Beranda Opini Jatuh Cinta Pada Literasi, Baiknya Berawal Dari Rumah

Jatuh Cinta Pada Literasi, Baiknya Berawal Dari Rumah

317
0
MN Aba Nuen, Guru / Penulis Lepas, Tinggal di TTS – NTT (Foto: Dok. Pribadi)

Opini: M.N. Aba Nuen*

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang partisipatif. Tesis ini merupakan refleksi dari konsep trisentra pendidikan yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara merujuk pada peran keluarga, sekolah dan masyarakat dalam upaya pengembangan pendidikan di Indonesia. Ibarat batu tungku, ketiga elemen tersebut memiliki fungsi yang saling terkait dan saling menguatkan. Tulisan ini ingin meneropong peran keluarga (orang tua) untuk mendukung kemampuan literasi dasar anak-anak ketika berada di rumah

Sebagai guru pertama bagi anak-anak, orang tua bertanggung jawab penuh pada keberhasilan pendidikan anak. Orang tua tidak boleh menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anak kepada guru-guru di sekolah. Waktu anak berada di rumah lebih banyak ketimbang di sekolah, dan karenanya ayah dan ibu wajib memastikan selama berada di rumah, anak tetap memiliki akses pada sumber-sumber belajar, buku, surat kabar misalnya. Upaya orang tua untuk menjamin pemenuhan kebutuhan literasi anak di lingkup keluarga merupakan sebuah pendekatan pendidikan berbasis hak anak. Secara yuridis, pendekatan ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 9 UU Nomor 23 tahun 2002 secara eksplisit menyebutkan bahwa “setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan kepribadian dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya”. Sementara itu, pada pasal 3 ayat (1) Konvensi Hak Anak PBB atau Convention on the Right of the Child dengan jelas ditegaskan bahwa kepentingan terbaik bagi anak (the best interest for child)harus menjadi pertimbangan utama, dalam segala tindakan terhadap anak, baik yang dilakukan oleh orang tua/wali, sekolah, maupun negara.

Mengapa keterlibatan keluarga sebagai salah satu poros utama dalam memenuhi hak anak pada akses sumber bacaan penting untuk diupayakan di rumah? Berbagai riset baik nasional maupun internasional menunjukan kemampuan orang Indonesia yang berkaitan dengan literasi belum menggembirakan. Data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mencatat rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku sebanyak 3-4 kali dalam seminggu, dengan menghabiskan waktu 30-60 menit per hari. Artinya jumlah buku yang dibaca dalam setahun hanya berkisar 5-9 buku pertahun. Selain itu, merujuk pada indeks minat baca di Indonesia yang dirilis UNESCO pada 2012, ditemukan bahwa dari 1000 orang, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca.  Dampak secara luas terlihat pada angka buta huruf masyarakat Indonesia sebagaimana tercatat di Pusat Data dan Statistik Kemendikbud pada 2015, di mana Indonesia masih memiliki 5.984.075 orang buta huruf. Persentase buta huruf untuk usia 15 tahun ke atas mencapai 4,78 persen, usia 14-44 tahun 1,10 persen dan 11,89 persen untuk usia 45 tahun ke atas, (kompas.com, 20/12/2018). Deretan statistik ini seperti menjadi clue  bahwa sekolah tidak boleh dibiarkan menjadi single fighter dalam usaha membangun budaya baca bagi anak-anak, akan tetapi dukungan keluarga dan masyarakat umum merupakan sebuah kemutlakan.

Literasi keluarga yang melibatkan orang tua dan anak di rumah bisa melalui beberapa pendekatan berikut. Pertama, orang tua wajib menyiapkan bahan bacaan di rumah. Di keluarga, selain rak TV dan pernak-pernik rumah tangga lainnya, ketersediaan rak  atau lemari buku mestinya juga menjadi kebutuhan untuk para anggotanya. Jadi, ada semacam perpustakaan mini yang  cukup dilengkapi surat kabar, buku/bahan bacaan anak-anak, dan sumber literatur lain. Kemudian orang tua menjadi model dengan membangun kebiasaan membaca. Kebiasaan ngopi oleh ayah di rumah sambil membaca surat kabar atau buku, tampak sederhana dan biasa saja, tetapi memiliki efek domino kepada anak-anak untuk ikut menggelutinya, jika orang tua melakukannya secara rutin dalam jangka waktu lama. Singkatnya, dengan sumber bacaan yang tersedia, disertai kebiasaan membaca oleh orang tua di rumah, pola ini akan memancing rasa ingin tahu anak untuk kemudian mengakrabi bahan bacaan tersebut, dan menjadi pembaca lalu akhirnya pembelajar. Rumah, akhirnya menjadi tempat pertama anak-anak berkenalan dengan bahan bacaan, jatuh cinta pada buku, koran, majalah, sumber segala ilmu pengetahuan.

Melalui pendekatan ini, minat membaca anak tumbuh tidak atas perintah verbal orang tua, tetapi dengan kesadaran mencontoh apa yang dilakukan orang tua. Pada tahap ini, family culture dalam hal literasi dasar terutama melibatkan anak-anak telah terbentuk dan akan menguat seiring waktu tumbuh kembang anak di bawah bimbingan orang tua. Sebagai proses kreatif, jika budaya membaca dibiasakan pada anak usia dini di rumah,  dan terus berlanjut hingga memasuki usia sekolah, maka siklus  itu akan memberikan dampak positif pada perkembangan kognisi, meningkatkan kecerdasan, daya analisa, untuk membentuk individu yang unggul.

Kedua, untuk menumbuhkan rasa suka dan ketertarikan anak pada aktivitas membaca,  memberikan buku sebagai hadiah ulang tahun anak bisa menjadi alternatif lain bagi orang tua. Selain itu, secara rutin, sebulan sekali misalnya, anak diajak mengunjungi toko buku. Cara konservatif lain seperti membacakan cerita dan mendongeng juga bisa menjadi media yang efektif, untuk mencegah orang tua dan anak larut dalam aktivitas gadget yang cenderung apatis. Tentang penggambaran fungsionalitas dan manfaat membaca buku, di jaman perjuangan-Bung Hatta pernah mencetuskan sebuah petuah unggul yang menyatakan “Aku rela dipenjara, asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Urgensi pembacaan teks sebagai alat pembebasan belenggu ahistoris dan kebodohan  juga memantik pikiran tokoh pergerakan Tan Malaka, dengan kutipan terkenalnya “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi”. Intisari pikiran dua tokoh ini bisa menjadi inspirasi para orang tua, bahwa mengenalkan anak dengan buku pada hakikatnya adalah memenuhi hak dan kebutuhan ilmu pengetahuan anak-anak.

Ketiga, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa banyak opsi baru terkait sumber bacaan dalam bentuk literasi digital. Di internet, bertebaran aplikasi belajar, mesin pencarian, serta ragam situs yang bisa diakses sebagai media sumber informasi dan pengetahuan. Namun demikian, seperti pedang bermata dua, internet juga menyediakan konten yang tidak ramah anak, seperti pornografi, penipuan dan aksi-aksi tindak kekerasan. Selain itu, ragam aplikasi game dan media sosial juga ibarat candu bagi para penggunanya. Di sinilah fungsi kontrol orang tua mutlak diperlukan. Orang tua bisa menerapkan prinsip “membolehkan” dengan kontrol  bukan “melarang” untuk tidak sama sekali, terkait penggunaan gawai oleh anak. Prinsip ini akan memicu anak untuk bertanggung jawab pada aktivitas mereka di dunia maya, sekaligus mendorong anak untuk bersikap terbuka kepada orang tua ketika berhadapan dengan konten negatif di internet.

Fungsi kontrol orang tua penting untuk menjamin  aktivitas literasi digital anak ke arah yang positif, agar memiliki kemampuan memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk, dari berbagai sumber yang diakses melaui piranti komputer maupun smart phone.  Sejumlah riset tentang pengggunaan internet di Indonesia memang menunjukan hasil yang mencemaskan. Survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), menunjukkan penetrasi internet di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 143,26 juta jiwa dengan persentasi pengguna terbesar adalah remaja pada rentang usia 13-18 tahun atau 75 persen. Data lain sebagaimana dirilis harian Kompas edisi 8/11/2018, sebanyak 87,13-89,35 persen dari aktivitas digital orang Indonesia dipakai untuk mengakses media sosial dan aplikasi berbasis messanger. Aplikasi media sosial menyedot pengguna dalam jumlah yang sangat besar, berturut-turut facebook mencapai 130 juta akun, Whatsapp 99,2 juta, dan Instagram 53 juta akun. Data APJII juga menunjukan tren penggunaan internet di Indonesia untuk kegiatan produkif seperti perekonomian hanya mencapai 16,83-45,14 persen. Menurut catatan Jaringan Pegiat Litersasi Digital, terungkap bahwa keterlibatan keluarga dalam upaya literasi masih minim. Meski aktivitas digital anak sebagian besar dilakukan ketika berada di rumah, tetapi hanya 12,23 persen aktivitas literasi yang menjadikan orang tua sebagai peserta aktif. Kondisi ini merupakan tantangan berat bagi semua orang tua. Melarang anak untuk menggunakan gawai dan mengakses internet bukanlah solusi, tetapi mengarahkan mereka untuk mengakses internet untuk tujuan pengembangan kreatifitas edukatif dan sebagai sumber belajar tampak menjadi pilihan yang bijak. 

Keempat, untuk membangun kehangatan keluarga tanpa penggunaan gawai,  orang tua bisa membuat aturan yang berlaku pada rentang waktu tertentu dan wajib dipatuhi semua anggota keluarga. Misalnya, mengisi waktu dari pukul 18.00-20.00 sebagai quality time anggota keluarga untuk bertukar pikiran, bercerita, bermain dengan anak dan berdiskusi terkait pendidikan anak, pekerjaan orang tua, keadaan rumah dan lainnya. Rentang waktu itu juga bisa digunakan untuk membangun kebiasaan makan malam bersama dalam keluarga, sambil mengobrol antar anggota keluarga. Pola asuh seperti ini dibutuhkan, selain  untuk menjaga ikatan emosional dan membangun kedekatan antara anak-anak dengan ayah dan ibu, juga karena anak berhak mendapat curahan kasih sayang dari orang tua. Tipikal keluarga semacam ini akan menjadikan rumah sebagai tempat yang ramah, yang selalu dirindukan setiap anggotanya.

Secara umum, pentingnya peran keluarga terhadap kualitas individu anak juga menjadi stressing Presiden Joko Widodo ketika berpidato pada 14 Juli 2019 dalam kapasitas sebagai calon presiden terpilih periode 2019-2023. Point penting Presiden terpilih Jokowi dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) adalah menjadikan keluarga sebagai titik mulanya, dengan memastikan kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, balita, dan kesehatan anak usia sekolah terjamin. Tidak boleh ada stunting, kematian ibu hamil, kematian bayi agar tidak menghambat generasi emas Indonesia 2045. Peran orang tua dalam memenuhi hak akses literasi dasar untuk anak-anak di rumah, juga merupakan bagian terpadu dari program besar pemerintah melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dengan dua tujuan utamanya, yakni  membangun SDM sebagai pondasi pembangunan bangsa dan membekali anak dengan ketrampilan abad 21 yang mencakup; literasi dasar dan kompetensi 4C untuk mewujudkan generasi emas Indonesia 2045.

*) Guru / Penulis Lepas di antaranya menulis opini di harian Timor Express dan Pos Kupang, menulis di Kompasiana sebagai Aba Nuen, Tinggal di TTS – NTT.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here