Beranda Sastra Sabda Suci Untuk Mutis

Sabda Suci Untuk Mutis

255 views
0
Ilustrasi. Foto Priskila Fera Riwu

Puisi-Puisi Honing Alvianto Bana*

Sabda Suci Untuk Mutis

Masih terngiang sampai di sini,

Mantra-mantra suci dari lembah-lembah fatu’ulan itu.

Dari sana para tetua adat itu pernah bersabda: 

Hanya ada dua tempat yang tak bisa digambarkan dengan kata.

Yang pertama adalah hatimu yang begitu sunyi, dan kedua adalah puncak mutis yang begitu indah.

Iya. Karna hanya pada kedua tempat itulah:

Tuhan bersama para pujangga sering berkunjung untuk menenangkan diri dan menimbah inspirasi.

Timor, Juni 2019

***

Tetaplah Menjadi Senja di Langit Timor

Kalau ada yang bercerita padamu
tentang senja terindah yang pernah ia lihat
Itu karna dia belum pernah ke sini

Senja terindah hanya ada di sini,
Di matamu yang penuh kupu-kupu.
Juga tatapanmu yang begitu meneduhkan

Maka atas segala yang terbentuk oleh aksara,
kau adalah rasa yang tak dikalahkan oleh hujan atau apapun di dunia ini,

Pemenang dari semua pemilik kata dan puisi,
satu dari jutaan serpihan wajah Tuhan yang begitu ingin aku miliki

Nona, kota karang memang menawarkan banyak kehangatan,
Tapi hatiku memilih untuk membeku di punggung kota dingin

Jadi terima kasih telah mencintai kota dingin, manisku!

Nanti akan kuperkenalkan kau pada dewa-dewa cinta di puncak-puncak mutis,

Pada leluhurku yang begitu manis ketika berucap mantra dari dalam jantung Pulau Timor,

Atau memanjakanmu dengan romantisnya kabut-kabut kapas yang turun bersama embun dari pundak-pundak dewi fatu’ulan

Lalu akan kubakar sebongkah cendana untukmu, manisku

Harumnya wangi cendana akan kupersembahkan sebagai tanda
Bahwa cinta adalah nekmese

Kau tau apa itu nekmese?

Nekmese adalah perpaduan antara hujan dan cahaya yang menjadikan kita pelangi

Jadi,
Jadi kau harus ikut menjadi Timor untuk memelukku

Ikut menggunakan kebaya milik mama,
Atau ikut melingkari lehermu dengan muti peninggalan nenek

Atau,
Atau jika itu memberatkanmu,

Biarlah aku yang tetap menjadi Timor
Biarlah aku yang tetap menjadi Timor untuk menjagamu,

Menjadi satu dari seribu meo penjaga tiga batu tungku
menjaga amanuban, menjaga amanatun, juga menjaga mollo.

Atau,

Atau ijinkanlah aku menjadi satu dari dua lesung kecil di pipimu.

Timor, Mey 2019.

***

Puan di Kaki Mutis

Di sana,
Di kota dingin,

Kota yang penuh semilir angin dan reruntuhan hujan,
Sopi dan api adalah jelmaan dari rindu akan pelukanmu

Seperti kata para tetua adat dari suku Boti:

Sopi adalah asi yang diperas langsung dari puting susu nenek moyang,

Maka teguklah..
Maka menarilah…
Maka terangilah setiap tungku kekasihmu: dengan nyalamu.

Seperti katamu hari itu: kalau ada yang lebih panas dan bercahaya dari api tapi tidak menjadikan kita abu, maka itu adalah cinta.

Cinta yang menjelma menjadi mimpiku kepada Timor:

pada senyum gadis-gadis kecil berambut jagung, juga tawa bocah-bocah perut buncit tanpa alas kaki diatas sabanamu.

Puan-ku, maukah kau menuangkan sopimu untukku?
Dari sana, lewat apimu, dengan segenap nyalamu.

Timor, Juni 2019

***

Ilustrasi. Foto Antoni Reis Tanesi

Pulang Tubuh-Tubuh Kaku

Pulang
Tubuh-tubuh
Kaku
Di ujung pintu. Bandara.

Pucat
Bibir-bibir
Merah
Dewi-dewi .Timor.

Langit
Masih berwarna
Jingga
Udara pun terasa. Berat.

Linglung
Para kepala
Daerah
Mulut-mulut terkatup. Bisu.

Di sana
Di kelopak mata
Maria
Yesus terpaku. Lagi.

Timor, Juni 2019

***

*Mahasiswa Universitas 17 Agustus Surabaya, Kelahiran Soe – NTT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here