Beranda Sastra Cerpen ǀ Luka di Perbatasan

Cerpen ǀ Luka di Perbatasan

78
1
Ilustrasi (Google)

Oleh: Marselinus Koka, RCJ*

Fadli tampak gelisah hari-hari belakangan ini. Lagi-lagi kampung leluhurnya jadi topik pembicaraan publik. Berita mengenai konflik tapal batas dengan wilayah tetangga memanas lagi. Mencekam dan panik. Sejak mendengar kabar buruk itu dia hanya ingin cepat ke kampungnya.

Dia sudah tidak banyak bicara seperti biasanya. Banyak diam sambil sesekali lalu-lalang tanpa arah. Sempat bicara dengan seseorang lewat hpnya namun hanya sebentar. Mungkin saja ia ingin terus memantau perkembangan di kampungnya.

Dia sudah tahu bahwa saat-saat seperti ini semua orang di kampungnya berada dalam situasi penuh kegawatan. Sudah pasti orang tuanya mulai kemas barang dan segera pergi meninggalkan kampung. Itu hal biasa takkala konflik itu mengemuka sejak 46 tahun yang lalu.

Fadli tahu benar bahwa persoalan tentang perbatasan selalu membuat semua warga baik di kampungnya maupun warga wilayah tetangga mudah marah-marah. Dalam beberapa tahun terakhir ini sudah banyak kali mereka terlibat bentrok dan saling serang yang dikompori oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.

Yang membuatnya tidak habis pikir ketika beberapa waktu silam ia dengan mata telanjang melihat beberapa oknum mengancam beberapa warga yang adalah keluarganya. Mereka dengan semena-mena mempertontonkan sikap arogansinya lalu melupakan kewajiban dan tugas konstitusinya. Apakah itu pantas, Fadli juga tidak tahu.

Konflik perbatasan itu terus diekspose dengan vulgar di beberapa media baik cetak maupun elektronik. Reaksi publik mengalir deras. Tidak sedikit yang merasa iba dan menyuarakan perdamaian. Tapi banyak pula yang membangun komentar serta tulisan-tulisan yang bernada provokatif yang berpotensi memperuncing suasana di perbatasan. Sedih dan miris memang.

Fadli sepertinya ikut terpancing. Namun dia memilih bersabar sambil terus berharap dalam penuh kecemasan. Dia berharap agar semuanya akan baik-baik saja. Dia sadar bahwa orang yang mengerti sepertinya dirinya tidak akan mungkin memberikan pandangan sesat. Tidak, itu akan sangat fatal bagi masa depan dirinya dan rakyat kebanyakan. Dia sadar bahwa menghasut rakyat bukanlah jalan yang tepat, sebab akan menciptakan persoalan lanjutan.

Atas pertimbangan itu, Fadli memutuskan untuk menyuarakan kisahnya di perbatasan lewat sebuah cacatan kecil. Lewat catatan kecilnya ia ingin menunjukkan bagaimana efek negatif bagi dirinya, bagi sesama warga serta keadaan lingkungan di sekitar perbatasan. Walaupun bagi kebanyakan orang mungkin caranya itu kurang pas, tapi itu pilihan terakhir.

Senja semakin hilang di mulut bumi. Sang malam pun mulai malu-malu datang menyapa. Pikirannya masih kacau. Memori masa lalu mengeni perbatasan terus membayangi otaknya. Rasa takut, gelisah, sedih, marah dan benci meluap-luap. Semakin berupaya untuk tenang semakin kuat pula memori itu berdatangan. Semua pengalaman masa lalunya itu dia rangkum dalam cacatan kecil yang isinya kira-kira berbunyi begini :

Kemarin, saat saya membuka HP, saya mendapat kabar kalau konflik perbatasan itu memanas lagi. Di media sosial, saya menemukan banyak status serta sejumlah komentar yang bernada provokasi dan umpatan yang dialamatkan kepada masyarakat di sekitar perbatasan. Vulgar dan serampangan. Sayangnya orang yang memberi komentar adalah mereka yang tinggal jauh dari tempat konflik. Hanya orang luar yang coba gara-gara kasih komentar yang bernada mengadu-domba dan mengasut serta mengaduk-aduk emosi publik di perbatasan.

Tentu ini sangat tidak seimbang. Sebab saya pikir, mereka tidak pernah tahu beban penderitaan yang dirasakan oleh masyarakat di tempat kami berada. Saya ingin menegaskan bahwa konflik ini muncul sebagai reaksi rakyat terhadap perilaku negara yang terkesan masa masih bodoh dengan persoalan rakyatnya. Lewat konflik ini masyarakat dua wilayah mau berteriak secara lantang bahwa kami sedang menunggu solusi yang bijak dari negara. Itu saja. Tidak kurang tidak lebih.

Saya sebenarnya cukup segan menyuarakan kenyataan ini sebab saya bukan siapa-siapa. Saya bukan tokoh politik yang punya andil dalam mengambil keputusan. Saya hanya seorang korban yang mau bersuara secara lantang karena sudah sekian tahun saya dan rakyat di dua wilayah perbatasan hidup dalam penjajahan yang sangat menyedihkan.

Bertahun-tahun hak kami sebagai warga negara untuk hidup secara aman dan layak ditiadakan karena konflik. Jujur itu sebuah ucapan yang tidak adil. Melalui cacatan kecil ini saya mau menuntut agar hak kami dikembalikan. Dengan itu saya sangat mengharapkan langkah bijak dari pemangku kepentingan untuk tahap selanjutnya.

Jujur, saya tidak menulis cerita ini dengan tinta tetapi dengan air mata. Ya, air mata semua warga yang sudah tumpah-ruah berjatuhan di pipi mereka sejak puluhan tahun silam. Tulisan dan cerita ini mau saya secara khusus sampaikan kepada para pemangku kepentingan, kepada semua kalangan serta kepada semua orang yang sudah dengan pandai memberi komentar provokatif.

Sekali lagi saya hanya salah seorang dari ratusan anak yang sedikit berani bercurhat tentang efek dari konflik yang berkepanjangan ini. Anggap saja cerita ini merupakan rangkuman semua cerita dari sahabat dan adik-adik saya yang tinggal di sekitar perbatasan. Ya demikian.

Saya dilahirkan pada pertengahan Agustus dua puluh lima tahun silam, di sebuah kampung yang boleh dikatakan masih jauh dari kemajuan. Saya berani mengatakan kampung saya masih tertinggal sebab memang sudah puluhan tahun belum diperhatikan secara maksimal karena berstatus masalah. Demikian kata orang-orang besar.

Ibu saya bilang saat sang fajar mulai melolot, aku keluar dari rahimnya. Dan saat itu hanya kami bertiga di rumah yakni nenekku, dirinya serta aku yang baru lahir. Bapak tidak di rumah, katanya dia sedang berjaga. Berjaga di mana dan untuk apa saya tidak mengerti.

Setelah sekian tahun ketika usiaku pelan-pelan bertumbuh aku mulai mengerti bahwa persoalan tapal batas itulah yang menjadi alasan ketidakhadiran bapak saat saya dilahirkan. Bapak memang seorang pediam namun peduli dengan masalah sosial. Dia tidak pernah apatis kepentingan umum. Baginya kepentingan umum itu di atas segalanya. Dia tidak peduli dengan hidupnya. Baginya berjuang demi sebuah kepentingan umum itu lebih mulia. Dan itu doa yang hidup.

Kisah lain, ibu alami saat saya masih dalam kandungannya. Dia bilang ada banyak saat dia dan bapak memutuskan untuk lari dari rumah karena diancam oleh beberapa oknum. Ada saat di mana mereka memilih tidur di kebun karena takut ke rumah. Yang membuatnya tidak lupa adalah ketika melihat saudara kandungnya yang adalah om saya disiksa oleh beberapa oknum.

Dulu saat mendengar kisah itu, saya menganggap semuanya akan biasa-biasa saja. Ketika dewasa saya menjadi sadar akan dampaknya. Kami, masyarakat sekitar dua wilayah sungguh merasakan hal itu.

Tanpa disadari, saya dan sahabat-sahabat seumuranku sedang memikul trauma yang sulit disembuhkan. Trauma itu tumbuh sejak konflik perbatasan mengemuka selama empat puluh enam tahun. Apalagi trauma itu kami alami sejak dalam kandungan ibu. Jangan heran jika kami masyarakat di dua wilayah hidup dalam suasana penuh ketakutan.

Selain takut kami juga dihantui rasa cemas yang tak berbentuk. Selalu merasa tidak nyaman dan terancam. Berpotensi untuk bertindak agresif dan emosi yang meledak-ledak. Dampak psikologis seperti ini butuh waktu untuk disembuhkan. Dan sejauh persoalan ini belum memiliki ujungnya maka saya sangat yakin semua anak-anak yang lahir saat ini, pasti sudah dibekali oleh trauma dan kebencian dalam diri.

Selain efek psikologis, melalui cacatan kecil ini, saya juga mau memperlihatkan dampak politisnya. Dari dulu persoalan batas ini memang selalu menjadi isu yang laris manis di tahun politik. Para calon kadang menomorsatukan masalah ini. Katanya semua akan beres. Tetapi pada akhirnya tetap sulit terwujud. Hilang tanpa jejak.

Konflik tapal batas justru dijadikan sebagai objek yang elegan untuk mengisi saku baju. Yang ini bisa benar dan bisa salah. Maaf jika sedikit berlebihan. Tapi itu memang kesan yang sempat tertangkap selama ini. Maka jangan heran jika kami masyarakat kampung kadang sulit mengamini omongan mereka.

Dari segi ekonomi kampung kami ini sangat menjanjikan. Saya boleh katakan kalau dapur kota ada di kampung ini. Secara pribadi saya bangga dengan hal itu. Namun saya sadar bahwa semua kekayaan ini sia-sia sebab akses transportasi menjadi masalah yang sudah akut sejak dulu. Miris memang, katanya jalur propinsi tetapi kondisi jalannya masih berantakan. Dari dulu sampai sekarang ada beberapa kendaraan yang sedikit berani melintasi jalur ini tetapi penuh hati-hati.

Kondisi di kampung saya ini terus bertambah suram saat menjelang malam. Wajah listrik yang seperti apa kami tidak tahu. Kalau malam tiba baik kampung saya maupun kampung tetangga menjadi benar-benar hitam. Gelap gulita. Aku tidak tahu kapan kami akan menikmati cahaya listrik di malam hari. Mungkin atau tidak mungkin, itu teka-teki yang sulit dijawab. Ya barangkali.

Aku memang termasuk seorang yang sedikit mujur karena bisa menempuh pendidikan yang sedikit beruntung. Jujur, di kampung ini ada banyak sahabat-sahabat dan adik-adik saya dipaksa berhenti sekolah karena orang tuanya tak sanggup membiayai ongkos sekolah yang terus melangit. Mereka kemudian memilih meninggalkan kampung ini lalu mengadu nasib di tanah rantau. Tetapi sedihnya saat mereka kembali, ada beberapa dari mereka yang sudah diambang maut dan bahkan ada yang siap dikuburkan karena dirampok dan direnggut penyakit. Ya rumit memang.

Kalau telusuri lebih dalam, sebenarnya ada banyak kenyataan negatif yang timbul dari persoalan tapal batas ini. Beberapa sudah saya tampilkan di atas. Yang lain biar saja. Cukup kami, saya dan masyarakat sepanjang perbatasan ini yang rasakan. Anggap saja itu fakta yang mesti ada dalam hidup.

Namun sekali lagi saya hanya ingin katakan bahwa saya bersama semua warga di sekitar perbatasan sudah bosan menderita selama empat puluh enam tahun. Dianaktirikan dan diaduk-aduk tanpa kepastian. Ke kiri atau ke kanan tidak jelas. Kami menjadi terasing di negeri sendiri. Maka sebelum semuanya bertambah rumit, saya mewakili rakyat dua wilayah meminta agar negara tanggap terhadap kemalangan ini. Itu harapan terbesar kami, masyarakat sepanjang perbatasan.

Malam sudah terlelap saat Fadli selesai menuliskan cerita ini. Sebelum ia benar-benar di peluk malam, Fadli kembali mengutak-atik HPnya. Belum dua menit berlalu, dia kaget setelah di sebuah media lokal dia menemukan berita yang berjudul seperti ini: “Setelah 46 Tahun, Perselisihan Batas Antara Dua Wilayah Akhirnya Diselesaikan Dalam Waktu Dua Jam”. Berita itu diturunkan sepuluh menit yang lalu.

Dia baru sadar ternyata dua jam yang lalu, negara melalui pimpinan lokalnya bersama semua jajaran terkait sedang duduk melingkar lalu menghasilkan keputusan final penyelesaian tapal batas antara dua wilayah. Keputusan itu bulat tanpa intimidasi, tanpa tekanan serta kepentingan lainnya. Keputusan itu sah dan konstitusional. Berangkat dari satu komitmen bersama yakni perdamaian.

Malam yang sedari tadinya gelap, pelan-pelan dihiasi bintang. Di bubung langit bulan mulai bercahaya seenaknya. Burung malam juga sama, satu demi satu bernyanyi menghiasi malam. Mereka seolah-olah sedang mengajak Fadli untuk mensyukuri peristiwa barusan. Barangkali. Fadli terus melotot di HPnya. Ia belum sepenuhnya percaya dengan berita itu. Berkali-kali ia baca. Namun setelah beberapa saat ia menjadi yakin bahwa negara memang hadir menjawab persoalan rakyatnya pada waktu yang tepat.

Pada bagian akhir catatannya Fadli menulis menulis begini: Pak Gub, apresiasi yang setingginya rakyatmu berikan. Jika saja empat puluh enam tahun yang silam engkau adalah pemimpin kami, barangkali tak akan ada trauma dan dendam yang bertumpuk di hati kami. Tapi biarlah semuanya itu kami jadikan sebagai sejarah yang tak pernah musnah oleh pusaran waktu. Sejarah yang suatu waktu akan hidup ketika dikenang kembali.

Fadli mulai agak tenang. Pikirannya pelan-pelan kembali fokus dan teratur. Kalau dulu dia sempat benci dengan orang-orang besar, kali ini pikirannya berubah, dia percaya bahwa pemimpin yang satu ini memang tidak main-main. Dia tegas dengan janjinya dan berani ambil resiko.

Sebelum menutup catatannya ia berpesan begini: untuk kalian sesamaku, mari kita hargai keputusan ini! Stop provokasi dan jangan ada lagi caci-maki. Sampai pada kalimat ini, Fadli menarik selimutnya lalu terlelap bersama malam.***

*)Penulis berasal dari Minsi, Riung Barat, Ngada, Flores, NTT, Tinggal di Rogationist Seminary Manila-Philipina.

**)Mohon maaf apabila ada kesamaan kisah, tempat dan nama. Cerita ini hanyalah hasil imajinasi penulis semata. Terima kasih.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here