Beranda Kampusiana Tantangan Guru Bahasa dalam Menumbuhkan Budaya Membaca

Tantangan Guru Bahasa dalam Menumbuhkan Budaya Membaca

321
0
Melita Eufrasia Jewaru, Mahasiswi S2 Program Studi Linguistik, Universitas Udayana Denpasar (Foto: Dok. Pribadi)

Opini: Melita Eufrasia Jewaru*

Seiring dengan perkembangan budaya dan kemajuan teknologi, konsep membaca juga mengalami perubahan yang cukup signifikan. Konsep membaca tidak lagi hanya bertumpu pada konteks berpikir secara eksplisit (texstual reading), melainkan sudah melibatkan dunia informasi dan media elektronik.

Membaca pada era globalisasi ini merupakan suatu keharusan yang dapat membentuk perilaku seseorang. Dengan membaca seseorang dapat menambah informasi serta memperluas ilmu pengetahuan. Membaca seharusnya sudah menjadi kebutuhan utama bagi kalangan pelajar. Konsep membaca dalam hal ini tentu saja tidak hanya pada tataran kemampuan membaca literal yang bersifat eksplisit, melainkan sampai pada tataran kemampuan membaca kreatif yang lebih bersifat implisit. Namun, pada kenyataannya kaum milenial belum menjadikan membaca sebagai suatu kewajiban sebagai seorang pelajar. Ironinya, kaum milenial lebih memilih bersahabat dengan media sosial daripada buku. Melalui media sosial, mereka dapat mengekspresikan diri lewat sebuah unggahan atau status yang akan dilihat oleh orang lain. Dengan demikian, mereka dapat membangun citra dirinya di dunia maya.

Kebiasaan membaca anak-anak Indonesia masih rendah bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, bahkan dalam kawasan Asean sekalipun. Merujuk pada sebuah studi yang dilakukan Central Connecticut State University pada tahun 2016 mengenai “Most Literate Nations in The World “ menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-60 dari total 61 negara. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan. Berdasarkan indeks nasional, tingkat minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,01 persen atau satu berbanding seribu. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang membaca buku. Sedangkan rata-rata indeks tingkat membaca di negara-negara maju berkisar antara 0,45 hingga 0,62 persen. Ironinya, indeks tingkat membaca di Indonesia berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet yang mencapai separuh dari total populasi penduduk Indonesia atau sekitar 132,7 juta.

Berdasarkan data Perpustakaan Nasional tahun 2017, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya tiga sampai empat kali per minggu. Sementara jumlah buku yang dibaca rata-rata hanya lima hingga sembilan buku per tahun. Kondisi seperti ini tentu sangat memprihatinkan, padahal peningkatan kapasitas sumber daya manusia erat kaitannya dengan budaya literasi. Gempuran inovasi di bidang teknologi membuat masyarakat terutama generasi milenial lebih senang menatap layar gawai dibandingkan membaca buku.

Seorang budayawan, Taufiq Ismail juga mengeluhkan kondisi kebiasaan membaca masyarakat Indonesia. Taufiq menyebutkan bahwa di negara maju siswa SMA diwajibkan menamatkan buku bacaan dengan jumlah tertentu sebelum mereka lulus. Di beberapa negara maju seperti Jerman, Prancis dan Belanda, siswa SMA diwajibkan untuk menamatkan 22-23 judul buku sebelum mereka lulus sekolah. Sedangkan di Indonesia, sejak tahun 1950 hingga 1997 tak ada kewajiban dari sekolah atau pemerintah kepada para siswanya untuk menamatkan buku bacaan, alias nol buku per tahun. Jika kondisi seperti ini terus saja bergulir dan tidak segera diatasi sedini mungkin, nampaknya kita tidak bisa berharap terlalu jauh pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia yang juga berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang semakin rendah.

Melihat kondisi budaya baca yang masih sangat rendah, nampaknya peran seorang guru bahasa menjadi semakin kompleks. Guru sebagai salah satu promotor dalam dunia pendidikan tidak hanya berperan sebagai pengajar yang senantiasa meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga berupaya memposisikan diri sebagai “pembimbing”. Guru sebagai “pembimbing” senantiasa mengembangkan keterampilan-keterampilan siswa salah satunya adalah mengembangkan budaya baca pada siswa. Jika sebelumnya guru hanya berfokus pada tugas mengajar saja, kini guru harus lebih mengarahkan perhatiannya pada bagaimana menumbuhkan budaya membaca siswa. Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah mengingat kecenderungan siswa yang lebih senang menghabiskan waktu di depan layar perangkat mobile untuk sekadar bermain game atau bahkan menulis status di beberapa media sosial. Sementara bagi mereka membaca adalah kegiatan yang membosankan apalagi jika membaca buku teks atau ilmu pengetahuan yang hanya berisi berbagai teori.

Kebiasaan membaca anak-anak di Indonesia adalah membaca hanya ketika mendapatkan tugas dari guru atau bahkan hanya ketika ujian saja. Itupun yang dibaca adalah mengenai materi yang berkaitan dengan tugas yang diberikan atau materi ujian. Sehingga informasi yang diperoleh dari bahan bacaan tidak menyeluruh dan mendalam. Hal ini berdampak pada minimnya pengetahuan atau informasi-informasi baru serta kualitas pendidikan yang semakin rendah. Guru perlu memperhatikan hal tersebut. Guru khususnya guru bahasa perlu meninjau kembali penyebab masih rendahnya minat membaca siswa. Bagaimana apersepsi atau motivasi yang diberikan guru sebelum memulai proses belajar mengajar? Bagaimana keefektifan metode atau strategi mengajar yang digunakan? Media pembelajaran apa yang digunakan? Bagaimana keefektifan bahan ajar yang digunakan? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang akan menuntun guru dalam menuntaskan permasalahan rendahnya budaya baca.

Menumbuhkan minat membaca bagi generasi milenial  di abad 21 ini merupakan tantangan terbesar seorang guru bahasa. Guru seolah-olah dituntut untuk mampu menjadi pengajar, pendidik sekaligus pembimbing sejati yang inovatif serta kreatif dalam menumbuhkan budaya baca siswa. Dalam hal menumbuhkan minat membaca guru perlu mengetahui karakteristik masing-masing siswa, minat serta kemampuan membaca siswa dan latar belakang keluarga siswa. Banyak hal yang perlu dipahami oleh seorang guru dalam menumbuhkan minat membaca siswa.

Kolaborasi antara guru bahasa dan orang tua siswa sangat penting dalam upaya menumbuhkan  budaya baca. Guru perlu bersinergi dengan orang tua siswa untuk mengetahui bagaimana kebiasaan membaca siswa di rumah. Kebiasaan membaca perlu ditanamkan sejak dini. Role model anak di keluarga adalah orang tua. Peran orang tua dalam mengajarkan kebiasaan membaca menjadi sangat penting untuk meningkatkan kemampuan literasi anak. Selain itu, akses fasilitas pendidikan serta kualitas sarana pendidikan harus merata sampai ke seluruh pelosok Indonesia. Hal inilah yang akan mempercepat perkembangan kualitas literasi di Indonesia.

Selain peran orang tua dan pemerataan fasilitas pendidikan yang menjadi pemicu berkembangnya budaya baca, salah satu hal yang paling krusial yang perlu diperhatikan adalah peran seorang guru bahasa. Melihat kondisi budaya baca di Indonesia yang masih rendah, barangkali sudah seharusnya guru bahasa menciptakan terobosan baru untuk menyelesaikan problematika yang tak kunjung menemukan titik terang. Terobosan baru yang cukup efektif dalam menumbuhkan budaya baca adalah penerapan strategi pembelajaran membaca. Ada beberapa strategi pembelajaran membaca yang cukup efektif dalam meningkatkan budaya baca siswa. Penerapan strategi membaca dalam proses pembelajaran akan menjadi lebih efektif dan bermanfaat jika guru menelusuri serta memahaminya satu per satu terlebih dahulu. Sehingga memudahkan guru dalam memilih dan menentukan strategi membaca yang sesuai dengan usia serta karakteristik siswa.

Penerapan strategi membaca yang sesuai dengan usia dan karakteristik siswa diharapkan mampu meningkatkan budaya serta kemampuan membaca yang mumpuni. Kemampuan membaca siswa terutama siswa SMA setelah menggunakan strategi membaca tertentu diharapkan tidak lagi hanya sebatas pada tataran ingatan atau hafalan semata namun sampai pada tahap memahami isi bacaan secara keseluruhan, mengkritisi isi bacaan, serta menciptakan ide atau gagasan baru berdasarkan informasi yang telah diperoleh dari bahan bacaan.

*) Mahasiswi S2 Program Studi Linguistik, Universitas Udayana Denpasar.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here