Beranda Florata News Cegah Stunting, Puskesmas Lamaau Ile Ape Galang Komitmen Lintas Sektor

Cegah Stunting, Puskesmas Lamaau Ile Ape Galang Komitmen Lintas Sektor

49
0
Kegaiatan lokakrya mini lintas sektor kecamatan Ile Ape Timur, Senin (28/10/2019),

FLORESPOST.co, Lembata – Pencegahan dini stunting menjadi perhatian khusus Puskesamas Lamaau, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata.

Dalam kegaiatan lokakrya mini lintas sektor kecamatan Ile Ape Timur, Senin (28/10/2019), ditekankan kebersamaan membangun komitmen penggalangan reakreditasi, pencegahan stunting (Kepesta), Cobloss TB.

Penanganan masalah kesehatan yang ada di kabupaten Lembata, khususnya di wilayah Kecamatan Ile Ape Timur, harus melibatkan banyak unsur.

Dalam sambutannya saat membuka lokakrya mini lintas sektor kecamatan Ile Ape Timur, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata Ansel Bahy, juga meminta agar semua komponen turut terlibat dalam rangka Hari Kesehatan Nasional (HKN).

Ansel Bahy juga mengapresiasi kepedulian masyarakat Ile Ape Timur terhadap kegiatan Lintas Sektor.

“Hari ini, mari bersama-sama kita berpikir tentang bagaimana cara hidup sehat. Cara hidup sehat bukan hanya tugas tenaga kesehatan saja tetapi juga menjadi tugas kita semua,” ungkapnya.

Sementara itu, Camat Ile Ape Timur Yoseph Raya, S.Sos, dalam sambutannya juga mengatakan, stunting menjadi perhatian serius pemerintah dalam pencegahannya.

Upaya ini kata Yoseph, bertujuan agar anak-anak di Lembata dapat tumbuh, kembang secara optimal dan maksimal, disertai dengan kemampuan emosional, sosial, fisik untuk siap belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.

“Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting yaitu, perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih,” jelas Yoseph.

Yoseph menjelaskan, masalah – masalah non kesehatan seperti masalah ekonomi, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan juga masalah degradasi lingkungan adalah akar dari masalah stunting.

Oleh karena itu Yoseph menegaskan keterlibatan dan peran semua unsur dalam menanggapi persoalan tersebut.

Dalam kegiatan lokakarya ini juga turut dihadiri oleh Ketua Tim Penggerak PKK Ile Ape Timur Agnes Wahon, Kepala Puskesmas Lamau Kristoforus B. Werang, A.Md.Kep, Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata Markus Kwihal, SKM dan kades wilayah pelayanan Kecamatan Ile Ape Timur dan para Kepala sekolah.

Bahas Rencana Tindak Lanjut Bulan Agustus 2019

Dalam lokakarya mini lintas sektor, dibahas rencana tindak lanjut bulan Agustus 2019 antara lain, pembentukan Tim KEPESTA (Kelompok Peduli Stunting). Pembentukan ini sudah dilaksanakan sesuai SK Camat Ile Ape Timur, penanaman toga dan CTPS di sekolah (belum dilaksanakan), sosialisasi gigitan HPR (belum dilaksanakan), pembentukan Posbindu 6 desa (sudah dilaksanakan) dan program Inovasi Germas Sari.

Sedangkan untuk STBM, masih ditemukan rumah yang memiliki/ sharing dengan tetangga, tidak memiliki CPTS, ditemukan hewan ternak di pemukiman warga, ditemukan kurangnya kesadaran warga dalam menangani kebersihan rumah dan halamannya.

Maka diperlukan sosialisasi yang berkelanjutan, monev berkelanjutan, bantuan/ rangsangan dari desa, aktifkan hari bersih atau lebih dikenal dengan Jumad bersih.

Selain itu ada beberapa prioritas masalah kenaikan BB ( N/D ) 67 % dari target 85 %, Balita Gizi Buruk yang ditemukan 2, 4 % (target kurang dari 1 % ), Balita Kurang Gizi yang ditemukan 16, 5 % ( target kurang dari 5 % ), Balita Kurus yang Ditemukan 8,4 % (target kurang dari 1 % ), Balita Sangat Kurus yng ditemukan 2, 4 %, target kurang 1 % dan balita Stunting yang ditemukan 17, 1 % dari target kurang dari 20 % (mencapai target ).

Rencana tindak lanjut, kurangnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang penyakit tidak menular dan HPR maka perlu adanya sosialisasi ke seluruh masyarakat.

Untuk PTM dan HPR sejauh ini, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya rabies dan hewan penyebar virus rabies, rendahnya cakupan pelayanan penderita Hipertensi dan Diabetes dan dendahnya capaian pemeriksaan atau deteksi dini kanker serviks (Iva).

Untuk KIA, K1 murni tergolong rendah disebabkan rendahnya kunjungan rumah oleh kader Posyandu dan TP PKK desa, kehamilan di luar wilayah, tidak direncanakan dan hamil diluar nikah serta kurang adanya komunikasi dan informasi dari ibu hamil, keluarga, kader, bidan dan sector terkait.

Laporan : Tarwan Stanis
Editor : Frans Ramli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here