Beranda Kesehatan Bagaimana Terjadinya Stunting dan Apa Bahayanya Bagi Balita

Bagaimana Terjadinya Stunting dan Apa Bahayanya Bagi Balita

82
0
Rembuk Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kabupaten Manggarai. (Foto/Adi Nembok/Florespost.co)

FLORESPOST.co, Ruteng – Mungkin banyak masyarakat yang belum tahu tentang Stunting. Padahal hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, angka stunting di Kabupaten Manggarai, Propinsi Nusa Tenggara Timur, sebesar 58,8 persen. Dan hasil Riskesdas tahun 2018 mengalami penurunan menjadi 43,3 persen.
Tapi angka ini masih tergolong tinggi, sebab jika merujuk pada standar WHO batas maksimalnya adalah 20 persen.

Stunting sendiri merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita sebagai akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1000 hari pertama kehidupan. Kondisi gagal tumbuh pada anak balita ini disebabkan oleh kuranganya asupan gizi dalam waktu yang lama, serta terjadinya infeksi yang berulang.

Penanganan stunting perlu dilakukan sedini mungkin untuk menghindari dampak jangka panjang yang sangat merugikan seperti terhambatnya tumbuh kembang anak. Di samping itu, stunting juga akan mempengaruhi perkembangan otak sehingga tidak maksimalnya tingkat kecerdasan anak. Hal ini tentu membawa dampak jangka panjang yang memprihatinkan di mana berpengaruh terhadap tingkat produktifitas anak yang sangat rendah.

Selain dampak ekonomi, stunting juga akan membuat anak-anak rentan akan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan, anak dengan kondisi stunting akan beresiko menderita penyakit kronis di masa dewasanya.

Berkaca pada dampak ekonomi dan kesehatan tersebut maka perlu pendekatan intervensi stunting yang terpadu dan terintegrasi yang mencakup intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.

“Untuk memastikan keterpaduan diperlukan rangkaian perencanaan yang terintegrasi satu sama lain. Mari kita perangi stunting ini secara bersama-sama,” kata Wakil Bupati Manggarai Drs. Victor Madur saat membuka Rembuk Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kabupaten Manggarai, Kamis (25/7/2019) di aula Nucalale Kantor Bupati Manggarai.

Kegiatan yang diprakarsai oleh Bappeda, dinas kesehatan Kabupaten Manggarai dan LSM Ayo Indonesia tersebut, juga menghadirkan empat orang nara sumber yakni Akim Darmawan, Sekertariat Percepatan Gizi Bappenas, Kabid Kesehatan Dinas Kesehatan Propinsi NTT drg. Maria Silalahi, Kadis Kesehatan Kabupaten Manggarai dr.Yulianus Weng, M.Kes dan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Manggarai Sipri Jamun.

Kegiatan ini juga melibatkan seluruh Camat, Kepala Desa/Lurah se-Kabupaten Manggarai. LSM Ayo Indonesia yang selalu konsen memperhatikan masalah stunting di Kabupaten Manggarai juga hadir dalam kegiatan tersebut.

Terkait intervensi anggaran untuk menangani stunting di Manggarai, Wabup Victor mengaku belum alokasi dana untuk itu.

“Tahun ini belum ada anggarannya dari APBD II. Yang saya tahu ada dana dari Kementerian Kesehatan untuk menangani stunting di Kabupaten Manggarai. Tapi ke depan kita upayakan dana dari APBD,” jelas Wabup Victor.

Untuk penurunan angka stunting di Manggarai, Wabup Victor berharap ada kerjasama semua pihak.

“Tahun 2018 43,3 persen. Kita harapkan tahun 2020 bisa turun menjadi 20 persen. Tentu ini perlu kerjasama semua pihak,” harap Wabup Victor.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Yulianus Weng mengatakan bahwa ada beberapa penyebab stunting seperti pola makan yang salah. Masyarakat katanya, lebih mementingkan volumenya ketimbang gizinya.

Selain itu juga lanjut Dia, anak balita kurang mendapat porsi makan yang baik. Gizi untuk ibu hamil juga kurang diperhatikan. Persalinan juga masih banyak di tolong dukun.

Laporan : Adi Nembok
Editor : Tarwan Stanis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here