Beranda Opini Tendensi Egoisme, Perang opini kisruh tapal batas Matim – Ngada

Tendensi Egoisme, Perang opini kisruh tapal batas Matim – Ngada

259 views
0
Yulianus Nardin S.AP. (foto/Dokpri)

Oleh : Yulianus Nardin S.AP

Kisruh tapal batas wilayah Manggarai Timur (Matim) dan Ngada menuai banyak kontrovesi. kalangan akademis, aktivis, swasta dan masyarakat awam sekalipun mengetahaui secara terang-terangan bahwa duka tapal batas adalah persoalan wilayah secara administrative. Sejauh yang diamati persoalan tapal batas Ngada dan Matim telah selesai diatasi oleh pemangku kepentingan (stakeholder) Propinsi NTT yang melibat Gubernur Viktor B. Laiskodat, Bupati Manggarai Timur Agas Andreas dan Bupati Ngada Paulus Soliwoa baik diselesaikan secara jalur hukum sekalipun belum tuntas diselesaikan. Perbincangan terkait dengan gugatan atas langka kebijakan yang diambil oleh kedua daerah kabupaten Ngada dan Matim tentunya datang silih berganti, yang belum tuntas adalah diskusi masyarakat ilmiah Manggarai Timur yang sejauh hari ini masih membicarakan soal tapal batas, kendati demikian tidaklah heran jika diskusi menuai perdebatan antara pro dan kontra, sebut saja perang wacana opini yang diutarakan oleh kedua penulis yang terkenal yaitu Saudara Alfred Tuname dan Pertrus Pieter, hemat penulis keduanya cerdas karena latar belakangnya Penulis dan Wartawan. Jika kacamata penulis melihat kedua figure ini mempunyai kecerdasan yang luarbiasa. Saudara Alfred Tuname mempunyai rekam jejak (track record) di bidangnya sebagai penulis, silakan di cek pada dinding-dinding portal berita online wilayah NTT disitu telah disuguhkan opini-opini cerdas dari Saudara Alfred Tuname serta rekam jejak (track record) saudara Petrus Pieter adalah Wartawan, cukup menarik bukan?.

Yang menarik adalah ketika penulis mencoba mengajak saudara/i pembaca untuk bersama melihat adegan perang opini kedua figure tersebut diatas. Penulis ingin memulai dengan pernyataan. “Jika yang diperdebatkan adalah saling menyerang maka disitulah tendensi egoisme diasah dan dibentuk. Namun jika yang diperdebatkan adalah soal kemurnian tabal batas antara Ngada dan Matim maka disitulah klimaks terakhir menemukan solusi yang handal dan terpercaya”. Mengukur dasar argumentative kedua figure dalam teka-teki soal tabal batas Ngada dan Matim.

Tendensi egoisme

Egoisme dari kata ego, self, aku. Latin egoisnus. Menurut aliran ini, yang dapat dinilai baik itu ialah sesuatu yang memberi manfaat bagi kepentingan diri, kepada akunya. Sebab itu orang yang seperti ini disebut egois. Apa saja yang dikerjakan, dipikirkan, dicita-citakan, semua dijabarkan pada ada/tidaknya memberikan keuntungan pada diri. Singkatnya pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Karena itu, satu-satunya tujuan dan juga kewajiban moral setiap pribadi adalah untuk mengejar kepentingan dan memajukan diri sendiri. Dalam Egoisme psikologis adalah pandangan bahwa semua orang selalu dimotivasi oleh tindakan, demi kepentingan dirinya belaka. Poin ini mengemukakan fakta akan wacana opini dari saudara Pieter Sambut dengan judul Senyum rupiah, seputar tapal batas Matim-Ngada yang dimuat oleh indonesiakoran.com (8/7/2019). Tulisan saudara Pieter Sambut dalam menanggapi tulisan saudara Alfred Tuname dengan judul menggoda, demokrasi seputar batas Ngada-Matim dengan pernyataan, Masyarakat Matim di Jakarta juga tidak sengatan membabi buta, tanpa parameter rasional bahwa orang Matim di Jakarta yang mempersoalkan proses resolusi konflik tapal batas Matim-Ngada dinilainya masih berfikir dalam “Tempurung Primodialisme”. Hebat benar orang ini, baru satu buku (belum tentu beredar luas) sombongnya minta ampun. Ya mungkin itu hak dia untuk sombong. Tetapi ketika kesombongan itu menghina orang lain tanpa dasar, maka saat bersamaan saudara Alfre Tuname menenelanjang diri sebagai ’’kampret’’ yang melihat persoalan tapal batas dan dinamika yang berkembang dimasyarakat dengan otak terbalik. Saudara Alfred Tuname sebenarnya menelanjangi diri sebagai orang sok pintar, tetapi menggadaikan intelektualnya demi junjunganya. Saudara Alfred Tuname membela sang junjungan dengan medeskreditkan pihak lain yang berbeda pendapat soal tapal batas.

“menelanjangi diri sebagai kampret, Sombonnya minta ampun, otak terbalik”. Pernyataan yang menyerang secara privat maka tergolong pada tendensi Egoisme, kerap egoisme ini disebut psikologis karena terutama mau mengungkapkan bahwa motivasi satu-satunya dari manusia dalam melakukan tindakan apa saja adalah mengejar kepentinganya sendiri. Kembali pada pernyataan awal penulis bahwa Jika yang diperdebatkan adalah saling menyerang maka disitulah tedensi egoisme diasah dan dibentuk.

Demikin pernyataan saudara Pieter Sambut bisa masuk pada golongan teori egoisme, sejatinya Teori ini berbicara mengenai motivasi manusia dan sekedar menjelaskan tindakan manusia yang dimotivasi oleh keinginaan satu-satunya yaitu mengejar kepentingan sendiri. Bahkan teori ini agak sinis terhadap segala macam pandangan bahwa manusia masih punya cita-cita luhur dalam tindakan hidupnya sehari-hari. Egoisme psikologis justru sinis mengatakan”omong kosong” kalau manusia punya motivasi lain yang luhur selain mencari kepentingan pribadi. Dan jika yang diperdebatkan adalah soal kemurnian tabal batas antara Ngada dan Matim maka disitulah klimaks terakhir menemukan solusi yang handal dan terpercaya. Adapun kajian dan pernyataan cerdas wacana opini saudara Pieter Sambut terkait tapal batas Ngada dan Matim cukup diambil hikmanya oleh pembaca, tetapi sangat disayangkan jika diskusinya diumbar-ambir melalui media social tanpa ditindaklanjuti sebagaimana mestinya mencari solusi yang produktif. Adakah langka sederhana menyatukan pendapat tanpa harus mendeskreditkan?. Cukup direnungkan.

Selanjutnya Menanggapi tulisan saudara Alfred Tuname dengan judul Framing politik atas masalah batas Matim-Ngada. Sumber beritaflores (08/07/2019). Memang politis, sebab “asbabun nuzul-nya. Juga jelas Yon Lesek tanpak perna jadi “Timses” diaspora untuk paket Sardon di pilkada Matim 2018. Komentar-komentarnya di medsos (lalu diangkat jadi berita) cukup kuat mengangkat figur Fransiskus Sarong. Jadi, “objek petit a” (mengutip istilah psikonalisis Jacques Lacan) dalam tulisan tedensius Yon Lesek terbaca secara psiko-politik, selain karena Jakarta Syndrome. Mungkin kekalahan di pilkada Matim 2018 membuat Yon Lesek begitu traumatic, lalu terjun bebas ke dalam kolam barisan tim sakit hati. Peryataan ini menurut penulis adalah juga bagian dari penyerangan secara personal (privat) . Objektivitasnya ada pada Teori Egoisme yang selalu mengatakan bahwa manusia selalu melakukan apa yang menyenangkan atau apa yang sesuai dengan kepentinganya. Artinya Saudara Alfred Tuname menyerang secara berlebihan dengan tendensi egoisme mengara pada hal-hal privat seperti menyebut nama Yon Lesek, kolam barisan sakit hati. Singkatnya saudara Alfred Tuname sebut “the manggarai Jakartensis”.

Manusia adalah pribadi yang ingat diri, bahkan kalaupun secara lahiria ia tidak kelihatan ingat diri. Setiap manusia selalu ingin menjadi yang pertama, semua orang selalu cendrung melakukan apa yang diinginkan atau yang paling kurang menyakitkan baginya. Apapun yang dikatakan seseorang, semua orang selalu bertindak demi kepuasan pribadi. Inilah ungkapan-ungkapan yang paling khas untuk menggambarkan bahwa manusia hanya dimotivasi oleh kepentingannya sendiri.

Demikian kesempatan yang tepat untuk memperbaiki tendensi egoisme yang berlebihan adalah kiranya perlu dibedakan antara tujuan dari suatu tindakan dan akibat dari suatu tindakan. Tujuan adalah hal yang secara sadar ingin dicapai dalam melakukan suatu tindakan tertentu. Sedangkan akibatnya adalah hal yang dicapai tanpa disengaja dengan menjalankan suatu tindakan tertentu. Karena itu, sangat mungkin bahwa tujuan seseorang dalam melakukan sesuatu tindakan adalah untuk menolong orang lain, untuk mengusahakan kesejateraan bersama, dan semacamnaya. Tetapi tidak dapat disangka bahwa pada akhirnya ketika ia telah mencapai tujuan yang ini dikejarnaya itu, ia memperoleh kepuasan dan kebahagian peribadi sebagai akibat dari pelaksanaan dan tercapainya tujuan tindakanya tadi. Jadi kepuasaan dan kebahagian pada tedensi egoisme itu bukanlah tujuan dari tindakan melainkan hanyalah akibat dari tindakan itu.

Mengutip peryataan Rocky Gerung. “Kalau saya keritik pemerintah akan dibilang begini sebaiknya anda berkaca diri dulu, lihat anda sendiri sebelum mengkeritik pemerintah, kalau pemerintah dikeritik itu urusan public, dan kesalahan saya adalah urusan privat, jadi menggabungkan itu dapat mengacaukan fungsi kritik di dalam masyarakat demokratis”. Demikian silogisme diambil penulis bahwa jikalau diskusi itu mengarah pada kerikit yang membangun untuk sebuah kebaikan bersama pada bingkai urusan public maka harus bijak dan aktif sebagai dasar pengengembangan intelek. Jangan menyerang privat seseorang yang mengkritik apalagi mendeskreditkan pendapat orang lain, sekalipun keliru tetapi tidak harus menggunakan pendekatan tendensi egoisme yang berlebihan.

*) Anggota Demisioner GMNI Cabang Malang

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here