Beranda Headline Diduga Dianiaya Team Buser Polisi, Remaja di Ruteng Meninggal Dunia

Diduga Dianiaya Team Buser Polisi, Remaja di Ruteng Meninggal Dunia

8256
0
Salah seorang teman korban saat menunjukan foto Nelson. (Foto/Yuga Yuliana/Florespost)

FLORESPOST.co, Ruteng – Nelson remaja Kampung Rai, Desa Rai, kecamatan Ruteng, Manggarai, diduga meninggal dunia akibat penganiayaan yang dilakukan oleh oknum team buru sergap (Buser) polres Manggarai .

Pelajar berusia 16 tahun tersebut, menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit umum Ben Boi Ruteng pada tanggal 29 September 2019 lalu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Florespost, Nelson mengalami sakit sakitan pada tubuhnya dan kemudian menjalani perawatan di Rumah Sakit Ben Boi Selama 5 hari usai di aniaya oleh oknum buser polres Manggarai.

Keterangan dua teman korban, Valerianus dan Agustinus Rivaldo, ketiganya pernah dianiaya oleh oknum tim buser polres Manggarai setelah ketiganya melakukan aksi pencurian di kios Milik Yulti, Guru Sekolah dasar (SD) Belang di Cancar, kecamatan Ruteng.

“Dua Minggu lalu kami kalau tidak salah bu, tanggal 14 September 2019 malam, kami bertiga curi rokok 3 kaleng dan 1 buah hp di kios ibu Yulti, keesokan harinya, kami bertiga langsung ditangkap oleh polisi yang berinisial J dan polisi S ,” tutur Valerianus teman korban kepada Florespost, Rabu (2/9/2019).

Valerianus mengaku saat itu dirinya dijemput oleh seorang warga bernama Y (inisial), kemudian Ia diantar ke Polisi J. Setelah itu dirinya bersama Polisi J dan dan S pergi menjemput Aldo, sedangkan almarhum Nelson ditangkap polisi di saat dirinya lagi parkir dijalan raya.

“Nelson langsung ditarik ke mobil dan dipukul oleh pak safri,” tutur Valerianus.

Valerianus melanjutkan, setelah ketiganya ditangkap, mereka dibawah ke kediaman Yulti sebagai pemilik barang.

Valerianus mengisahkan saat mereka berada di rumah pemilik Kios itu, mereka diikat pakai tali dan dipukul oleh oknum team buser tersebut.

“Setalah kami 3 ditangkap oleh pak J dan pak S kami di bawah ke rumah ibu Yulti, disana tangan kami bertiga diikat pakai tali dan dipukul dipunggung dan di muka,” Kata Valerianus.

Setelah diinterogasi dikediaman Yulti, ketiganya di bawah ke Polres Manggarai untuk diambil keterangan lebih lanjut.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Aldo salah seorang teman korban kepada Florespost. Aldo mengungkapkan saat di Polres Manggarai, ketiganya pun tak luput dari pukulan oleh beberapa oknum polisi.

“Di polres kami juga disuruh berlutut, lalu kami juga di pukul oleh beberapa orang polisi, tetapi kami tidak tahu mereka punya nama,” kata Aldo.

Selain mengaku dianiaya oleh oknum polisi tersebut, ketiga korban tersebut mengaku sempat dipukul juga oleh Yulti, sebagai pemilik barang.

“Selain polisi, kami bertiga juga dipukul oleh ibu Yulti. Kami bertiga ditempeleng didepan polisi,” tutur Aldo.

Valerianus pun menambahkan, setelah memberikan keterangan, mereka disuruh membuat dan menandatangi surat pernyataan untuk mengganti rugi hasil curian itu kepada pemilik barang (kios).

“Kami disuruh buat surat pernyataan dan tanda tangan untuk ganti rugi barangnya ibu Yulti,” kata Valerianus.

Menurut Valerianus besaran ganti rugi tersebut sebanyak 13 juta rupiah.

Polres Manggarai Bantah Korban Meninggal Akibat Dianiaya

Meninggalnya Nelson, remaja Kampung Rai, Desa Rai, kecamatan Ruteng, Manggarai, yang diduga meninggal akibat dianiaya oleh oknum team buru sergap (Buser) polres Manggarai, Kasat Reskrim Polres Manggarai, AKP Wira Yudha Satria pun membantah jika anggotanya melakukan tindakan penganiayaan tersebut.

Kepada sejumlah wartawan saat mengkonfirmasi kejadian ini, AKP Wira menjelaskan bahwa pihaknya saat ini sedang mengumpulkan informasi dilapangan.

” Saat ini lagi kumpulkan informasi – informasi dilapangan,” kata Wira.

Dirinya kembali menegaskan bahwa kematian Nelson bukan akibat dari pukulan yang dilakukan oleh oknum anggotanya.

Laporan : Yuga Yuliana
Editor : Tarwan Stanis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here