Beranda Opini Opini ǀ Toleransi Beragama di Era Revolusi Industri 4.0

Opini ǀ Toleransi Beragama di Era Revolusi Industri 4.0

177
0
R. Maryono Paing, CMF, Alumni SMAK Frateran BHK St. Thomas Aquinas, Weetebula-Sumba Barat Daya dan Mahasiswa Filsafat-Teologi Fakultas Teologi Wedabhakti-Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: R. Maryono Paing, CMF*

Realitas dunia semakin serba-serbi tanpa batas apapun. Kehidupan sosial yang dulunya sangat dibatasi oleh ruang fisik, kini bisa saja dengan mudah diukur dan ditentukan oleh angka-angka secara virtual tanpa menghadirkan eksistensi fisik.

Perkembangan dunia digital tanpa sadar telah merubah perilaku sosial, ekonomi, politik bahkan agama. Banyak hal yang memudahkan akibat kemajuan ini, tetapi secara tidak langsung, peran-peran signifikan manusia secara nyata pelan-pelan bergeser hanya sekedar menjadi aktor-aktor virtual dalam dunia digital.

Eksistensi setiap pribadi saat ini bahkan sangat ditentukan oleh setiap akun yang dimilikinya dalam dunia maya. Revolusi industri 4.0 telah membuka jalan kemudahan untuk akses beragam informasi dalam banyak hal sehingga batasan-batasan fisik, baik jarak, waktu atau tempat bukan lagi menjadi alasan keterbatasan manusia.

Revolusi Industri 4.0 adalah pengembangan dan penerapan sistem cerdas tekno-manusia yang mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas sistem produksi serta mendukung peningkatan umum dalam kualitas hidup individu dan masyarakat.

Hal ini ditandai oleh pesatnya perkembangan dunia digital, di satu sisi mempermudah akses publik dalam memperoleh informasi apapun, meskipun di sisi lain kemudahan teknologi tak jarang dipergunakan sebagai ceruk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu untuk menanamkan informasi kejahatan, kebencian atau kesesatan yang dinilai dapat membuat gaduh publik, tidak hanya dalam dunia maya tetapi juga ekses kelanjutannya terhadap dunia nyata.

Revolusi Industri 4.0 pada dasarnya setara dengan evolusi Internet of Things (IoT). Ini didefinisikan sebagai infrastruktur global untuk masyarakat informasi, memungkinkan layanan lanjutan dengan menghubungkan hal-hal (fisik dan virtual) berdasarkan pada teknologi informasi dan komunikasi yang ada dan berkembang.

Padahal informasi-informasi tertentu yang tersebar secara cepat dalam ranah medsos masih perlu diuji tingkat kebenaran dan validitasnya, oleh karena itu tetap dibutuhkan “kecerdasan faktual” yang bisa menjadi filter yang berasal dari diri manusia itu sendiri. Keberadaan medsos sebagai jaringan informasi terbesar dan tercepat aksesnya justru tak jarang pada akhirnya menimbulkan ketegangan dan konflik dalam masyarakat.

Jika dahulu konflik sosial karena terjadi “gesekan” secara fisik antarindividu atau kelompok dalam sebuah realitas masyarakat, maka saat ini gesekan dan konflik bisa saja timbul berawal dari penyebaran informasi viral di medsos dan meluas menjadi konflik sosial secara fisik dalam masyarakat.

Hal ini tentu saja telah merubah pergeseran realitas sosial yang ada saat ini bahwa tidak selamanya ketegangan dan konflik dimulai dari gesekan secara fisik, tetapi bisa dipicu oleh informasi-informasi yang tersebar secara daring dan diakses secara viral oleh publik. Umumnya, informasi-informasi yang mudah membuat ketegangan dan bahkan konflik adalah informasi-informasi yang memiliki nuansa Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

Menangkal Intoleransi di Era Digital

Revolusi digital menciptakan pendekatan baru yang radikal yang merevolusi cara individu dan lembaga terlibat dan berkolaborasi. Memang, membangun rasa saling menghargai atau toleransi terhadap setiap perbedaan yang terjadi dalam suatu komunitas sosial saat ini jauh lebih sulit dibanding sebelum maraknya penggunaan teknologi digital.

Ketegangan atau konflik sosial yang terjadi sebelum era digital, cenderung lebih mudah diatasi karena keterbatasan penyebaran informasi. Namun di era digitalisasi seperti saat ini, sentimen keagamaan secara pribadi dalam bentuk virtual misalnya, bisa saja memicu konflik sosial yang justru bisa lebih luas dan terjadi dalam dunia nyata. 

Realitas sosial kita saat ini memang terkesan rumit: di satu sisi membutuhkan revolusi 4.0 sebagai model kemudahan interaktif secara sosial yang mudah dan menguntungkan namun di sisi lain justru muncul persoalan-persoalan baru yang timbul dan mengganggu stabilitas tatanan sosial yang sudah ada.

Oleh karena itu, perlu adanya kedewasaan masyarakat yang ditopang dengan seperangkat regulasi dari pemerintah yang mengatur, membatasi dan mengarahkan teknologi agar lebih memiliki nilai tepat guna dan bermanfaat untuk publik.

Pada AICIS ke 19 ini, sebanyak 1.100 sarjana dalam bidang Islamic Studies berkumpul. Konferensi tahunan ini mengambil tema ‘Digital Islam, Education and Youth: Changing Landscape of Indonesian Islam’. Pertemuan ini membahas 450 paper dari 1.300 yang diseleksi.

Dari acara ini dihasilkan tiga rekomendasi yang harus diperhatikan stakeholder keislaman dunia terkait fenomema digital Islam. Pertama, perlu pemahaman mendalam tentang kompleksitas Islam digital sebagai hasil persinggungan antara Islam society dengan digital teknologi, di mana terdapat kebutuhan pemikiran ulang atas perpektif lama studi Islam.

Kedua, sarjana Muslim perlu memperkaya studi digital Islam dan reorientasi metodologi, khususnya terkait persinggungan Islam dengan gaya beragama anak muda milenial.

Ketiga, terkait pemahaman interpretatif dan wacana agama kaum muda, para pemangku kepentingan pendidikan Islam perlu melakukan langkah-langkah strategis, terintegrasi, dan komprehensif untuk mempromosikan Islam moderat di kalangan milenial (Republika.Co.Id, diakses: Sabtu, 19 Oktober 2019.)

Semangat yang telah dibangun oleh kelompok di atas perlu dibangun dalam setiap setiap orang agar tidak sampai pada ajaran yang salah; yang disebabkan informasi atau pengetahuan yang tidak valid dari media digital. Informasi yang benar, pasti dan jelas menjadi salah satu kekuatan yang mengantarkan orang pada sebuah pilihan apa yang hendak ia lakukan.

Jika informasinya salah atau berbau hoax akan membahayakan relasi dalam kehidupan bersama. Kelompok tertentu akan menjadi fanatik dan radikal, sehingga tidak jarang terjadi kekerasan, terorisme dan lain sebagainya.

Pengetahuan  menjadi sesuatu yang penting. Revolusi Industri 4.0 sangat berbasis pengetahuan dan membutuhkan kompetensi yang sangat baru. Karena itu, kebijakan pendidikan sangat penting. Sistem pendidikan perlu bereaksi cepat terhadap perkembangan di ruang pengetahuan, mereka perlu dirancang ulang untuk memungkinkan pembelajaran seumur hidup.

Membangun toleransi di era digital sebenarnya tidak hanya terbatas pada toleransi agama atau antarumat beragama, tetapi lebih luas terhadap bagaimana membina kedewasaan masyarakat dalam mencerna beragam informasi yang diperoleh sehingga siap menerima perbedaan pendapat dalam hal apapun.

Keberadaan agama justru seharusnya dapat menjadi pengikat yang paling kuat terhadap solidaritas sosial karena adanya hoax atau informasi yang tidak valid yang terbentuk di antara para pemeluknya, terlebih di era digital 4.0 seperti sekarang ini. 

Toleransi agama hendaknya dibangun berdasarkan pengetahuan akan teknologi dan informasi yang  memadai bukan karena ikut-ikutan (asal mau ramai) tanpa melihat makna atau arti dari apa yang didapat tersebut.

Perbedaan dalam hal apapun adalah sebuah anugerah Tuhan yang diberikan kepada umat manusia. Jika setiap individu dalam realitas sosial dapat menjunjung tinggi setiap perbedaan yang ada, maka toleransi akan lebih mudah dibangun dari sini tanpa tergantung perubahan zaman.

*) Alumni SMAK Frateran BHK St. Thomas Aquinas, Weetebula-Sumba Barat Daya dan Mahasiswa Filsafat-Teologi Fakultas Teologi Wedabhakti-Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here