Beranda Opini Lembata, Pulau Bencana Yang Selalu Siap

Lembata, Pulau Bencana Yang Selalu Siap

273
0
Richard Toulwala, Dosen Ilmu Pemerintahan STPM St. Ursula, Ende. (Foto: DOK. Pribadi)

Opini: Richard Toulwala*

Sebutan Lembata sebagai daerah yang salah urus bukanlah hal yang baru dan mencengangkan. Steph Tupeng Witin dalam bukunya “Lembata, Negeri Kecil Salah Urus” sudah memperkenalkan Lembata sebagai sebuah daerah yang salah urus.

Namun di tengah carut-marut pembangunan di Lembata, ada satu hal yang patut mendapat apresiasi yakni kesiapannya dalam menghadapi bencana. Kesuksesan itu tak terlepas dari buah kerja keras dan penggenjotan kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah yang terus mencari sistem terbaik, komitmen dan sinergitas antar lembaga.

Semua kegigihan itu menjadikan BPBD sebagai salah satu rujukan kebanggaan Pemerintah Lembata saat ini.

BPBD Lembata Jadi Primadona

BPBD Lembata dalam beberapa tahun terakhir sibuk mengampanyekan pentingnya berinvestasi dalam mitigasi bencana dengan menggandeng PRB, PLAN Internasional, Yayasan Bina Sejahtera (YBS) Lembata, CIS Timor dan lembaga lainnya.

Sinergitas yang dibangun antar lembaga tersebut bukan isapan jempol belaka. Berbagai terobosan dan program inovatif manajemen bencana sudah dilakukan.

Kegenitan BPBD Lembata sebagai pelopor mitigasi bencana tak terlepas dari kegelisahan masyarakat mengenai kehidupan mereka yang terancam bencana dari tahun ke tahun. Hal ini dapat terjadi karena secara geografis Kabupaten Lembata berada pada lempeng Euroasia, lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Philipina.

Pada bagian Utara Lembata terbentang patahan/trust Flores dan Weber. Di daratan pulau Lembata juga terdapat beberapa sesar. Kondisi geologis tersebut di atas yang menjadikan sebagian besar wilayah Kabupaten Lembata rawan terhadap ancaman gempa, tsunami dan letusan gunung api.

Potensi bencana di atas mendorong BPBD Lembata untuk menciptakan program dan kegiatan inovatif. Penerbitan buku saku, pengadvokasian PRB-API oleh siswa/i, pengintegrasian mitigasi bencana ke dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan di desa serta simulasi kesiapsiagaan di seluruh pelosok lokalitas Lembata menjadikan BPBD Lembata sebagai salah satu laboratorium pembelajaran di Indonesia.

BPBD Lembata yang muncul sebagai primadona Lembata seakan menenggelamkan kekecewaan rakyat Lembata terhadap kinerja pembangunan secara keseluruhan. Penegasian dan penilaian miring oleh rakyat perlahan-lahan dihilangkan.

Terhadap keseksian BPBD Lembata dalam membentuk opini publik tentang pentingnya mitigasi bencana, tidak berlebihan bila saya menyejajarkan mereka dengan UNDP dan UN-Ocha yang belakangan ini gencar mengkampanyekan mitigasi bencana.

Ada tagline mereka yang berbunyi: “Every 1 dollar spent on preparedness saves 7 dollars in emergency response. Act Now, Save Later!”, Satu dolar yang diinvestasikan dalam mitigasi bencana akan menyelamatkan 7 dolar saat terjadi bencana.

Dengan cara cerdas, BPBD Lembata menyadarkan masyarakat bahwa mereka semestinya bisa mengurangi angka korban dan angka kerugian bencana yang tentu tak mampu dihindari.

Intensifikasi Pemaknaannya

Geliat prestisius yang ditunjukkan BPBD Lembata setidaknya memberikan nilai-nilai yang patut dicontohi oleh Organisasi Perangkat Daerah mana pun, masyarakat, pemerintah dan korporasi.  

Neil Grigg dalam Robert J. Kodatie dan Roestam Sjarif menyebutkan beberapa fase utama dan fungsi pengelolaan bencana antara lain; planning, organising, directing, coordinating, controlling, supervising, budgeting, dan financing. Delapan tahapan tersebut sudah dilewati dengan baik oleh BPBD Lembata.

Sebagaimana tahapan yang telah disebutkan di atas, poin yang memberikan apresiasi lebih terhadap BPBD Lembata adalah perannya dalam dericting. Dericting lebih dominan ke aspek-aspek leadership, yaitu proses kepemimpinan, pembimbingan, pembinaan, pengarahan, motivator, reward, punishment, konselor dan pelatihan.

Dalam berbagai kegiatan yang diprogramkan dalam renja tahunan, BPBD Lembata telah membuktikan fungsinya sebagai leader bagi komunitas dan organisasi peduli bencana lainnya.

Sinergitas yang dibangun lintas OPD bahkan melibatkan pihak swasta menunjukkan bahwa BPBD sukses mengusung pengurangan resiko bencana berbasis multi stakeholders. Kepemimpinan dalam pengelolaan bencana mempunyai peran yang vital karena akan memengaruhi semua aspek dalam fase-fase tersebut.

Eksistensi BPBD Lembata sebagai leading sektor hanya mampu bertahan bila jiwa komitmen terus tertanam dan ditularkan ke organisasi peduli bencana lainnya agar tetap solid. Eksistensi BPBD yang menorehkan opini positif di mata publik mesti didukung dengan kebijakan pemerintah daerah.

Kerlingan mata dari pemerintah daerah sudah cukup memberikan dukungan moril bagi mereka, karena sekecil apapun prestasi BPBD patut mendapat apresiasi. Dan yang lebih penting, kinerja BPBD setidaknya telah mempurifikasi stigma hitam yang melekat pada Lembata sebagai daerah yang salah urus. Salam Tangguh!

*) Dosen Ilmu Pemerintahan STPM St. Ursula, Ende.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here