Beranda Opini Opini ǀ Perlu Adanya Transisi Energi Untuk Menyelamatkan Bumi

Opini ǀ Perlu Adanya Transisi Energi Untuk Menyelamatkan Bumi

20
0
Kincir angin (Sumber: Free-Photos)

Oleh: Simon Petrus Ama Sina*

Energi merupakan kemampuan untuk melakukan kerja dan menjadi hal yang fundamental dalam kehidupan. Selama ada kehidupan pasti terdapat energi. Kita semua menggunakan energi dalam kehidupan sehari-hari seperti berkendara, memasak, memanaskan atau mendinginkan sesuatu dan bahkan menggunakan internet untuk membaca berita.

Sebagian besar energi yang kita gunakan adalah energi listrik. Energi listrik memiliki fungsi yang sangat krusial dalam kehidupan kita setiap hari terutama sebagai penerang pada malam hari.

Energi listrik yang kita gunakan adalah bersumber dari bahan bakar fosil (fossil fuel) yang merupakan sisa organisme seperti hewan atau pun tumbuhan yang sudah mati jutaan tahun yang lalu, mengalami dekomposisi dalam bentuk hidrokarbon seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Tanpa peran material-material alam ini, kegiatan manusia dalam bidang transportasi, pertanian, dan kegiatan ekonomi lainnya akan terhambat.

Sejak revolusi industri ketika mesin uap ditemukan, kemudian kereta api, mobil dan pesawat terbang, bahan bakar fosil (fossil fuel) menjadi sumber energi primer dalam menggerakan roda kehidupan manusia. Namun, energi fosil dalam penggunaan yang berlebihan dapat melepaskan gas karbondioksida (CO2) ke atmosfer dalam jumlah yang besar dan menyebabkan efek rumah kaca di mana suhu (temperature) bumi meningkat oleh karena panas yang dipantulkan dari bumi tidak keluar angkasa, terhalang oleh gas karbondioksida yang merupakan salah satu gas dari gas-gas rumah kaca.

Di lain sisi, gas rumah kaca lainnya seperti chlorofluorocarbon atau CFC akibat penggunaan AC dan hair dryer secara besar-besaran, gas ini meningkat di lapisan troposfer mempengaruhi lapisan ozon (O3) hingga lapisan ozon semakin menipis. Hal ini menyebabkan sinar matahari sangat mudah untuk menembuh ke bumi dan menyebabkan panas seperti yang kita rasakan akhir-akhir ini.

Berdasarkan data yang dilansir oleh Earth Observatory (www.earthobservatory.nasa.gov, 13 Mei 2009), diprediksi bahwa pada tahun 2065 hampir 2/3 dari lapisan ozon menghilang – bukan hanya di atas kutub, tetapi tempat di manapun di bumi. Ozon memiliki peran sangat penting dalam menjaga bumi dari pengaruh benda-benda luar angkasa dan juga menjaga bumi agar suhu bumi tetap stabil.

Namun tanpa kita sadari, bumi sedang memberikan alarm sekarang dengan panas yang kita rasakan akibat dari lapisan ozon yang semakin menipis. Oleh karena itu, kita harus segera melakukan aksi agar prediksi yang ditetapkan tidak akan menjadi kenyataan.

Bayangkan saja bagaimana kondisi bumi pada saat itu jika memang benar 2/3 lapisan ozon akan hilang. Pastilah bumi akan sangat panas daripada sekarang, akan terjadi perubahan iklim yang signifikan, banyak makhluk hidup akan bermigrasi untuk mencari perlindungan, pertanian akan mengalami gagal panen secara besar-besaran, terumbu karang akan habis sehingga ikan akan punah, dan bumi tidak akan layak lagi dihuni oleh makhluk hidup.

Untuk mencegah hal ini akan terjadi, beruntungnya kita memiliki solusi yaitu dengan melakukan transisi energi – tranformasi energi ke sumber energi terbarukan untuk menggantikan peran energi fosil.

Saat ini, energi fosil menjadi perhatian dunia karena menyebabkan banyak masalah lingkungan seperti pemanasan global dan perubahan iklim. Selain itu, energi fosil merupakan energi yang habis dipakai atau tidak bisa diperbaharui lagi. Untuk mengatasi hal ini kita membutuhkan energi yang bisa diperbaharui yaitu energi terbarukan.

Sumber energi terbarukan banyak disediakan oleh alam misalnya energi panas matahari, energi angin, energi air terjun, energi arus air laut, energi panas bumi dan juga energi biomassa.

Presiden Joko Widodo ketika dalam debat antarcalon presiden, berbicara bahwa dari tahun ke tahun penggunaan energi fosil sedang dikurangi – kita sedang mengembangkan energi biomassa. Tentunya pemerintah daerah harus menyambut baik rencana ini dengan melihat potensi alam yang ada di daerah-daerah.

Melihat potensi alam yang ada di NTT, terdapat daerah-daerah di mana energi terbarukan bisa dikembangkan. NTT memiliki Pulau Sumba yang sudah ditetapkan sebagai iconic island of renewable energy atau pulau yang dijadikan ikon energi terbarukan dan Pulau Flores yang telah ditetapkan sebagai pulau panas bumi berdasarkan Menteri ESDM nomor 2268K/30/MEM/2017.

Air terjun Lapopu di Pulau Sumba sebagai sumber energi air terjun, kekuatan angin yang cukup di Maumere, Kabupaten Kupang, Pulau Rote, Pulau Timor dan beberapa tempat lainnya dapat dikembangkan sebagai sumber energi dengan tenaga angin, arus laut Gonsalu di kota Larantuka sebagai sumber energi dengan kekuatan arus air laut, dan intensitas matahari yang sangat tinggi di seluruh wilayah NTT dapat dijadikan sumber energi panas matahari.

Berdasarkan analisi data BMKG, Provinsi NTT memiliki potensi energi matahari yang tinggi antara 5-8 kWh/m2. Nilai ini sangat tinggi dibandingkan dengan wilayah Indonesia pada umumnya yang berkisar antara 4-5 kWh/m2 (kupang.tribunnews.com/15/01/2019).

Energi terbarukan tidak akan pernah habis, terjangkau, dan ramah terhadap lingkungan. Karena gas yang dihasilkan dari pabrik tidak secara langsung diemisikan ke atmosfer sehingga tidak menyebabkan polusi atau pun masalah lingkungan seperti pemanasan global dan perubahan iklim.

Dalam kebanyakan kasus, teknologi energi terbarukan memerlukan perawatan yang lebih sedikit dari pada generator yang menggunakan sumber bahan bakar tradisional. Hal ini karena menghasilkan energi seperti panel surya dan turbin angin memiliki sedikit atau tidak ada bagian-bagian yang bergerak dan tidak bergantung pada sumber bahan bakar yang mudah terbakar dalam beroperasi. Semakin sedikit persyaratan perawatan, semakin banyak waktu dan uang yang dihemat.

Mengembangkan energi terbarukan bukan hal yang mudah, tentu membutuhkan alokasi dana yang sangat besar untuk membeli peralatan-peralatan seperti turbin, panel surya, power house, intake, gardu peralatan listrik, transformator, tiang, kabel, dan komponen beton lainnya.

Oleh karena itu, untuk mendorong pengembangan energi terbarukan di NTT, pemerintah daerah perlu mengambil inisiatif bekerja sama dengan pemerintah pusat dalam mempercepat pengembangan energi terbarukan sehingga pada tahun 2030, seperti yang telah ditetapkan oleh Sustainable Development Goal (SDG) 7, Indonesia khusunya NTT bisa mencapai target yaitu meningkatkan produktivitas energi, memperluas infrastruktur dan upgrade teknologi untuk menyediakan energi yang bersih dan lebih efisien yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT dan membantu lingkungan.

Dengan transisi energi dan mengembangkan energi terbarukan, maka pemerintah akan membuka banyak lapangan pekerjaan dan masalah PLN dengan sumber energi fosil seperti sekarang ini bisa teratasi. Pada akhirnya masyarakat di pelosok-pelosok pun akan sejahtera dalam mengkonsumsi listrik modern yang bersih dan ramah terhadap lingkungan. Perubahan adalah lokal, dan bahkan perubahan global dimulai dengan orang-orang seperti kita.

*) Guru mata pelajaran IPA Fisika di SMPS Katolik Mater Inviolata di Flores Timur – Larantuka, Peserta English Language Training Assistance (ELTA) 2019 di Pusat Bahasa Undana Kupang.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here