Beranda Sastra Seni Menjelajah Hening

Seni Menjelajah Hening

230 views
0
Gambar oleh SnapwireSnaps dari Pixabay.

Puisi-puisi Melki Deni*

Seni Menjelajah Hening

Yang disembunyikan dari penghujung bibir-bibir, 

dan yang ditampik dari tapal batas antara daging dan kulit. 

dijelaskan oleh malam panjang di beranda rumah bayang-bayang. 

Tentang kita yang menjelajah melampaui dunia bukan-bukan milik setan-setan. 

Tak terjumpai sejawat diri merenung diri di atas perahu peronda di tengah samudra. 

Kita adalah perselingkuhan huruf-huruf membentuk peradaban baru tanpa cacat warna. 

Yang dibungkus dari gumpalan nafas, 

dan yang disaring oleh alis-alis mata telanjang.

diceritakan oleh lembayung senja di panggung pondok nenek moyang. 

Tentang kita yang terlampau lupa wasiat-wasiat di dalam kotak-kotak kecil. 

Barangkali kebijaksanaan kita sudah dimakan oleh pebangkai jinak atau oleh rayap-rayap sisaan perang Holocaust.

Yang ditelan hidup-hidup oleh telinga, gerbang kehilangan kunci sedari ciptaan. 

dan diperangi oleh bulu-bulu roma sepanjang sejarah. 

direnungi dan dijelajahi  jiwa dalam kecekaman hening yang riuh rendah.

Demikian hening membunuh jiwa-jiwa liar di panggung seni dunia.

Kita akan menemukan diri tak berpakaian sehelai pun di terminal kota. 

Kiranya kita diundang merayakan pesta di padang mahsyar.

***

Ludah selalu Telanjang 

Kami menari dansa di pinggiran jalan,

Anak-anak melayangkan layang-layang plastik ke atas udara. 

Menyaingi awan gemawan dan para alien mendirikan bendera kemenangan di atas langit. 

Kemenangan dahsyat tidak perlu dibungkus pakaian kemewahan dan sorak-sorak membela Tuhan. 

dan kekalahan tidak perlu memoles hukum Tuhan dan merobek Pancasila.

Sebab pakaian seberapa pun mewahnya,

Tetap tempat persembunyian tubuh-tubuh berlumur karat-karat dan gudang para zombi.

Seperti ludah-ludah telanjang sepanjang keabadian dibuang di tempat jorok, 

kami dicekik mati demi kepentingan di atas kepentinga . 

Ludah-ludah memang harus dicuci bersih dari mulut-mulut buaya darat, 

sebab hanya menimbulkan bauh apak.

Ludah-ludah jangan dibuang di sumur kota. 

***

Ayahku Pembohong Yang Andal

Aku pernah bermain kejar-kejaran, kuda-kudaan, 

mendengarkan setiap alur hikayat-hikayat suci darinya.

Aku seakan-akan sedang menyaksikan peristiwa-peristiwa misteri dalam ceritanya. 

merengek-rengek di pagi, dan mengompol setiap malam hari.

Cita-citaku menjadi tokoh-tokoh heroik dalam dongeng dan hikayat-hikayat mulia.

Sekarang aku dalam perjalanan menuju gua-gua mistik itu, 

menenun benang-benang kehidupan.

Segala-galanya gratis tanpa syarat atau kriteria satu pun.

Akulah tuan atasmu. 

Aku akan selalu meminum setiap tetesan keringat darah dari sekujur tubuh yang mulai keriput,

dan menghidangkan bagiku makanan daging-daging yang mulai mengering kerdil.

Semuanya tersedia bagiku, tidak untuknya.

Katanya tidak pernah menderita sakit, lelah, lapar, haus, dingin, jenuh, dan miskin.

Dia sembunyikan semuanya itu di balik keceriaan dan kebahagiaanku.

Ayahku memang pembohong andal: gratisan abadi dari Tuhan. 

Tuhan akan membalas kebohongan-kebohongan yang luar biasa itu. 

Kiranya tangan tuanmu ini dapat memberkati kemuliaanmu nanti.

*Melki Deni, Mahasiswa Semester II STFK Ledalero-Maumere- NTT, berasal dari Reo-Manggarai. Penyair sering menulis pada beberapa koran lokal, dan media daring lokal dan nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here