Beranda Opini Inovasi Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Metode Role Playing

Inovasi Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Metode Role Playing

492 views
0
Bibiana Monika Bumi, S.Pd. (Foto/Dokori)

Oleh : Bibiana Monika Bumi, S.Pd

Hampir 2O tahun saya mengajar Bahasa Inggris di beberapa sekolah
tempat saya bertugas. Beragam kesan tentang mata pelajaran itu saya
dapati. Kesimpulanya jelas, bahwa kompleksitas persoalan dan kerikil
hambatan menjadi alasan lemahnya daya serap peserta didik terhadap
pelajaran Bahasa Inggris. Namun kompleksitas persoalan tersebut
bukanlah hambatan. Justru menjadi materi yang saya selami guna
mendongkrak inovasi baru dalam menentukan pendekatan yang tepat
terhadap proses pembelajaran di sekolah.

Karena itu profesionalsme seorang guru menjadi salah satu tuntutan
utama dalam kecakapan pembelajaran terhadap peserta didik. Sebab
dengan kecakapan tersebut seorang guru dapat berkreasi, berinovasi
mengkonkretkan materi pembelajarannya. Termasuk di dalamnya
persiapan-persiapan diri yang memadai sebelum masuk kelas untuk
mengajar.

Bila seorang guru menyadari akan peran strategis memanusiakan
manusia-manausia tersebut, maka metode pembelajaran yang disajikan
selalu konten sehingga peserta didik dapat menerima pelajaran dengan
baik. Sekaligus juga menjadi alat ukur daya serap peserta didik
terhadap pengetahuan dan pembelajaran yang disajikan. Tanpa metode
yang tepat dan persiapan yang memadai, strategi penjabaran yang
efektif mustahil pembelajaran dapat berjalan secara efektif.
Sebaliknya justru proses pembelajaran di sekolah cendrung monoton.
Substansi pembelajaran tidak relevan dan tepat sasaran.

Salah satu pendekatan efektif dalam pembelajaran bahasa Inggris di
sekolah adalah Metode Role Playing. Metode ini semata merujuk pada
pengalaman mengajar selama ini. Sebab fakta membuktikan bahwa dengan
Metode Role Playing yang saya gunakan selama ini memberi daya ungkit
yang baik bagi peserta didik. Mereka terlibat secara aktif dalam
keseluruhan proses belajar mengajar berlangsung. Daya serap peserta
didik terhadap materi yang disajikan pun menjadi mudah. Indikatornya
peserta didik sanggup membahasakan materi yang disajikan dalam
formulasi yang mereka temukan sendiri. Susana menjadi akrab. Mereka
merasa lebih in dan memiliki keberanian untuk mencakapkan pengetahuan
yang telah diterima tersebut.

Namun pertanyaan bagi kita adalah bagaimana dan seperti apakah Metode
Role Playing itu? Sejauh pengetahuan saya sudah cukup banyak ahli
merumuskan konsep tentang metode tersebut. Hemat saya, apa yang
mereka rumuskan tentang Metode Role Playing tersebut berdasarkan
hasil penelitian mendalam. Pada kolom bermartabat ini saya sebutkan
beberapa diantaranya sebagai bahan referensinya.

Jill Hadfield dan Basri Syamsu dalam Santoso, (2011), Baroro (2011),
Hadari Nawawi dan Hapidin ( Kartini, 2007) dan masih banyak lagi
para ahli yang membahas tentang Metode Role Playing itu. Pada intinya
konsep yang digagaskan para ahli yang saya sebutkan ini memiliki
penekanan yang sama. Mereka menggarisbawahi bahwa Metode Role
Playing adalah sejenis permainan yang di dalamnya ada tujuan, aturan
dan sekaligus melibatkan unsur senang. Atau suatu penguasaan
bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan
peserta didik. Dapat pula diartikan mendramatisasikan materi
pembelajaran beupa tingkah laku orang-orang tertentu dengan posisi
yang membedakan peranan masing-masing dalam suatu organisasi atau
kelompok di masyarakat.

Penekanan pada konsep ini adalah peserta didik diberi kesempatan
lebih luas untuk mengembangkan imajinasinya dalam memainkan peranan
seorang tokoh atau benda-benda tertentu. Di sini tugas guru memberi
penjelasan singkat terhadap peran yang dimainkan peserta didik agar
mereka menghayati sifat-sifat dari tokoh atau benda tersebut. Sehingga
dalam bermain peran, peserta didik dalam nuansa kebebasan
mengekspresikannya dengan menggunakan benda-benda sekitarnya. Peserta
didik diarahkan agar dapat menginternalisasikan, menghayalkannya
materi pembahasan dalam peran tokoh yang dibawakan.

Dengan kata lain model pembelajaran Role Playing merupakan
ekspetasi dan inovasi terhadap materi pembelajaran dengan menekankan
permainan peran. Meski diformulasikan dalam bentuk permainan peran,
tetapi metode tersebut termuat aturan, tujuan, dan unsur senang
dalam melakukannya.

Metode Role Playing menjadikan suasa kelas amat akrab, menyenangkan
dan membebaskan peserta didik dari tekanan psikologis di sekitarnya .
Di titik ini menjadi benar apa yang disampaikan Nursid Sumaatmadja
(Kartini, 2007) yang mengatakan bahwa Metode Role Playing
difokuskan pada sejauh mana penghayatan peranan sosial yang
dimainkan peserta didik di masyarakat.

Misalnya anak memerankan tokoh nelayan yang sedang mengais rejeki di
tengah laut. Bagaimana kiblat seorang anak yang menggembalakan ternak
di tengah savanna. Atau memainkan peran bagaimana seekor kucing
yang sedang mengendap-endap mencari mangsanya. Atau pada binatang
kupu-kupu yang menghisap madu bunga, bagaimana gerakan pohon yang
ditiup angin, dan sebagainya. Ini sekadar contoh. Karena itu arahan
guru plus imajinasi peserta didik sangatlah menentukan bagaimana
Metode Role Playing diefektifkan, disini-kinikan dalam peran yang
harus dimainkan.

Dalam aras ini peserta didik harus diperlakukan sebagai subyek
pembelajaran. Mereka secara aktif melakukan praktek-praktek berbahasa
Inggris bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Konkretnya
mereka dikondisikan pada situasi tertentu untuk memainkan peran
orang lain, meskipun saat itu pembelajaran berlangsung di dalam
kelas.

• Plus – Minus

Metode Role Playing bukanlah pendekatan yang purna. Seperti pada
galibnya setiap metode, apapun bentuknya selalu ada plus-minusnya.
Terutama berhadapan dengan satuan materi-materi dalam setiap
kesempatan pembelajaran. Sebab materi di setiap kesempatan selalu
memuat tema yang berbeda-beda. Demikian dengan Metode Role Playing
tidak dapat diimplementasikan di semua tema pembelajaran. Metode
tersebut dapat digunakan apabila seorang guru sanggup berasumsi
bahwa tema pembahasan sangat cocok dengan metode tersebut.

Menurut Zuhaerini ( Santoso, 2011) Metode Role Playing memiliki
kelebihan. Metode ini dapat digunakan apabila materi pembelajaran
pada pertemuan tertentu memiliki sasaran memberi afeksi atau
stimuli bagi peserta didik untuk menyelesaikan masalah-masalah
sosial-psikologis yang sering mereka hadapi atau mereka temukan di
tengah masyarakat. Bisa juga Metode Role Playing digunakan
berdasarkan pertimbangan didaktik dan efektif apabila materi
pembelajaran pada pertemuan tersebut memiliki sasaran afektif,
menambah wawasan pengetahuan dan penghayatan yang lebih detil dan
mendalam.

Karena itu yang dituntut bagi seorang guru adalah daya kreasi dan
inovasi dalam menemukan dan menentukan metode yang tepat untuk setiap
pertemuan pembelajaran. Sebab dengan metode yang tepat di setiap
pertemuan pembelajaran dapat berdampak positif bagi peserta didik.

Keunggulan lain dari Metode Role Playing adalah mengantar peserta
didik pada suasana berbeda. Yaitu suatu kondisi di mana peserta
didik tanpa sadar menggunakan ungkapan-ungkapan terkait materi yang
telah dan sedang mereka pelajari. Peserta didik akan merasa senang
karena proses pembelajarannya menekankan aspek bermain. Sebab secara
implisit bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan
pengalaman dan dimensi “di sini dan kini” (here and now) sebagai isi
pengajarannya.

Lebih jauh dari itu Metode Role Playing selalu memberi ruang
kemungkinan kepada peserta didik untuk mengungkapkan
perasaan-perasaannya tanpa bercermin kepada orang lain. Emosi dan
ide-ide peserta didik dapat dirangsang ke taraf kesadaran yang
kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Dengan itu proses
psikologis yang tersembunyi (covert) seperti sikap,-nilai, perasaan
dan sistem keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui
kombinasi peranan secara spontan dalam kelompok.

• Aplikasi

Sebagaimana saya kemukakan terdahulu bahwa Metode Role Playing
bukanlah metode satu-satunya. Amat banyak metode yang dapat kita
gunakan dalam pendekatan pembelajaran. Saya hanya sharingkan ini ke
hadapan teman-teman guru sebagai media perjumpaan pengalaman saja.
Semoga dalam akhlak pelayanan ini kita tetap berimprovisasi,
berimajinasi agar menemukan metode yang tepat dalam setiap proses
pembelajaran.

Kecuali itu, dengan sharing pengalaman ini kita sanggup
menjembatani materi dalam kemasan yang memadai dan aplikatif sehingga
peserta didik sanggup menterjemahkan lebih lanjut dalam kesadaran
pikiran mereka yang leluasa dan lugas.

Sejujurnya saya menekankan Metode Role Playing sebagai pendekatan
efektif dalam pembelajaran Bahasa Inggris bagi peserta didik karena
pengalaman semata. Di mana tema-tema pembelajaran yang menggunakan
pendekatan metode tersebut selalu berbanding lurus dengan capaian
hasil dari peserta didik. Di mana peserta didik menjadi pribadi
yang imajinatif, jiwa prakarsa, mandiri dalam berfikir, ingin tahu,
penuh energi dan percaya diri. Suasana pembelajaran menjadi dinamis
dan menyenangkan. ***

*) Penulis adalah Guru Bahasa Inggris di
SMAN 2 Borong – Manggarai Timur.

Catatan Redaksi : Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here