Beranda Florata News Forum Peduli Matim Gelar Diskusi Soal Tapal Batas Matim – Ngada

Forum Peduli Matim Gelar Diskusi Soal Tapal Batas Matim – Ngada

127 views
0
Diskusi tapal batas Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Manggarai Timur. [Foto/Yos Syukur]

FLORESPOST.co, Borong – Masyarakat yang tergabung dalam Forum Peduli Manggarai Timur, melakukan diskusi terbuka soal tapal batas Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Ngada, di Aula Kevikepan Borong, sabtu (31/8/2019).

Dalam dialog yang digelar ini juga dihadiri oleh beberapa Tokoh Manggarai Raya seprti, Kristian Rotok, Marselis Sarimin, David Sutarto, Willi Nurdin, DPRD Matim, Tokoh Diaspora serta beberapa tokoh lainnya.

Forum diskusi yang dipandu oleh Mensi Anam ini, mengumpan stimulus dan adrenalin para peserta forum untuk berdialektika dalam menyampaikan data dan tuturan sejarah tentang Perbatasan Matim-Ngada.

Pelaku sejarah asal Elar Selatan, Yohanes, mengungkapkan kesedihannya atas bergesernya perbatasan itu. Padahal kata dia, untuk memperjuangkan (perbatasan-red) sebelumnya itu, mereka melakukan delegasi hingga ke Kupang.

“Kami tentunya merasa kecewa dengan sikap yang diambil oleh Pemkab Matim yang ceroboh dalam mengambil sikap, merugikan Manggarai dan sejarah. Generasi tentunya harus tanam kaki dalam mempertahankan perbatasan itu,” tandas Yohanes.

Hal senada juga disampaikan oleh Jemarang, salah seorang tokoh Perbatasan asal Golo Lijun. Dalam diskusi itu Ia mengungkapkan kekecewaannya sebagai masyarakat Manggarai Timur yang tinggal di perbatasan.

“Sebagai masyarakat yang berada langsung di wilayah perbatasan, merasakan betul kekecewaan dengan putusan Pemda dan Pemprop yang mengabaikan etika dan budaya dalam penyelesaian persoalan ini,” katanya.

Dirinya meminta Pemda harus bersikap tegas dalam melakukan penertiban penduduk di wilayah Golo Lijun. Ia menyayangkan atas status kependudukan masyarakat di 41 Kepala Keluarga Marulante ber – KTP kabupaten Ngada. Padahal jelasnya, penduduk Marulante berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Manggarai Timur.

“Janganlah ada pembiaran, harus ada ketegasan, jangan terkesan ada konsep politik,” pintanya.

Sementara itu tokoh Manggarai Raya Kristian Rotok menyampaikan kekesalannya atas penyelesaian tapal batas Kabupaten Matim- Ngada yang menurut Dia, penyelesaiannya tanpa mempertimbangkan aspek sosiologis dan histori.

“Pesan Bupati Lega, Jangan satu jengkal tanah ini diberikan kepada orang lain, dalam konteks batas wilayah administrasi kepemerintahan, inilah yang menjadi acuan perjuangan kita, tetaplah kita berpijak pada kesepakatan tahun 1973 tentang batas wilayah Matim- Ngada,” kata mantan Bupati Manggarai ini.

Ia menambahkan, walaupun dibatasi secara administrasi wilayah kepemerintahan, tetapi secara satu kesatuan budaya tetap satu.

“kesepakatan14 Mei 2019, itu cacat prosedur. Kita beri apresiasi kepada DPRD Matim yang telah membentuk Pansus tentang soal perbatasan dan melalui paripurnah menolak keputusan itu,” tegas Rotok.

Dirinya meminta untuk mendesak hasil rekomendasi pansus untuk membatalkan kesepakatan 14 Mei itu.

Penulis : Yos Syukur
Editor : Tarwan Stanis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here