Beranda Opini Kemerdekaan: “Jatuh Bangun Aku Mengejarmu”

Kemerdekaan: “Jatuh Bangun Aku Mengejarmu”

440 views
0
Yono Paing CMF, Penghuni Wisma Skolastikat/ Seminari Tinggi Claretian, Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Opini: Yono Paing, CMF*

Jatuh bangun aku mengejarmu

Namun dirimu tak mau mengerti

Kubawakan segenggam cinta

Namun kau meminta diriku

Membawakan bulan ke pangkuanmu

Jatuh bangun aku mencintai

Namun dirimu tak mau mengerti

Kubawakan segelas air

Namun kau meminta lautan

Tak sanggup diriku sungguh tak sanggup …

Lagu Meggy Z di atas menyetuh penulis ketIka ingin merangkai sejuta huruf dalam tulisan ini. Saya mencoba mendengar berulang-ulang kata-kata dari lirik lagu ini. Meggy Z adalah seorang penyanyi dangdut senior, meski dia juga menjajal dunia seni peran, namun pamornya lebih banyak di dunia musik dangdut.

Loyalitas Meggy dalam dunia dangdut pun telah diakui. Pada ajang Anugerah Dangdut TPI 1997, ia mendapat penghargaan sebagai Penyanyi Rekaman Dangdut Terbaik. Selain favorit para juri, lagu ini pun menjadi favorit para penggemar dangdut tanah air. Pada tahun 90-an, hampir semua lagu-lagu yang dibawakan Meggy menjadi hits. Akan tetapi 21 Oktober 2009, Meggy berpulang ke pangkuan Bapa.

Bagi saya, lagu Meggy Z yang berjudul “Jatuh Bangun Aku Mengejarmu” merupakan inspirasi yang bagus untuk memaknai arti terdalam kemerdekaan Indonesia. Lagu ini jelas bergenre dangdut romantis dan berkisah tentang sepasang kekasih. Namun, penulis membenangmerahkan dengan kemerdekaan Indonesia. Penulis mencoba memaknai isi lagu ini dalam konteks siapa aku untuk Indonesia.

Tak banyak orang menyadari ini. Kita kadang-kadang terlarut dalam romantisme kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan. Kita menikmati itu seolah-olah hadiah yang hanya dinikmati begitu saja. Tetapi, toh apa yang kita berIkan untuk Indonesia terutama para pejuang yang kini hanya nama dikenang. Apakah kita berani untuk melanjutkan karya terbesar para pahlawan untuk menjaga keutuhan Indonesia.

Kemerdekaan Sejati

Pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 atas nama bangsa Indonesia Soekarno dan Muhamad Hatta telah memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Sebuah peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia yaitu Kemerdekaan. Sejak saat itu bangsa Indonesia terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang. Peristiwa ini memiliki arti yang sangat penting dan fundamental bagi bangsa kita.

Kemerdekaan adalah suatu “tangga emas” untuk menuju masyarakat  adil dan makmur. Dengan kemerdekaan bukan berarti perjuangan bangsa Indonesia sudah selesai namun justru berbagai tantangan dan pergulatan akan semakin membias bagi bangsa kita. Tantangan-tantangan atau penjajahan yang sedang dan akan terus terjadi adalah penjajahan, dalam bidang ekonomi, politik dan sebagainya. Dengan demikian, apakah Indonesia telah merdeka? Belum. Di dalam area kita sendiri lebih berbahaya bagi bangsa Indonesia.

Dalam usia yang ke74 tahun kemerdekaan Indonesia ini masih ada sebagian rakyat yang belum merasakan arti praktis dari kemerdekaan yang sesungguhnya. Mereka masih bergelimang dalam kemiskinan dan penderitaan. Masih banyak anak-anak di negeri ini mengalami busung lapar, puluhan ribu para pejuang masih berlindung dalam gubuk-gubuk yang kumuh. Jutaan petani yang terus berteriak tak berdaya karena mahalnya harga pupuk.

Sebagai bangsa Indonesia yang terlahir di bumi tanah air Indonesia kita harus menyadari akan mulia dan terpujinya perjuangan para pendiri negara ini. Dengan gigih mereka memperjuangkan kemerdekaan untuk lepas dari belenggu penjajah. Pengorbanan diri sebagai pahlawan bangsa dalam mencapai suatu kemerdekaan merupakan wujud tekat yang kuat dalam menentang penjajahan di muka bumi ini. Oleh karenanya apa yang telah dilakukan dan diperjuangkan oleh para pendiri negara, para pejuang bangsa, para pahlawan bangsa tidak boleh disia-siakan dan harus dipertahankan serta diwujudkan dalam tindakan dan perbuatan nyata guna mencapai tujuan nasional bangsa.

Mencintai Kemerdekaan: “Mencinta KeBhinekaan”

Indonesia telah lama dikenal banyak orang sebagai suatu negara yang merdeka, adil dan makmur. Hal ini tidak saja diketahui orang Indonesia tetapi juga dunia. Namun, sangat disayangkan dengan adanya problema-problema keBhinekaan yang terjadi selama ini seperti kejadian poso, radIkalisme dan deretan kejadian lain menunjukkan terkikisnya rasa akan adanya keberagaman di Indonesia. Peristiwa-peristiwa tersebut sesungguhnya mempertanyakan eksitensi kemerdekaan yang telah lama kita miliki. Sejatinya kemerdekaan Republik Indonesia saat ini boleh dIkatakan berada dalam “kevakuman makna” dengan adanya sIkap intoleransi terhadap pluralitas agama, budaya, ras, bahasa dan lain sebagainya.

Indonesia adalah negara gado-gado atau bagaIkan sebuah taman bunga yang indah. Karena kaya akan perbedaan (budaya, bahasa, ras, agama dan lain sebagainya). KeBhinekaan merupakan suatu kekayaan yang membanggakan seorang Indonesia. Namun, kedangkalan mind-setnya membuat seseorang tidak lagi berspektif keBhinekaan sebagai kekayaan dan kesempurnaan negaraku tercinta Republik Indonesia, tetapi sebagai landasan dasar bahwa perbedaan adalah musuh dan lawanku. Banyak orang tertawa akan kedangkalan cara berpikir demikian.

74 tahun yang silam, Indonesia telah ditaburi benih perbedaan yang mampu mengantarkan seorang Indonesia pada falling in diversity love. Bhineka Tunggal Ika berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Apakah itu hanya kata kiasan yang memperindah kemerdekaan Indonesia secara khusus dalam Pancasila lambang negara kita saja. Apakah Bhineka Tunggal Ika hanya sebatas kata-kata tanpa arti? Ungkapan  itu sesungguhnya memiliki nilai esensial keberagaman yang mampu menggugah hati setiap individu yang beridentitaskan Indonesia. Di dalamnya mengandung spiritualitas kemerdekaan yang sesungguhnya. Tapi apa dayanya manusia saat ini berpandangan dan memaknai nilai tersebut dengan perspektif yang berada di bawah titik nol, sehingga terjadi banyak peristiwa yang tidak diharapkan.

Seorang Indonesia harus berspiritualitaskan ke-Bhinekaan. Karena tanpa itu Indonesia akan sulit menerima dan saling memahami perbedaan yang ditemuinya di mana saja ia berada. Jika hal ini terjadi sebenarnya secara tidak langsung Indonesia berada dalam realitas penjajahan akan pemahaman, cara berpikir dan bertindak. Realitas bertransformasi masyarakat sekarang ini hanya pada taraf invasi dan tidak mencapai taraf konvergensi. Hubungan antarkelompok masih terjadi saling hegemoni. Multikulturalisme yang sudah ada sejak dahulu masih sebatas realitas hidup dan belum menjadi ideologi. Spiritualitas ke-Bhinekaan berarti masyarakat tidak hanya sekedar co-eksistensi (tinggal bersama), tetapi juga pro-eksistensi (saling memberdayakan).

Sekarang ini Indonesia telah menginjak usia yang ke 74 akan hari kemerdekaannya. Pemahaman kemerdekaan tidak sebatas bebas dari penjajahan negara lain (Belanda dan Jepang), tetapi memiliki makna yang lebih mendalam. Merdeka berarti bebas. Merdeka berarti mencintai keberagaman. Hidup seorang Indonesia harus berspiritualitaskan ke-Bhinekaan. Jangan pernah mengatakan ”aku Indonesia kalau kamu tidak mencintai Pancasila, kemerdekaan dan keberagaman”. Keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan suatu kekayaan dan kesempurnaan. Titik awal kemerdekaan adalah mencintai segala sesuatu yang menjadi kepunyaan Indonesia.

Kemerdekaan dan ke-Bhinekaan merupakan dua nilai penting bagi bangsa Indonesia yang tak dapat dilepas-pisahkan. Keduanya mempunyai co-relation yang kuat dan mampu menyempurnakan eksistensi nilai Pancasila. Seorang yang sungguh-sungguh Indonesia harus mencintai dan mengasplikasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehariannya. Mencintai kemerdekaan berarti mencintai ke-Bhinekaan (keberagaman/perbedaan). “Kita adalah Indonesia, Indonesia adalah kita”. Cintailah ke-Bhinekaan sebagaimana kita mencintai hidup kita dan masa depan kita.

*)Penghuni Seminari Tinggi Claretian, Yogyakarta dan Pencinta Literasi.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here