Beranda Sastra Puisi ǀ Mataku di Flobamora

Puisi ǀ Mataku di Flobamora

83
0
Ilustrasi – Pulau Padar / Risma Wilahere (Foto: Risma Wilahere)

Oleh: Sagiyatul Maulud*

MATAKU DI FLOBAMORA

Aku harus memanggilmu siapa?

Flores bunga kembang kenangan

Sumba umbu sejati sandelwood

Timor semerbak harum cendana

Alor asih kasih kenari

Atau siapa?

Tanya bingung linglung lirih keindahan

Kau akan terus terngiang kagum syahdu

Bila kakimu tertegun di tepian bibir pantai

Kau akan terdenguk pujian

Bila matamu melotot wahana buana jiwaku

Karena aku pelangi pengukir mata hati

Sebab aku megah pengkuil relung sanubari

Maka panggil sebut sapa saja

Aku cinta flobamora

(Umaleu, 24-8-2019)

DI UJUNG CINTA

Demi pinta cinta

Hatimu bersumpah

Kasih

Kasihmu kepadaku

Membuatku selalu meyakini

Bahwa kelak kita pasti bersama

Harapan cinta itu tak menjadi kenyataan

Hanyalah penyedap luka lara hati

Menjadi ikrar pengingkaran sejati untukku

Kau menghancurkan mahligai cinta

Yang kokoh dalam jiwa keimanan

Kau yang aku ingin imingkan

Ternyata rawan rentan

Kini bara benci

Yang membatu dalam rimba rahim perasaan

(Umaleu, 24-8-2019)

LARANTUKA

Kemarin kau patah

Meratap waktu pangkuan duka

Karena ditinggal pergi

karena diingkari

Kekasih

Aku mengerti

Aku tak menawarkan

Aku memang mencintaimu

Kalau kau sudi

Ijinkan aku bertemu orang tuamu

Biar aku bersahadat kidmat

Meminang mahligai kasih

Agar kau tak rapuh lagi

Biar kau tak resah lagi

Sekali lagi

Kalau kau mau

Jemput aku di kotamu

Larantuka

(Umaleu, 24-8-2019)

SOPHIA

Namamu

Cinta cita

Air leluhur

Dari bumi nusa toleransi

Kau rupa merah putih

Dari tubuh jiwa flobamora

Seteguk tertegun

Aku meriang riuh rasa

Hadir dalam kisah kemasan kemilau

Kau dipercantik

Didandani dengan luluran eropa

Kau begitu menarik

Sophia

(Umaleu, 24 – 8- 2019)

PAPUA

Kasih yang tak sepenuhnya

Katanya cinta

Tetapi lidahmu masih saja mudah mengumpamakanku

Kau hanya menatapku dari rupa

Katanya setia sehati

Namun hanya setakat di ujung bibir

Aku kira kasihmu seperti emasku

Namun kasihmu tandus tunduk tanduk

Kalau saja tanahku tak kemilau

Pasti aku melayang jauh awang

Karena aku berada

Makanya kau kembali merangkul rayu

Tetapi aku telah tahu

Jujur aku begitu kecewa

Ternyata kau hanya berpura-pura

Kau sengaja

Melontar hujat robek hatiku

Tetapi tanpa kau sadar

Dengan mulutmu juga

Kau melumat habis keruk tubuh tanahku

(Umaleu, 24-8-2019)

*)Guru Pendidikan Sejarah MAN I Lembata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here