Beranda Sastra Nyawa Diganti Nyawa

Nyawa Diganti Nyawa

50
0
Foto ilustrasi (Sumber: Corgaasbeek/Pixabay)

Cerpen.

Oleh: Marselus Natar*

Seekor ayam jantan di halaman rumah Pak Doger menggelepar seperti tengah tertikam panah. Tidak ada satu pun orang yang mengetahui penyebab mengapa ayam jago sekonyong-konyong menggelepar seperti itu.

Tidak jauh dari tempat ayam jago itu menggelepar, terlihat dedaunan kering beterbangan dari berbagai arah bagai ribuan lebah yang sedang berpindah habitatnya dan berkumpul di satu titik tertentu.

Secara mengejutkan, dedaunan itu tiba-tiba membentuk suatu pola yang amat sangat aneh dan misterius. Pola itu membentuk semacam pusaran air hanya saja ada sedikit perbedaan, kalau pusaran dalam air mengerucut dari permukaan air menuju dasar air tersebut, sementara yang tengah terjadi kali ini berlawanan yaitu mengerucut dari tanah menuju angkasa.

Keanehan ini terjadi ketika matahari menunjukkan keangkuhan dan kecongkakannya dari bubungan angkasa, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Gang dipenuhi anak-anak Sekolah Dasar yang baru saja pulang dari sekolah. Hiruk pikuk keramaian dan kegaduhan suara anak-anak tidak menjadi parasit pun penghalang bagi berlangsungnya peristiwa misterius itu.

Tiga hari yang lalu, hal misterius juga terjadi dalam tragedi meninggalnya seorang gadis muda, anak semata wayang seorang pengusaha mebel yang cukup kaya. Kematian gadis muda itu ditengarai prahara yang sama sekali tidak masuk akal sehat, ia meninggal karena tersedak nasi saat santap siang.  

Kronologis peristiwa itu belum jelas lantaran tidak ada saksi mata saat peristiwa terjadi. Berdasarkan pengakuan orang-orang terdekat, benar apabila peristiwa itu tidak disaksikan siapa-siapa sebab gadis muda itu sedang seorang diri di rumahnya.

Cerita kematian gadis muda itu belakangan ini menjadi buah bibir warga kampung, entah di kebun, di tengah jalan, di dapur-dapur rumah dan di halaman rumah saat ibu-ibu berkumpul mencari kutuk di kepala mereka.

Ada banyak rumor yang beredar, dari yang masuk akal sampai pada yang berbau mistis. Anehnya, rumor yang dinarasikan kebanyakan berbau mistis, tentang intervensi potiwolo dan suanggi dalam kematian gadis muda itu.

Kematian gadis muda itu seolah-olah tanpa kuasa pun intervensi mutlak dari Sang Pemberi dan Pengambil kehidupan ini. Ya, lain kepala lain pendapat, lain pengetahuan lain pemahaman. Kematian gadis muda itu berkutat pada problem mistis sehingga masih dianggap misterius.

Pak Doger adalah putra bungsu dari kakek Bila yang terkenal dengan atambeko atau atapecing karena memiliki ilmu gaib yang hebat. Untuk membunuh hewan saja, ia tidak membutuhkan benda tajam. Ia cukup menunjukkan jarinya ke arah hewan yang hendak dibunuh.

Bukan hanya di situ, apabila berjalan di tengah hujan deras badan dan pakaian kakek Bila tidak pernah basah. Di waktu tertentu, kakek Bila sanggup menjelmakan dirinya dalam bentuk hewan peliharaan manusia, entah babi, anjing, kambing, kucing dan lain sebagainya seturut kehendaknya.

Sampai hari ini, usia kakek Bila sudah mencapai seratus lima puluhan tahun. Sebuah usia yang tentunya di luar dugaan manusia, bisa jadi dapat dikategorikan sebagai manusia dengan umur terpanjang di muka bumi ini.

Atas usia yang dicapainya itu, warga kampung sedari dulu menaruh curiga bahwa ia memperpanjang usianya dengan cara yang mengerikan yaitu mengarahkan segala malapetaka yang hendak menimpanya kepada orang lain di kampung itu sebagai tumbal pengganti dirinya. Ia melakukan ritual kando dan pendo kepada orang lain agar dirinya selamat. Demikianlah warga kampung mendeskripsikan hal ihwal terjadi yang dituturkan dari mulut ke mulut.

Tragedi meninggalnya seorang gadis muda, anak perempuan semata wayang seorang pengusaha mebel pun tak pelak dicurigai sebagai buah dari ritual kando dan pendo kakek Bila.

Pada malam menjelang kematian gadis muda itu, beberapa warga yang pulang nonton televisi tengah malam memergoki kakek Bila mondar mandir di halaman rumahnya. Beberapa pemuda menghentikan langkah kaki mereka dengan tujuan mengintai langkah laku kakek Bila. Alhasil, mereka menyaksikan sebuah keanehan. Kakek Bila melakukan ritual yang tidak mereka paham, persis di bawah bundaran naga tempat segala sesajenan ditempatkan untuk arwah para leluhur.

Salak anjing bersahutan di tengah kampung. Suara burung gagak dan burung hantu begitu lembut dan merdu, laksana kumandang gong dan gendang berdendang menyambut kedatangan pengantin baru dalam tradisi Manggarai.

Setelah melakukan ritual tersebut, kakek Bila berkali-kali mengacungkan tangannya ke udara lalu perlahan turun sembari menunjukkan jari telunjuknya ke beberapa rumah warga.

Beberapa pemuda itu mengakui bahwa apa yang mereka saksikan adalah sebuah keanehan. Lantaran aneh, beberapa pemuda itu perlahan meninggalkan tempat pengintaian mereka, lalu bergegas pulang ke rumah mereka masing-masing. Di dalam perjalanan pulang, seorang pemuda berbisik kepada seorang pemuda di sampingnya katanya, akan ada sebuah peristiwa yang memilukan setelah ini.

Perkataan pemuda itu sepertinya diaminkan oleh Sang pemberi kehidupan ini. Hari tengah garang dan ganas dari tempat peredarannya. Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, di mana kebanyakan orang tengah melakukan santap siang.

Demikian pun gadis cantik, putri semata wayang seorang pengusaha mebel itu. Nahasnya, ia harus menyangkal dirinya sendiri tentang kesuksesan di balik mimpi indahnya di masa depan. Maut membujuk dan membawanya pergi, remah-remah nasi seolah-olah menjadi racun maut yang memisahkan dirinya dari orang-orang terdekatnya.

Ia pun pulang tanpa seuntai kata wasiat, separuh nasi dalam piringnya seolah memberikan berlaksa pesan, kematian datang tanpa sekata pesan, tanpa bisa ditunda walau masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, walau umur masih seusia jagung, walau mimpi belum sempat tergapai. 

Ayah gadis muda itu kebingungan. Belakangan ini langkah lakunya seperti orang linglung. Beberapa mulut membuntut telinganya bermaksud menghasut. Beberapa hari kemudian, amarah tukang mebel itu membara. Segala kata hasutan menyulut murka angkaranya. Sebagai pengusaha sukses, ia menyampaikan idenya kepada bawahannya agar sesegera mungkin mencari atapecing atau atambeko di berbagai daerah guna membunuh kakek Bila.

Alhasil, beberapa bawahannya menemukan seorang atapecing atau atambeko dari sebuah daerah yang cukup terkenal dengan dunia sihirnya. Setibanya di rumah pengusaha mebel itu, atapecing atau atambeko itu menanyakan maksud pun tujuan mengapa dia diundang ke rumahnya.

Pengusaha mebel itu mulai mengutarakan maksudnya hingga pada akhirnya atapecing atau atambeko itu menyimpulkan pembicaraannya, apakah mau direnggut saja nyawa dari pelaku di balik kematian putrinya, atau tidak.

Pengusaha mebel itu sontak menjawab, bagaimana pun dan apa pun, nyawa harus diganti dengan nyawa. Maka diambilnyalah ceca dari mbere dari punggung atapecing atau atambeko itu, lalu  digelarnya di atas tikar di rumah itu.

Sebuah ceca berbentuk taring babi bergerak dan melompat-lompat di atas tikar, sementara itu, serentak kata terucap dari mulut atapecing atau atambekoitu, bunuh dia!

Ritual itu dilangsungkan menjelang matahari membentuk horizon dari angkasa. Beberapa saat kemudian, sekonyong-konyong terdengarlah suara ratap tangis dari sebuah rumah yang jaraknya tidak jauh dari rumah pengusaha mebel itu.

Seorang anak kecil berlari-lari di gang kampung sembari meletupkan kata, kakek Bila meninggal. Beberapa warga memilih berdiam diri dalam rumah mereka.

Seorang lelaki paruh baya dengan langkah tergontai menyusuri gang kampung dengan sebatang rokok yang terbuat dari daun lontar di tangannya.Tidak ada orang yang melayat di rumah duka, gumamnya sendu. Sebab semua orang tahu, siapa sosok kakek Bila.

Keterangan:

Potiwolo, suanggi: Sebuah sebutan dalam bahasa Manggarai untuk setan atau makhluk halus.

Ata pecing atau atambeko: Orang yang memiliki kemampuan dalam dunia supranatural, orang pintar atau dukun.

Kando dan pendo: Sebuah ritual untuk menolak bala atau malapetaka. Secara harfiah, kando berarti mendorong atau membuang, pendo berarti mengarahkan atau mengalihkan.

Naga: Sebutan dalam bahasa Manggarai untuk Waruga.

Ceca: Pernak-pernik yang diyakini memiliki kekuatan gaib dalam praktik perdukunan. Biasanya berupa akar kayu, batu, taring hewan, bulu hewan.

Mbere: Sebuah wadah berukuran kecil dari anyaman tembikar yang digunakan untuk menyimpan rokok, sirih pinang.

*) Penulis adalah seorang Rohaniwan Katolik. Selain sebagai penulis cerpen lepas, ia juga seorang penyuka sastra, penikmat kopi dan penyuka derenenggo atau nyanyian rakyat dalam budaya Manggarai. Beberapa Cerpennya pernah dipublikasikan di media Pos Kupang, Flores Pos, Horizondipantara, majalah OIKOS, Sekarang tinggal dan menetap di Komunitas St. Aloysius, Ndao – Ende.

**)Mohon maaf apabila ada kesamaan kisah, tempat dan nama. Cerita ini hanyalah hasil imajinasi penulis semata. Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here