Beranda Opini Opini | Komodo dan Sekat Eksklusifitas

Opini | Komodo dan Sekat Eksklusifitas

81
0
Oleh: Muhammad Amir Ma’ruf. (Foto/Dokpri)

Oleh: Muhammad Amir Ma’ruf



Wacana pembatasan akses di Taman Nasional (TN) Komodo, Labuan Bajo menimbulkan banyak reaksi. Ide awal dari restriktifikasi ini adalah untuk menjadikan kawasan yang selama ini lebih populer untuk destinasi pariwisata menjadi kawasan konservasi. Berbagai skema telah dirumuskan oleh pemangku kebijakan, dalam hal ini pemprov NTT yang berkoordinasi dengan Kementrian LHK serta Kementrian Pariwisata. Tentu, keterlibatan Kemenpar erat kaitanya dengan status Labuan bajo sebagai salah satu dari 10 (sepuluh) Bali baru. Target 20 juta wisatawan yang dicanangkan terancam gagal dengan adanya wacana pembatasan ini. Terlebih, TN Komodo merupakan salah satu daya tarik wisata yang sudah menjadi ikon NTT dan Indonesia.
Kawasan Kontributif

Sebagai objek wisata, TN Komodo memiliki keunikan tersendiri. Selain populasi hewan langka Komodo, berbagai flora dan fauna lain serta pesona keindahan alam menjadi pemicu hasrat wisatawan untuk datang. Tak ayal, kawasan yang sudah dinisbatkan sebagai warisan dunia sejak tahun 1991 ini semakin hari semakin ramai. Terlebih sejak ditetapkanya TN Komodo sebagai salah satu program prioritas nasional di bidang pariwisata. Perhatian pemerintah pusat pun tak main-main, pembangunan infrastruktur jalan yang semakin dikebut, pengembangan Bandara Komodo, pembangunan pelabuhan marina, hingga pembentukan badan otoritas yang khusus menangani pariwisata di Labuan Bajo adalah bukti betapa pentingnya kawasan ini bagi NTT dan Indonesia. Proyek-proyek tersebut juga dimaksudkan untuk mempermudah akses ke Labuan Bajo. Harapan pemerintah untuk menjadikan kawasan TN Komodo sebagai penggerak ekonomi seakan diamini. Dalam lima tahun terakhir, TN Komodo mampu menarik 80.626 wisatawan pada tahun 2014 dan tahun 2015 tercatat 95.401 wisatawan. Kemudian di tahun 2016 jumlahnya meningkat menjadi 107.711 wisatawan, dimana 11,6 persen diantaranya menggunakan kapal cruise. Jumlah tersebut masih meningkat lagi di tahun 2017 yang mencatat ada 125.069 wisatawan dan 13,7 persen diantaranya menggunakan kapal cruise. Tahun 2018 lalu, tercatat ada 176.830 wisatawan yang mengunjungi TN Komodo. Bahkan data terakhir menyebutkan bahwa ada 107 kapal cruise yang datang ke TN Komodo per bulan Agustus 2019.

Peningkatan kunjungan ke TN Komodo juga selaras dengan semakin gairahnya roda perekonomian di Labuan Bajo. Indikator tersebut dapat terlihat dari menjamurnya usaha di bidang pariwisata. BPS mencatat, Kabupaten Manggarai Barat memiliki 9 hotel berbintang dan 88 hotel non bintang pada tahun 2018. Sudah barang tentu, jumlah tersebut terpusat di Labuan Bajo, ibukota kabupaten. Fasilitas kuliner tahun 2018 mencapai 75 lokasi. Kini, Bandara Komodo menjadi akses utama pintu masuk menuju TN Komodo dimana pada tahun 2018 terdapat hampir 600.000 penumpang yang datang dan berangkat dari bandara yang rencananya akan dijadikan bandara bertaraf internasional tersebut. Selain itu, peran serta masyarakat di bidang pariwisata semakin terlihat dimana terdapat 67 pemandu wisata, 120 pedagang souvenir, dan 60 pengrajin patung. Jumlah keterlibatan masyarakat akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya wisatawan di kawasan TN Komodo ini.
Perlu Hati-hati

Pembatasan akses komodo ini seakan sudah memasuki babak akhir. Wacana tiket masuk hingga 14 juta rupiah sebagai solusi pembatasan akses seolah memberikan warning pada wisatawan untuk tidak datang ke Labuan Bajo. Betapa tidak, meskipun BPS menyebut terdapat 39 daya tarik wisata di Manggarai Barat, wisatawan akan berfikir ulang untuk datang ke Labuan Bajo. Ibarat masakan, TN Komodo adalah bumbu rahasia yang membuat Labuan Bajo istimewa. Penulis yakin, pembatasan dengan mekanisme tersebut akan membuat jumlah kunjungan wisatawan turun. Hal ini tentu akan berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar. Opini ini berdasar pada kejadian yang hampir serupa. Fenomena mahalnya tiket pesawat dan penerapan bagasi berbayar berdampak pada menurunnya kunjungan wisatawan di Labuan Bajo. Akibatnya, tingkat okupansi hotel rendah dan pedagang cinderamata gigit jari.

Pariwisata kini dianggap sebagai sektor yang sangat potensial karena memiliki multiplier effect kepada sektor perekonomian lain yang saling terkait. Bahkan, pariwisata dapat menjadi solusi pengentasan kemiskinan yang efektif jika dikelola dengan benar. Sebab, membludaknya kunjungan wisatawan mau tidak mau akan membuat semakin banyak masyarakat yang terlibat baik sebagai penjual makanan, pemandu, maupun pemilik usaha. Menggeliatnya pariwisata juga berdampak bagi dunia investasi. Bukan hanya Labuan Bajo, ramainya wisatawan juga membuat dunia lebih mengenal Indonesia.

Pemerintah perlu berhati-hati dalam merumuskan kebijakan terkait restriktifikasi TN Komodo ini. Sebenarnya, ketakutan gubernur Viktor terhadap kunjungan wisatawan yang mengancam populasi komodo belum sepenuhnya benar. Meskipun juga tidak salah, nyatanya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan lima tahun terakhir tidak “membunuh” populasi komodo. Hal tersebut didasari dari data KLHK yang menyebutkan bahwa populasi komodo memiliki trend yang stabil pada kisaran 2.400-3.000 ekor. Seolah bertentangan dengan hipotesis pemangku kebijakan. Oleh karena itu, pemerintah hendaknya lebih berhati-hati dalam merumuskan kebijakan terkait pembatasan akses TN Komodo ini. Jangan sampai menumbangkan pohon pariwisata Labuan Bajo yang sedang berbuah. Ada baiknya, wacana pengenaan tiket masuk harga selangit demi “mengusir” wisatawan dipertimbangkan ulang. Agar masyarakat tidak terkena dampaknya. Kita semua menyayangi komodo dan berharap anak cucu kita dapat menyaksikan salah satu warisan dunia ini.


*) Statistisi Ahli BPS Kabupaten Alor

Catatan Redaksi : Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here