Beranda Opini Opini ǀ Media Sosial bagi Anak-Anak NTT: ‘Kutukan’ atau ‘Berkat’?

Opini ǀ Media Sosial bagi Anak-Anak NTT: ‘Kutukan’ atau ‘Berkat’?

94
0
Maxi Ali Perajaka, Fasilitator Ilmu Komunikasi Lintas Budaya di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Saint Mary, Jakarta, alumnus Asisan Social Institute-Manila, dan CCFAP-Seatle, WA. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Maxi Ali Perajaka*

Awal tahun ini, Departemen Riset Statista, Jerman, -portal online tersukses di dunia- menggambarkan bahwa penetrasi telepon cerdas (smartphone) di Indonesia akan bertumbuh menjadi 33% dari total populasi pada 2023 mendatang, dari 24% pada 2017. Sementara itu, situs We Are Social menyebutkan, 150 juta orang Indonesia, atau 56% dari total penduduk (268,2 juta) aktif menggunakan internet dan media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, blog, YouTube dan lain-lain.

Perkembangan serupa terjadi di propinsi kita, Nusa Tenggara Timur (NTT). Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2017, memperlihatkan bahwa generasi milenial NTT –- menurut Howe & Straus (2000) generasi milenial lahir antara 1982-2000, — berjumlah 1.686,15 ribu jiwa  atau 31,83% dari total penduduk. Dari jumlah tersebut, 83,92%nya adalah pengguna telepon cerdas, dan 35,71%nya adalah pengguna internet.

Meningkatnya jumlah pengguna telepon cerdas dan meluasnya keterjangkauan internet tentu saja mengubah ‘sepak terjang’ media sosial di Indonesia, dan NTT khususnya. Memang, sejauh ini belum ada riset tentang penetrasi telepon cerdas dan media sosial di kalangan anak-anak (usia 3-17 tahun) di NTT. Namun, melihat tren penetrasi telepon cerdas dan media sosial yang cukup besar di kalangan milinial, kita dapat menduga bahwa tak sedikit anak-anak NTT yang telah mengakrabkan diri dengan telepon cerdas dan media sosial. Terbukti, saat ini kita dengan mudah menemukan anak-anak NTT menggenggam telepon cerdas dan masuk ke media sosial untuk berinteraksi dengan teman-teman, mengikuti informasi terkini, menonton film, dan memainkan game kesukaannya.

Situs We Are Social menyebutkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan 8 jam 36 menit menggunakan telepon cerdas untuk mengakses internet, dan 3 jam 26 menit untuk bermedia sosial. Ibaratnya, telepon cerdas, internet, dan media sosial telah menjadi ‘organ tubuh’, ataupun ‘nyawa’ yang tak bisa dipisahkan lagi dari hidup kebanyakan orang Indonesia.

Pertanyaan yang mengemuka adalah apa saja dampak media sosial bagi bagi kehidupan orang Indonesia? Lebih khusus lagi, apa dampak media sosial bagi kehidupan dan masa depan anak-anak Indonesia?

Dampak Negatif

Sesungguhnya, tak mudah menjawab pertanyaan di atas. Namun, secara kasat mata kita dapat melihat bahwa dampak negatif (kutukan) paling utama dari media social bagi anak-anak adalah kecanduan. Seorang anak yang terus-menerus memeriksa umpan berita dari berbagai status melalui aneka akun media sosial akan  ketagihan bermedia sosial. Berbagai studi yang dilakukan para ilmuwan media sosial membenarkan hal itu.

Hasil studi mereka menunjukkan bahwa beberapa fitur media sosial seperti ‘suka’ dan ‘berbagi’ mengaktifkan semacam ‘reward center’ di otak, sehingga seorang anak akan kembali tergerak untuk secara terus menerus masuk ke media sosial. Hal itu akan memengaruhi suasana hati seorang anak. Ia hanya merasa nyaman apabila melakukan interaksi dan koneksi, serta memberi tanda ‘suka’ dan ‘berbagi’. Kebiasaaan ini membuat seorang anak selalu berpikir bahwa dirinya baru berarti (eksis) apabila ada yang memberi tanda ‘suka’. Ia bertumbuh menjadi pribadi yang sangat bergantung pada pengakuan dari orang lain, namun sangat rentan pada tantangan hidup.

Para psikolog pun telah mengamati efek buruk dari media sosial pada kesehatan mental anak-anak dan remaja. Mereka menemukan bahwa anak-anak menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di media sosial dua kali lebih mungkin menderita kesehatan mental yang buruk. Bahkan, studi yang dilakukan Rideout (2010), dan IZA Institute of Labor Economics (2016😉 menunjukkan bahwa seorang remaja yang menghabiskan hanya satu jam dalam sehari di media sosial berpotensi  mengalami depresi, kehilangan konsentrasi belajar dan minat untuk membangun kehidupan spiritual. Hasil penelitian Rosen (2011) menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan Facebook secara berlebihan cenderung menjadi pribadi yang narsistik, antisosial dan agresif.

Media sosial juga dapat menggiring seseorang terpapar pada perkara pidana seperti cybercrime dan cyberbullying. Siapa pun yang menjadi pelaku apalagi menjadi korban  dari perkara pidana seperti itu akan mengalami kegelisahan dan depresi. Bahkan, tak sedikit korban cyberbullying dari kalangan anak-anak yang mengakhiri ziarah hidupnya melalui aksi bunuh diri (Kowalski, 2009).

Akses ke media sosial juga mengandung dampak moral yang berbahaya. Pada umumnya, anak-anak pengguna media sosial, tak menyadari bahwa mereka menjadi target dari predator seksual online (Ybarra, 2007).

Secara ekonomis, akses ke media sosial juga membawa dampak negatif juga. Tak banyak pengguna media sosial dari kalangan anak-anak yang menyadari bahwa ketika mereka berselancar di media sosial, mereka dibuntuti oleh ‘hantu iklan’ yang secara terus-menerus memengaruhi gaya hidup dan kebiasaaan belanja mereka. Akibatnya, tanpa disadari mereka membeli produk dan jasa bukan karena kebutuhan, tetapi karena gaya hidup yang dicitrakan melalui iklan media sosial (Clark-Pearson, O’Keeffe, 2011).

Berbagai dampak negatif sebagaimana dikemukakan di atas, hendaknya menjadi alasan bagi para orangtua untuk lebih waspada dan aktif mendampingi anak-anaknya dalam menggunakan telepon seluler dan  media sosial.

Banyak ‘Berkat’

Kendati berpotensi menimbulkan dampak negatif, telepon cerdas dan media sosial membawa banyak benefit atau ‘berkat’ bagi anak-anak. Penyanyi cilik Betran Peto asal Cancar dan Dian Soroewa asal Maumere, serta komentator MotorGP Rivaldy Elvans asal Kupang merupakan contoh nyata dari anak-anak NTT yang telah menikmati ‘berkat’ dari media sosial.

Secara umum, anak-anak yang terbiasa menggunakan ataupun terkoneksi dengan media sosial, berpotensi meraih keterampilan teknis yang dapat menavigasi jalan mereka menuju masa depan. Mereka akan bertumbuh menjadi warga negara yang kompeten di era digital, dan dapat sepenuhnya berpartisipasi dalam masyarakat yang berjejaring secara luas, namun amat kompetitif.

Studi yang dilakukan Chau C. (2010) mengungkapkan bahwa pengguna media sosial memiliki lima benefit yaitu a) dapat mengekspresikan diri secara kreatif; b) mudah untuk berbagi informasi; c) leluasa memberikan dukungan  terhadap karya orang lain; d) menjadi makin toleran: memahami dan respek terhadap orang lain; dan e) memiliki berbagai pilihan cara untuk bersosialiasi.

Sesungguhnya, media sosial tak hanya sebagai arena untuk bersosialisasi, melainkan juga wahana bagi anak-anak untuk berinteraksi, belajar dan berkreasi. Dalam dan melalui media sosial, anak-anak dapat menumbuhkan minat untuk mengenali dan menerima orang lain dari latar berlakang sosial-budaya dan agama yang berbeda dari dirinya sendiri. Lebih dari itu, melalui media sosial anak-anak dapat belajar untuk mengerjakan sesuatu dengan cara baru, dan berlatih mendayagunakan media yang juga baru (Rosen, 2011).

Apabila anak-anak dikelompokkan dalam kategori usia yang lebih spesifik, maka tampak jelas bahwa penggunaan telepon cerdas dan media sosial membawa manfaat yang amat besar. Untuk menumbuhkan ketrampilan literasi, numerik dan sosial anak-anak usia 1-3 tahun misalnya, para orangtua dapat menggunakan telepon cerdas Android mengunduh dan memainkan game anak offline seperti Baby Phone dan Bubu-Peliharaan Virtualku. Bagi anak-anak usia 3-5 tahun, para orang tua dapat menggunakan telepon cerdas mengakses Youtube tentang belajar mengenali Huruf dan Angka, dan kisah Teletubbies.

Telepon cerdas dan media sosial  pun amat bermanfaat bagi kelompok anak-anak usia 6-11 tahun. Untuk mengasah kecerdasan intelektual, anak-anak dapat  memainkan game online seperti Balon Pintar. Untuk meraih kecerdasan emosional dan sosial, anak-anak dapat membuka Yuotube menonton serial Upin dan Ipin. Dan, untuk mengembangkan daya kreasi, anak-anak  dapat menggunakan telepon cerdas memainkan game seperti Papa’s PanCakeria, Gyros: Kelas Memasak Sara atau pun SpongeBob Move In.

Selanjutnya, bagi anak-anak usia 11-16 tahun (remaja), telepon cerdas dan  media sosial membawa dampak positif pula. Anak remaja yang terbiasa menonton film fiksi Avatar misalnya, berpeluang untuk mengenali jati dirinya, memiliki empati terhadap orang lain dan bertanggung jawab atas kelestarian lingkungan alam. Remaja yang sering  mengakses Facebook, Blog atau pun Wattpad yang menayangkan cerpen, cerbung atau pun novel berpeluang memiliki ketrampilan membaca yang baik. Remaja yang sering menulis kisah pengalaman liburan, atau pun cerita fiksi, dan suka berbagi gambar dan video melalui Facebook, Twitter, Blog atau pun Vlog akan memiliki ketrampilan menulis dan ketrampilan interpersonal yang mumpuni. Sementara remaja yang gemar mengakses Blog yang menyediakan rubrik asah otak, forum diskusi atau pun debat berpeluang memiliki kemampuan analisis dan berpikir kritis.

Jadi, telepon cerdas, internet dan media sosial itu ibarat pisau bermata dua. Namun, jika para orang tua berkenan mendampingi anak-anaknya untuk memanfaatkannya secara bijaksana, maka telepon cerdas, internet dan media sosial akan lebih menjadi ‘berkat’ istimewa bagi anak-anak.***

*Penulis adalah fasilitator Ilmu Komunikasi Lintas Budaya di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Saint Mary, Jakarta, alumnus Asisan Social Institute-Manila, dan CCFAP-Seatle, WA.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here