulai dari yang slow sampai yang lompat-lompat. Aku hanya coba memahami keadaan dan menuruti keinginan sang sopir. Sambil sesekali tersenyum sinis. Barangkali beberapa penumpang juga sama. Risih dengan keadaan ini, namun tetap diam bertahan pada ketidaknyamanan ini. 

Perjalanan menuju kampung masih jauh. Kira-kira tiga jam lagi aku baru bisa sampai. Rindu tuk berjumpa keluarga semakin terasa. Pokoknya aku hanya ingin cepat tiba di rumah. Kali ini taxi tiba-tiba berhenti. Dengan wajah cemas om sopir minta agar kami semua, segera keluar dari mobil. Katanya taxi dalam keadaan gawat. Tanpa berpikir panjang aku meluncur keluar. Jantungku berdetak keras. Ternyata taxi ini sering macet. Sudah sering orang takut menjadi penumpang di dalamnya. Mobil ini memang sudah tidak pantas dipakai. Penuh resiko. Tapi tidak ada pilihan selain memaksa walau penuh ancaman. Mobil ini merupakan satu-satunya taxi sejak dulu saat umurku masih ingusan. Ini mobil tua yang sangat berjasa. Dulu ada beberapa mobil yang bertaxi ke tempat ini. Namun mereka tidak pernah kembali lagi sejak menemukan kondisi jalan yang serba angker ini. Sampai di sini, saya semakin yakin bahwa ini bukan jalur provinsi seperti yang pernah dikoarkan pemerintah beberapa tahun terakhir. Kalau saya mau jujur barangkali ini lebih cocok disebut sebagai jalan tikus. Maaf sedikit berlebihan.

Saya menunggu dengan perasaan bercampur. Takut, sedih dan marah. Sambil menanti urusan beres, mataku memperhatikan keadaan sekitar. Dua meter di depan saya ada sebuah pohon yang ditempeli poster seorang tokoh politik. Dia sedang tersenyum. Wajahnya familiar bagiku. Seorang perempuan tua di sampingku tiba-tiba bilang: “Nong, dia itu pernah duduk di kursi dewan mewakili daerah kita beberapa periode kemarin. Dulu saya dan hampir semua orang di kampung sepakat memilih dirinya. Saat kampanye beberapa waktu lalu ia berapi-api memuntahkan beberapa janji yang memang relevan dengan kebutuhan di kampung kita, tapi anehnya semua janji itu lenyap seperti ditiup angin. Ketika dia menduduki kursi kekuasaan sekian tahun keadaan kampung kita tetap sama Nong. Semuanya hanya koar-koar dan omong kosong saja. Kami baru sadar ternyata dia seorang penipu yang bermulut manis”. Rupanya poster itu mencuri perhatian beberapa penumpang lain. Mereka mulai mengumpat dan mengomel tak karuan. Saya sedikit kaget ketika mendengar seorang pria uban berkata begini “Ah, dasar koruptor, tidak tau malu, sudah mencuri masih pamer foto. Dasar perakus”. Wao, saya seakan tak percaya pada kelancangan mulutnya. Dia kasar menuduh seenaknya. Tapi bisa benar.

Taxi sudah membaik dan dengan sangat lincah sang sopir menyetir menyusuri jalan berlubang ini. Saya tahu bahwa dua jam lagi saya baru akan tiba di kampung. Mataku masih terus melolot memperhatikan dengan serius keadaan sepanjang jalan. Kali ini kami memasuki hamparan persawahan milik warga. Sejak beberapa tahun saya selalu rindu untuk melintas di tempat ini. Ya, di sini, engkau akan dengan mudah merasa kagum menikmati keindahan hamparan sawah ini. Saya yakin, setiap orang yang sempat melintas di tempat ini pasti akan dengan mudah tersenyum bahagia saat melihat padi mulai menguning pertanda bahwa harapan untuk hari esok masih ada. Kira-kira begitu. Namun itu dulu. Pemandangan kali ini tidak sama. Sudah jauh berbeda. Saya sendiri sudah mulai membaca kalau bahaya kelaparan dan tanda-tanda kematian semakin menganga di depan mata. Petani akan gagal panen tahun ini. Puluhan hektar hamparan sawah ini mulai mengering tak berair. Selokan besar yang mengairi persawahan ini juga tak berair lagi. Sepertinya hujan sudah semakin pelit memuntahkan butiran airnya hari-hari ini. Ya benar, debit air sudah berkurang sebab pohon-pohon di pegunungan sudah habis ditebang. Awan-awan yang selalu mengepul tak pernah lagi nampak di pegunungan sana.

Aku hanya melonggo memandang sekelilingku. Seolah tidak percaya melihat keadaan ini. Gerombolan burung-burung kecil yang dulunya selalu ramai terbang ke sana kemari di persawahan ini tak lagi terlihat. Ada beberapa namun tidak seramai dulu. Nasib mereka di ujung tanduk. Di tengah sawah beberapa ekor anjing terlihat ke sana-kemari berkejaran. Mereka berebutan menghabisi ikan-ikan kecil yang mati karena kehabisan air. Aroma amis begitu terasa di hamparan sawah ini. Di ujung sawah ada seorang perempuan tua duduk dengan tangan melingkar di kepala. Dia sedang cemas dan mungkin pasrah dengan keadaan ini. Dia tahu hamparan padinya sudah pasti akan segera gagal tahun ini. Barangkali hanya berharap pada keajaiban. Tapi akan tetap sama.

Taxi terus melaju. Debu jalan pun terus mengepul. Setelah beberapa kilo meter berlalu, taxi yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti lagi. Kali ini bukan karena mesin macet tapi karena ulah seekor sapi yang yang tiba-tiba menyerobot masuk ke jalan. Astaga, sapi ini diikat persis di depan sebuah kantor desa. Tidak tau siapa pemiliknya. Aduh, kalau mau jujur saya katakan saja bahwa kantor desa ini tidak diperhatikan secara maksimal. Bayangkan di sekeliling kantor rerumputan tumbuh begitu lebat. Di bagian samping ada seekor induk kambing yang baru beranak berdiri sambil menggeser tubuhnya di tembok kantor. Beberapa kambing lain tidur menyandar di pintu utama. Barangkali kalau saat malam tiba mereka juga tidur di dalam kantor. Bisa juga. Kalau kau tanya, ke mana kepala desa? Aku juga tidak tau. Mungkin tidak pernah ke kantor. Ya bisa juga.

Walau perjalanan kami belum seberapa, aku mulai merasa sedikit lelah. Lelah bukan karena jauh tetapi lebih oleh kondisi jalan memilukan. Kondisi jalan yang berlubang memang membuat kami harus terus bergoyang-goyang dalam taxi. Barangkali ini juga yang menjadi alasan kenapa om sopir memilih untuk menaikan volume musik dalam taxi ini. Mungkin saja, secara tidak lansung dia mau agar kami semua melupakan kengerian jalan ini lalu dengan tabah menikmati perjalanan sambil bergoyang ria bersama. Ya barangkali. Walau kondisinya seperti ini, aku memilih diam sambil menelan semuanya dengan jujur. Tetapi dalam hati aku sudah memiliki niat untuk menulis kisah ini saat sampai di rumah sebentar.

Kali ini taxi berhenti lagi. Tepat di sebuah ujung jembatan. Kami diminta untuk turun dan berjalan kaki melewati kali besar. Aku turun cepat-cepat lalu berjalan melewati sungai ini. Ah ternyata di sini lebih ngeri. Jembatan ini sudah terputus dibawa banjir. Saya yakin, setiap hari sopir selalu berjuang melawan maut saat melintas kali besar ini. Mereka bilang sudah tiga tahun keadaan ini terjadi. Sudah sering penumpang tunda ke kota gara-gara taxi ini macet berhari-hari ini tempat ini. Sudah pernah keadaan ini disuarakan ke pusat kota namun masih tak ada hasil. Bisa jadi sampai selama-lamanya. Semoga tidak.

Sambil menunggu taxi ini melewati kali besar ini. Aku memutuskan tuk menyapa beberapa orang yang sedang sibuk mencuci. Di sini memang sedikit ramai. Anak-anak kecil melompat riang ke sana-kemari. Mereka mandi dengan bebas. Ada yang lain datang membawa beberapa cerigen di tangan. Mereka bilang sudah sejak lama konsumsi air ini. Karena ini pilihan satu-satunya. Miris memang. Padahal kalau saya tidak salah, satu isi kampanye orang besar beberapa tahun kemarin adalah membangun dari desa. Tetapi kenapa begini. Saya juga tahu bahwa semua desa saat ini dapat jatah dana desa. Itu pasti. Tapi kenapa masyarakat masih konsumsi minum air kali ya? Ah pasti, dana itu dicuri kepala desa. Bisa jadi. Ah, aku malah sembarang memvonis. Tapi wajar kan?

Senja pelan-pelan menarik dirinya dan akan segera berganti gelap. Sang malam mulai menunjukan jejaknya. Setelah melewati jembatan maut ini, laju taxi yang kami tumpangi tak terkendali. Kali ini sang sopir menyetir dengan agak cepat. Aroma kampung yang sudah lama aku tinggalkan, mulai terasa. Sebentar lagi aku akan segera memeluk ibu dan ayahku. Di dalam taxi, beberapa penumpang sudah turun. Sekarang hanya diriku dan satu penumpang lain, dia dari kampung tetangga. Aku masih terus mengamati segala sesuatu di sekitarku dan semua itu kurangkum dengan rapih dalam hati. Setelah melewati jalan yang melelahkan akhirnya aku pun sampai di gerbang kampung. Aku tiba saat malam sudah membentang. Gelap sekali kampungku malam ini. Tak ada listrik, tak ada signal. Jauh dari kemajuan. Aku baru sadar ternyata kampungku masih seperti yang dulu. Tetap gelap gulita. Kalau mau dibandingkan dengan beberapa desa, barangkali kampungku akan pasti menduduki peringkat satu dalam kategori ketertinggalan. Apakah satu waktu akan ada listrik? Saya masih pesimis tapi saya harap bisa terwujud.

Nak, selamat datang! Mama rindu kamu selama ini. Kata mama sambil memelukku. Ya Ma, aku juga, jawabku sambil memeluk dan mencium keningnya. Begitu juga dengan bapak dan saudara-saudariku. Malam ini, rinduku terbayar lunas. Berkumpul keluarga setelah sekian tahun berpisah jarak menjadi kenyataan. Tawa dan canda menjadi mengalir dengan lancar dari mulut kami sekeluarga. Namun saat aku mulai bercerita lebih serius, bapakku tiba-tiba memberi kode. Dia mengajak kami untuk segera ke ruangan tengah. Katanya mau doa. Kira-kira sepuluh menit, bapak memimpin doa syukur dengan amat khusuk. Bapakku ini memang selalu begitu. Dia tak pernah lupa yang namanya bersyukur. Apalagi ketika salah satu anggota rumah tiba dari tempat yang jauh. Dia selalu melihat semua peristiwa yang terjadi sebagai wujud berkat dan kasih Tuhan. Hebat memang bapakku ini. Salut buat bapak dan terima kasih.

Malam sudah semakin larut dan mataku mulai mengantuk. Namun sebelum mimpi memelukku dan lelahku diambil pergi oleh tidurku, aku memutuskan merangkai semua kisah yang terjadi selama di perjalanan tadi dalam sebuah kertas kecil. Di atas sebuah kertas putih ini saya dengan penuh pengharapan sekaligus sedikit keberanian menulis sepotong surat. Dan surat ini mengarah lansung untuk para pemimpin yang berukuasa baik di level nasional, provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa. Ya, anggap saja surat ini adalah sepotong suara masyarakat yang tinggal di daerah terpelosok, terkucil dan terpencil di negeri tercinta ini. Ya, kira-kira begitu. Bunyi suratnya saya coba rangkum seperti ini:

Kepada Yth

Bapak-bapak Pemimpin,

Pertama sekali, saya harus mengatakan maaf yang sedalam-dalamnya sebab mungkin surat kecil muncul terlalu dini dan mungkin agak lancang serta menganggu hati bapak-bapak sekalian. Namun lebih dari itu saya pikir surat kecil ini lebih merupakan representasi suara rakyat yang mungkin selama ini suara mereka tenggelam dan tak pernah didengarkan. Surat kecil ini sebenarnya muncul dari keprihatinan saya ketika melihat situasi keterbelakangan di kampungku ini dan mungkin juga berbagai daerah pedalaman di negeri ini. Saya tidak memaksa bapak-bapak sekalian untuk segera menuntasi segala keterpurukan di semua daerah di seluruh pelosok negeri ini. Namun berangkat dari pengamatan saya sepanjang hari ini, saya menemukan beberapa fakta penting yang saya pikir harus segera dituntaskan dan diberi perhatian yang ekstra dalam waktu-waktu ke depan oleh bapak-bapak sekalian. Permintaan saya tidak banyak, mungkin hanya empat poin ini yakni segera beri kami akses jalan raya yang baik. Yang kedua, segera adakan perusahaan air bersih agar rakyat bisa hidup sehat. Yang ketiga, segera pasangkan listrik sebab kami masih hidup dalam kegelapan sejak usia nenek-moyang kami. Yang keempat, kasih anak-anak kami pendidikan gratis. Sebab di kampung ini banyak anak yang putus sekolah karena orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan yang terlampau mahal.

Bapak-bapak yang terhormat, mungkin hanya itu saja permintaan saya mewakili masyarakat semua. Maaf kalau terlalu kasar dan memaksa nurani kalian. Barangkali harus begitu. Kepeduliaan dan kepekaan bapak-bapak sekalian untuk menanggapi suara kami, akan menjadi penghargaan yang paling membanggakan bagi kami semua. Sekian dan terima kasih.

Hormat saya

Rakyatmu

Aku barusan selesai menulis surat dan sekarang sudah berada dalam selimut. Aku berharap satu waktu surat itu dibaca dan kalau boleh ditanggapi secara serius oleh semua pemimpin di negeri ini. Itu harapan terbesarku. Ya semoga saja. Kalaupun tidak, juga tidak apa-apa. Tapi paling tidak sebagai warga negara demokratis, saya pernah berkontribusi dan menjalankan salah satu tugas saya yakni mengawali rel pemerintahan lewat surat kecil ini. Karena bagiku bersuara menentang kebobrokan itu wajib walau tak didengar. Sebab kemunduran dan kehancuran sebuah peradaban itu muncul bukan karena banyak orang-orang jahat tetapi oleh karena diamnya orang-orang baik dan pintar. Bersuara dan terus berteriak adalah harus. Walau hanya lewat tulisan kecil. Titik. 

Suara burung malam pelan-pelan terdengar di luar rumah. Nyanyian jangkrik dan cacing juga sama. Merdu dan bersahut-sahutan. Malam ini suasana begitu lembut menyentuh tubuhku. Tak ada keributan sedikitpun. Tenang dan damai. Jujur, sudah lama aku mendambakan suasana seperti ini. Suasana libur di kampung kelahiranku.

*) Penulis asal Rio-Riung Bajawa, Tinggal di Seminary Rogationist Manila – Filipina.

Marsel Koka, RCJ (Foto: DOK. Pribadi)

**)Mohon maaf apabila ada kesamaan kisah, tempat dan nama. Cerita ini hanyalah hasil imajinasi penulis semata. Terima kasih.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *