Beranda Sastra Puisi ǀ Janji

Puisi ǀ Janji

139 views
0
Ilustrasi (Foto: NexusPromo/Pixabay)

Puisi-Puisi: Acy K*

Janji

Andai waktu masih milik kita, ingin kuputar menjadi nanti

Sumpah setia yang terucap hanyalah kalimat penenang

Kita belum saling menemukan

Menggengam tangan namun tak pernah menetap di lubuk hati

Tentang janji itu di mana hilangnya…

Ikrar kau dan aku tersenyum di depan saksi

Bersama selamanya, dalam susah dan senang

dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit…

Ke mana janji itu?

Hanya cerita terbawah angin lalu raib tanpa jejak?

Hari ini yang kulalui terasa berat…

Kamu yang aku harapkan terus menggenggam tanganku

Saat aku jatuh, kehilangan arah tak kunjung datang

Aku tertatih sendiri menggenggam perih

Lelah kumenagih ucap dari bibirmu

Mungkin aku takkan bicara lagi

Hanya senyum sesal kuukir

Saat kupergi membawa perihku sendiri

Tak ada lagi kita seperti dahulu

Aku akan pergi untuk selamanya.

(Selasa, 6 Agustus 2019) ***

Dendam

Kesakitan-kesakitan ini sungguh mematikanku

Tutur kata yang menikam

Menorehkan luka yang teramat dalam

Senyum manis telah hilang

Rasa dendam ini bersarang

Membantu membekukan hati

Hanya kebencian berkumandang

Puing puing cinta berterbangan

Tanpa satupun yang tersisah.

Dalam diam ku melihat raut wajah itu

Wajah yang tak pernah aku inginkan

Wajah yang selalu menorehkan amarah dan luka untukku

Aku benci…

Wajah manis penuh kepalsuan

Aku benci…

Sandiwara yang engkau buat untuk menjebakku

Aku benci… wajah tua itu

Aku benci tatapan licik itu

Yang selalu menang sendiri

Yang selalu ingin di hormati

Inginku hancurkan semuanya

Biar hilang biar musnah.

(Selasa, 6 Agustus 2019) ***

Surat Kecil untuk Anakku

Selamat pagi anakku sayang

apa kabar dirimu nak?

Maafkan ibu yang tak bisa mengikuti setiap perkembanganmu

Maafkan ibu yang tak bisa menemani hari-harimu

Seharusnya ibu ada di sana, di sisimu mendekap erat tubuhmu

Saat musim dingin di setiap hari mengusikmu

Seharusnya ibu yang selalu menenangkanmu saat kamu menangis

Seharusnya ibu yang memegang tanganmu melatihmu berjalan nak

Ingin sekali ibu melakukan itu nak,

Bahkan setiap hari aku ingin, meskipun sekedar tahu tentangmu nak

Kamu tahu nak betapa hatiku terasa hancur tak tersisa

Satu-satunya alasanku untuk terus hidup tak lagi bisa aku sentuh

Mereka begitu kejam hempaskanku

Tanpa sedikit rasa iba

Ingin memberontak, tapi aku hanya sendiri

Aku tak punya kekuatan untuk itu

Anakku sayang cintaku padamu tak akan pernah tergantikan

Jangan dengarkan kata mereka

yang membuatmu benci padaku

Tidak nak…ibu tidak seperti kata mereka

Suatu hari kamu akan tahu kebenaran

Atas semua yang mereka lakukan padaku

Tak perlu kau risau sayangku

Ibu hanya perlu melewati semua ini

Ibu pastikan tak akan pernah ada yang pisahkan kita

(Selasa, 6 Agustus 2019) ***

*)Penyuka Sastra, Tinggal di Flores, NTT.

Catatan Redaksi: Tulisan kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here