Beranda Unique Flores Adat dan Seni Budaya Tarian Gawe Au, Kisah Sayembara Gadis Cantik Cari Saudara Kembarnya

Tarian Gawe Au, Kisah Sayembara Gadis Cantik Cari Saudara Kembarnya

85
0
Penari asal Desa Narasaosina saat sedang melakukan Tarian Gawe Au. (Foto/Istimewa)

FLORESPOST.co, Adonara – Tarian Gawe Au meruapakan salah satu tarian tradisional. Sesuai dengan namanya Gawe yang berarti melompat atau melewati dan Au yang berarti Bambu.

Tarian ini mengharuskan penarinya untuk menari melewati bambu-bambu yang digerakkan secara ritmik. Tarian Gawe Au tidak semudah yang dibayangkan. Jika salah melangkah, maka kaki sang penari akan terjepit oleh bambu. Tarian ini dibawakan 8 hingga 10 orang atau lebih dalam angka genap.

Enam orang pemain memainkan bilah-bilah bambu hingga menimbulkan suara yang berirama dengan tempo yang semakin lama semakin cepat. Tarian ini memberikan pesan bahwa hidup senantiasa terdapat permasalahan untuk kita hadapi dan atasi dengan mencari solusi untuk setiap permasalahan yang dihadapi.

Sayembara Cari Saudara Kembar

Dikisahkan bahwa awal mula tarian gawe au ini adalah ketika adanya sebuah sayembara besar yang diadakan oleh seorang gadis cantik yang telah hilang dalam pengembaraan beberapa tahun. Dia tersesat dan terus pergi meninggalkan saudara kembarnya yang adalah seorang laki-laki.

Dalam sayembara itu, si gadis cantik ini mengumumkan bagi siapapun yang bisa menari gawe au bersamanya dengan sempurna, dan kakinya tidak terjepit sedikit pun oleh bambu, maka jika dia perempuan akan Ia jadikan saudara dan jika dia laki-laki boleh mengambilnya sebagai isterinya.

Mendengar pengumuman itu, ada tujuh orang yang siap mengikuti sayembara tersebut. Peserta pertama sampai dengan keenam semuanya gagal karena kakinya terjepit.

Akhirnya peserta ketujuh yang adalah seorang pemuda berhasil menari dengan si gadis itu sampai selesai. Keduanya menari dengan sangat serasi dan kompak. Wajah keduanya mirip bagai pinang di belah dua. Setelah pertunjukan itu selesai, semua mata yang memandang terheran-heran melihat keduanya bertatapan sambil menangis.

Ternyata mereka berdua telah menemukan sesuatu yang dicari selama ini yaitu kembarannya. Akhirnya kedunya berpegangan tangan sambil memberi pengumuman yang berbunyi “Kame ruakem keredok,” yang berarti kami berdua adalah saudara kembar.

“Selama ini kami saling mencari, namun tidak pernah bertemu, dan kini kami dipersatukan kembali sebagai satu keluarga oleh tarian gawe au ini,” kata si gadis cantik tersebut, seperti yang dikisahkan dalam tarian yang dibawakan oleh para penari gawe Au asal dusun Lewonara, Desa Narasaosina, kecamatan Adonara Timur, dalam puncak festival Nusa Tadon Adonara, yang digelar di Desa Karinglamalouk, Kecamatan Adonara Timur, Minggu (15/9/2019).

Dalam kisah itu, semua orang mengarak si gadis ini ke rumah saudara kembarnya di kampung halaman mereka, di Lewonara.

Sejak saat itu sebagai budaya asli masyarakat Lewonara, lahirlah tarian gawe au
diwariskan turun temurun hingga saat ini.

Penulis : Tarwan Stanis
Editor : Frans Ramli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here