Beranda Florata News Puncak Kemarau Hingga September, Krisis Air di Satar Mese Berpotensi Meluas

Puncak Kemarau Hingga September, Krisis Air di Satar Mese Berpotensi Meluas

132
0
Kemarau Panjang di Desa Nuca Molas, (foto/Yuga Yuliana)

FLORESPOST.co, Ruteng – Meski di beberapa wilayah kabupaten Manggarai telah mulai diguyur hujan sejak akhir bulan September, namun kondisi ini tidak dirasakan di Mules, Desa Nuca Molas, Kecamatan Satar Mese Barat, Manggarai, hingga kini masih dilanda kemarau yang berkepanjangan. Akibatnya, krisis air masih terjadi di wilayah desa tersebut.

Kondisi ini sangat menghawatirkan masyarakat karena kekeringan dimana-mana bahkan menyebabkan puluhan ternak warga di padang penggembalaan Nuca Molas mati. Demikian disampaikan Burhima, Kapala Desa Nuca Molas.

Disebutkan, hujan sama sekali belum turun di desa tersebut . Lain halnya lanjut Kades, dengan desa lain di Kecamatan Satar mese Barat, hujan tampak sudah mulai mengguyur kawasan tersebut dalam beberapa kali sejak awal pekan lalu.

“Hujan terakhir itu akhir April 2019, banyak tanaman yang kering dan banyak ternak warga di Mules mati dan masih banyak yang belum di data. Kami kesulitan mendata karena ternak warga dilepas di padang Nuca Molas apalagi jumlahnya sangat banyak,” ujarnya

Sejauh ini lanjutnya, wilayah desa Nuca Molas, dikenal sebagai daerah yang cukup kering dan tandus, karena jarang dituruni hujan. Ia melanjutkan titambah dengan kondisi musim kemarau yang berpanjang sejak awal tahun, membuat warga menjadi kelimpungan dalam memperoleh air bersih.

Dikatakan Burhima, akibat kondisi ini, banyak peternak tidak dapat berbuat banyak.

Inilah kondisi Sapi warga Nuca Molas akibat dari kemarau panjang. (Foto/Yuga Yuliana/Fp)

“Sapi dan kambing merupakan hewan yang cukup banyak dipelihara warga Desa Nuca Molas. Selain air, kebutuhan pakan sapi berupa rumput pun sulit didapat. Hampir seluruh hamparan yang biasa ditumbuhi rumput pada musim hujan, kini mati kekeringan,” katanya.

Ia melanjutkan, warganya kesulitan dalam memperoleh pakan ternak akibat dari kekeringan yang berkepanjangan. Akibatnya ternak-ternak piaraan warga menjadi kurus, hingga banyak ternak yang mati.

“Semua ternak milik warga desa kurus – kurus dan lima puluhan sapi mati karena kemarau panjang ini,” Kata Burhima.

Kondisi ini pun menyebabkan harga sapi menurun drastis dibandingkan dengan harga seblumnya.

Laporan : Yuga Yuliana
Editor : Tarwan Stanis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here