Beranda Opini Opini ǀ Sumpah dan Janji Wakil Rakyat: Antara Harapan dan Kenyataan

Opini ǀ Sumpah dan Janji Wakil Rakyat: Antara Harapan dan Kenyataan

294
0
Ilustrasi (Foto: Geralt/Pixabay)

Oleh: Dionisius Ngeta*

Hampir di semua media memuat berita tentang pelantikan dan pengambilan sumpah anggota legislator periode 2019-2024. Ucapan terima kasih dan selamat beserta foto-foto mereka pun menghiasi halaman-halaman media, baik cetak maupun elektronik. Seorang DPRD salah satu kabupaten di Flores, ketika pulang menggunakan jasa ojek setelah pelantikan pun diberitakan. Tak ketinggalan euforia kemenangan dan rasa syukur bertebaran di media sosial. Status dan foto-foto DPRD terpilih dan terlantik di Facebook (FB) atau di WhatsApp (WA) pun berubah. Berbagai komentar menghiasi dinding halaman status mereka.

Saya teringat status FB salah seorang anggota DPRD Kabupaten Sikka yang terpilih lagi dan dilantik menjadi anggota legislator periode 2019-2024. Setelah pelantikan, ia mengunggah gambar dan mengubah status pada halaman FB-nya. Dengan foto seorang mama sedang memeluknya, sang legislator tersebut menulis pada dinding status FB-nya demikian: “Pesan mama ini padaku…jika engkau semakin menaiki tangga sampai di puncaknya, maka engkau akan menatap semua hal lebih luas dan tidak hanya pada perut anda…”. Lalu dilanjutkan dengan ucapan: “Selamat malam buat sahabat yang menaiki tangga”. (Erik Karmianto Yoseph, 25/08/2019,pkl11.19 PM).

Sebagai legislator terlantik dan telah mengambil sumpah, ekspresi rasa syukur mereka dalam berbagai bentuk dan cara tentu sah-sah saja. Tapi jangan lupa, di atas pundak para legislator tertumpuk sejumlah harapan dan seberkas pesan. Basis dan konstituen Anda, atau rakyat pada umumnya tentu memiliki banyak harapan dan pesan, sebagaimana salah satu di antaranya adalah pesan seorang mama di atas. Ketika dilantik dan mengambil sumpah, sesungguhnya anggota DPR/DPRD sudah sah memegang mandat masyarakat untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Ia sudah berada di “tangga” yang diberikan rakyat sebagai pemilik mandat dan kedaulatan itu, terlepas apakah sudah melewati 2 atau 3 “tangga”  alias 2 atau 3 periode ataupun baru mulai menginjakkan kakinya di tangga pertama sebagai seorang legislator.

Sebagai legislator terpilih, DPR/DPRD mendapatkan hak-hak dan tunjangan-tunjangan sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundang-undangan selain tiga tugas yang harus diemban (legislasi, budgedting dan pengawasan), termasuk menunaikan janji-janji yang telah disampaikan ke publik saat kampanye. DPR/DPRD memiliki hak untuk menatap secara lebih luas dan berbicara secara lebih mendalam hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakyat seperti yang disumpahkan, lalu mendiskusikannya dengan pihak eksekutif untuk menemukan solusi dan mengawalnya untuk dieksekusi. DPR/DPRD diharapkan tidak hanya menatap ke dalam dirinya sendiri atau mengutamakan kepentingan perutnya (demikian pesan mama di atas) tetapi kepentingan rakyat harus ditempatkan di atas segala kepentingan. Tapi apakah harapan dari eksistensi para legislator ketika berada di tangga dan lembaga terhormat sungguh demikian? Apakah harapan itu akan menjadi sebuah kenyataan ketika mereka berada di sana?

Yang menarik bahwa sebelum menginjakan kaki pada tangga rumah dan lembaga terhormat dan sebelum memulai tugas dan karya mereka,  para anggota dewan tersebut diadakan pengambilan sumpah sesuai dengan agama dan keyakinan mereka. Sebuah ritual yang mestinya dimaknai tidak hanya sekedar formalitas belaka atau tata cara formal menjadi seorang dewan terhormat. Tanggung jawab moral kepada Tuhan sebagai seorang religius yang kepadaNya ia bersumpah dan kepada rakyat atas hal-hal yang disumpahkan dan atau yang dijanjikan sebelumnya sedang ditunggu realisasinya. Keadaban sebagai seorang yang beriman dan sebagai seorang wakil rakyat terhormat dan bermoral sedang diuji. Apakah sumpah hanya sekedar diucapkan dan tak akan pernah membuahkan hasil sebagaimana yang diharapankan masyarakat? Apakah janji hanya sekedar disampaikan dan hanya tinggal janji yang tak akan pernah menjadi kenyataan?

Tetapi sesungguhnya ketika seorang legislator mampu melaksanakan sumpah dalam tindakan dan merealisasikan janji dengan kenyataan, maka dia adalah seorang beriman dan beradab. Masyarakat tentu masih memiliki harapan walaupun sering mengalami kenyataan yang berbeda. Mereka masih berkeyakinan bahwa DPR/DPRD memiliki keterikatan, tanggung jawab dan integritas moral serta dapat diandalkan ketika mengucapkan sumpah dan melontarkan janji-janji kepada masyarakat sebelum pelantikan.

Sumpah adalah Sakral dan Suci  

Anggota Dewan (DPR/DPD/DPRD) memulai tugas dan karyanya dengan bersumpah. Sumpah kepada Sang Pengatur dan Penyelengara segala kehidupan termasuk jalan sempit penuh liku anggota dewan tersebut. Anggota dewan tidak bersumpah kepada atau atas nama pimpinan dan rakyat. Tetapi bersumpah kepada Allah dan demi Allah yang adalah suci mereka mengucapkan sumpah itu, dengan mengangkat dua jari dan meletakan tangan di atas Kitab Suci, Sabda Allah yang suci, masing-masing mereka bersumpah.  Itu berarti selain sakral, sumpah itu suci. Karena kepada Allah sumpah itu diungkapkan dan demi Allah sumpah itu diucapkan. Karena itu menghayati dan melaksanakan apa yang disumpahkan merupakan kewajiban moral seseorang sebagai perwujudan pertanggungjawaban imannya kepada Allah, di mana kepada Dia dan demiNya ia bersumpah. “Demi Allah saya bersumpah”, demikian formula permulaan sumpah itu.

Dalam Kitab Hukum Kanonik, sumpah, yakni menyerukan Nama Ilahi sebagai saksi kebenaran, tidak dapat diberikan, kecuali dalam kebenaran, penilaian dan keadilan (Kan, 1199,ayat 1). Yang dengan bebas bersumpah bahwa akan berbuat sesuatu, berdasarkan keutamaan religi, terikat kewajiban khusus untuk melaksanakan apa yang diperkokoh dengan sumpahnya (Kan, 1200, ayat 1).

Untuk itu sumpah yang diucapkan kepada Allah dan demi Allah seseorang bersumpah, sesungguhnya mempertaruhkan kehormatan, kesetiaan, kebenaran dan wewenang Allah. Maka kepatuhan untuk melaksanakan sumpah itu merupakan keniscayaan tanpa syarat. Dan sebaliknya, siapa yang tidak patuh atau lalai mematuhinya, berarti menyalahgunakan  nama Allah dan seolah-olah menyatakan Allah seorang pendusta. “Demi Allah saya bersumpah…,  itu berarti memanggil Allah menjadi saksi atas hal-hal yang diucapkan. Allah sebagai Kebenaran Ilahi dilibatkan agar Dia menjamin kejujuran orang yang bersumpah. Karena itu kelalaian, ketidakpatuhan atau pelanggaran terhadap sumpah merupakan suatu kekurangan besar dalam sikap hormat terhadap Allah, yang adalah Tuhan atas setiap kata yang diucapkan. Pertanyaan kita, apakah anggota dewan patuh dan setia melaksanakan sumpah yang diucapkan sebagai pertanggungjawaban iman dan moralnya kepada Allah?

Dengan kesadaran iman dan moral bahwa sumpah adalah pertaruhan kehormatan dan kebenaran Allah selain pertanggungjawaban iman dan keadaban seorang legislator yang bersumpah, maka menggelorakan kepentingan rakyat di atas segala kepentingan adalah keniscayaan sebagai bukti pertanggungjawaban iman kepada Allah sebagimana bunyi formula yang disumpahkan itu. Menghayati dan melaksanakan hal-hal yang disumpahkan sama nilainya dengan menjaga keluhuran martabat dan kesakralan sumpah yakni kehormatan dan kebenaran Allah yang telah dilibatkan untuk menjamin kejujuran orang yang bersumpah.

Janji adalah Hak Yang Harus Dibayar

Janji bukan soal kemampuan mengartikulasikan kata, lalu diungkapkan kepada seseorang atau kepada masyarakat. Tapi soal bukti bahwa telah direalisasi agar harapan atas hal yang dijanjikan menjadi nyata dan keadaban para pihak yang terlibat dalam perjanjian dimuliakan terutama yang terhormat para legislator. Calon wakil rakyat sering mengumbar-umbar janji setiap hajatan politik dan demokrasi. Kita tentu ingat pepatah klasik ini: “Lida tak bertulang”! Atau salah satu syair lagu Exist, Mencari Alasan: “Manis di bibir, memutar kata. Siapa terlena pastinya terpana. Bujuknya rayunya suaranya. Yang meminta simpati dan harapan”.

Lidah dan bibir memainkan peran yang sangat sentral dalam berbicara apalagi lidah dan bibir seorang politisi. Bicara dan janji adalah nyawanya positisi. Bicara dengan kata-kata indah dan berjanji dengan kata-kata manis adalah salah satu selebrasi yang sering kali mendominasi setiap hajatan politik dan demokrasi, entah Pilkada, Pilgub, Pileg atau pun Pilpres. Seolah-olah selebrasi politik tanpa janji-janji manis bukanlah hajatan demokrasi. Mengumbar janji dan memberi harapan dengan menggunakan lidah yang tak betulang menjadi hal yang lumrah walaupun sering lupa. Mulut seorang politisi sering dengan mudah menghembuskan angin surga keadilan dan kesejahteraan. Seolah-olah kesejahteraan dan keadilan adalah buah kerja instan yang bisa disulap dalam sekejap. Masyarakat sering terbuai tanpa menakar sejauh mana janji-janji itu rasional dan realistis dilaksanakan.

Namun, antara harapan dan kenyataan itu, ada seberkas kepercayaan bahwa para legislator terpilih periode ini memiliki integritas moral dan keterikatan untuk menjalankan sumpah dan membayar lunas janji-janjinya. Karena yang terpenting dari sebuah sumpah dan janji bukanlah kata-kata, tetapi tindakan. Kesetiaan dalam sumpah atau janji adalah ketulusan dan kecintaan untuk menyimpan setiap hati (masyarakat) yang dijanjikan di dalam hati dengan sebuah ikhtiar untuk tidak menghianati. Karena itu janji atau pun sumpah harus bisa dibayar lunas dengan kenyataan untuk masyarakat sebagai salah satu tolak ukur penilaian seberapa besar kredibilitas yang terhormat para anggota dewan.

 Ada pepatah klasik: “Janji adalah hutang yang harus dibayar”. Kata-kata tersebut bukanlah sebuah hiasan peribahasa semata. Lebih dari itu. Makna yang terkandung dalam kata-kata tersebut adalah bahwa janji sama halnya kita berhutang. Ada hak seseorang atau orang lain di dalamnya yang harus dibayar lunas. Tetapi jika janji tidak terealisasi, maka sungguh sakit hati. Rasa tenang masyarakat yang dijanjikan dihempaskan dengan harapan semu. Mereka dibohongi dengan janji-janji manis tapi kenyataan palsu. Sering begitu murah dan mudah janji-janji dilontarkan politisi ke ruang public, seolah-olah masyarakat diyakinkan bahwa mereka bisa diandalkan atau dipercayai.

Karena itu hemat saya, harga sebuah janji tidak hanya diucapkan dengan kata-kata. Tetapi lebih dari itu karena: Pertama, ada keterikatan moral untuk melaksanakannya. Janji akan jadi hambar jika sering-sering diucapkan tapi nihil pelaksanaan atau tanpa kenyataan. Kedua, dapat diandalkan. Ketika janji dapat dilaksanakan sebagai bentuk pertanggungjawaban moral, maka kredibilitas masyarakat tehadap dewan akan terus meningkat. Bagi anggota dewan yang dapat merealisasikan janjinya, tentu akan terus diandalkan atau terus dipercayai masyarakat untuk periode-periode selanjutnya. Karena harapan mereka telah menjadi kenyataan, janji telah terbukti.

Terikat Secara Moral untuk Melaksanakan Janji

Janji atau komitmen memang mudah diucapkan. Namun lebih sukar untuk dilaksanakan. Ia butuh keteguhan dan keberanian jiwa. Mengiyakan sesuatu dan akan melaksanakan dengan penuh tanggung jawab adalah salah satu harga atau nilai dari sebuah janji/komitmen itu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komitmen itu adalah perjanjian atau keterikatan untuk melakukan sesuatu. Dan menurut Daryonoto komitmen adalah janji. Janji pada diri sendiri atau pada orang lain yang tercermin dalam tindakan. Karena itu, ketika seseorang mengucapkan komitmen/janji apalagi ke ruang publik, mesti sudah memikirkan apakah mampu menempati dengan melaksanakannya atau tidak. Kesediaan dan kesanggupan melaksanakan atas hal-hal yang diucapkan, itulah makna janji, demikian Windy Novia S.pd.

Tapi menurut saya janji bukan hanya soal kesanggupan atau kesediaan pihak yang berjanji tapi juga soal keterikatan moral. Saya sebut keterikatan moral karena dalam sebuah perjanjian selalu ada pihak pertama, kedua, dan seterusnya yang memiliki integritas moral dan keadaban sebagai manusia bahkan Allah hadir di sana saat diucapkan. Ketika para pihak mampu menepati janji atau komitmen itu, maka ikatan moral antar individu akan terjalin harmonis dan kepercayaan semakin terbangun karena mereka mampu melaksanakannya.

Maka hemat saya, melaksanakan komitmen atau janji merupakan wujud dari memuliakan, menghargai, dan menghormati keadaban, keluhuran martabat dan moralitasnya sebagai manusia beriman yang ikut dalam komitmen atau perjanjian itu.

Saya yakin bahwa masyarakat cukup banyak memperoleh janji dari para legislator terpilih. Saya percaya dengan janji itu karena tidak hanya keluar dari mulut yang terhormat para legislator tapi lebih dari itu karena mereka memiliki integritas dan keterikatan moral dengan publik, masyarakat sebagai pihak yang dijanjikan. Keterikatan untuk melaksanakan atas hal-hal yang dijanjikan adalah wujud dari memuliakan keadaban dan keluhuran martabat kemanusiaan dari pihak yang telah melontarkan janjinya.

Komitmen/Janji Wakil Rayat Dapat Diandalkan

Seorang wanita bijak pernah menulis: Commitment means: Here I am. You can count on me. I won’t fail you. Inilah saya. Anda dapat mengandalkan saya. Saya tidak menghendaki kehilangan Anda. Nilai sebuah sebuah sumpah ataupun komitmen/janji selain kesanggupan untuk dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab oleh para legislator, tapi mereka juga harus bisa diandalkan. 

Eksistensi dan esensi wakil rakyat di lembaga terhormat harus meyakinkan masyarakat bahwa mereka bisa diandalkan agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga dan meningkat. Menjadi corong yang dapat menyalurkan aspirasi dan jembatan penyampaian tantangan dan permasalahan masyarakat merupakan esensi dari eksistensi seorang legislator di parlemen. Ia harus bisa bicara, menyuarakan kepentingan masyarakat. Tidak hanya melihat dengan lebih luas persoalan rakyat. Bicara adalah roh seorang legislator. Eksistensinya untuk bicara, tidak hanya sekedar: Datang, Duduk, Dengar, Diam, Duit (5 D). Atau legislator ASBAK: (Ada Sekedar Buang Abu Rokok). Tapi apakah harapan agar eksistensinya bisa diandalkan menjadi kenyataan? Hanya waktu yang bisa berbicara dan membuktikan!

Tetapi ketika para legislator terpilih berikhtiar dan mengikat diri dalam sebuah komitmen, mampu melaksanakannya dan dapat diandalkan, itu berarti mereka telah “mati”  terhadap kepentingan dirinya. Masyarakat tentu kagum dan berujar: “Ini baru angota dewan”! Bukan malah menyesal dan berkata “Ini anggota dewan baru”.

Para anggota dewan harus bisa membuktikan bahwa mereka bisa diandalkan dengan menempati janji yang diucapkan  ke ruang publik dan dibangun bersama masyarakat/konstituen karena memiliki harga diri dan keadaban yang tak ternilai. Pertanggungjawaban moral dan keadaban para legislator terpilih periode 2019-2024 sedang ditunggu. Jika hingga 2024 apa yang pernah dijanjikan terealisasi, maka sesungguhnya wakil rakyat tidak hanya dapat diandalkan masyarakat tapi juga kepercayaan masyarakat terhadap  mereka kian meningkat.

Dengan demikian menurut saya, mewujudkan komitmen atau janji bersama apalagi telah diungkapkan ke ruang publik merupakan simbol keadaban sebagai manusia yang tercipta menurut citra dan gambar Allah. Dan ketika mampu membuktikan bahwa wakil rakyat bisa diandalkan dengan menjalankan sumpah dan menempati janji maka sesungguhnya ia sedang memuliakan keadaban dan harga dirinya sebagai manusia. Kepercayaan masyarakat bukan hanya terus terjaga tapi tentu makin meningkat. Inilah harga termahal yang harus dibayar selain merupakan tantangan buat wakil rakyat terhormat agar harapan masyarakat menjadi kenyataan.

Jadi ketika menjejakan kaki di tangga dan lembaga terhormat sebagai anggota dewan, eksistensi dan esensi seorang legislator tidak hanya bisa menatap lebih luas tantangan, permasalahan dan kebutuhan masyarakat. Tetapi kredibilitas lembaga dan terutama kebesaran dan keluhuran marwah dan martabatnya sebagai manusia yang beradab, yang menduduki lembaga dan jabatan terhormat sedang dipertaruhkan. Membayar lunas kepada masyarakat dengan melaksanakan sumpah dan menempati janji-janji yang telah diungkapkan merupakan pertanggungjawaban moral dan keadabannya sehingga wakil rakyat tidak hanya terus diandalkan tetapi juga bisa dipercaya masyarakat. ***

*Putera Nangaroro, Staf YASBIDA Maumere.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here