Beranda Hukrim Florata Penasehat Hukum Terduga Pelaku Pertanyakan Keterangan Orang Tua Korban Kasus Asusila

Penasehat Hukum Terduga Pelaku Pertanyakan Keterangan Orang Tua Korban Kasus Asusila

558
0
Tiga Orang Penasehat Hukum PK,dari kiri Silvanus Hardu,SH, Ana Margareta B.Lewar,SH (Tengah) dan Emilianus Sarwandi,S.H. (Kanan)

FLORESPOST.co, Ruteng – Tiga orang penasehat hukum PK, terduga pelaku pelecehan seksual anak di bawah umur di Pong Lale, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, mempertanyakan kebenaran keterangan yang disampaikan orang tua TJ sebagaimana yang diberitakan sejumlah media online.

Pasalnya menurut mereka, keterangan yang disampailkan orang tua TJ dalam sejumlah media online tersebut berubah – ubah.

Silvanus Hardu, S.H, salah seorang penasehat hukum PK dalam keterangan tertulisnya yang diterima Florespost.Co, Rabu (4/12/2019) sore menyebutkan bahwa, dalam pemberitaan terkait kasus ini, pihaknya melihat banyak kejanggalan – kejanggalan terkait pernyataan yang disampaikan orang tua TJ.

Pada pemberitaan tanggal 18 November 2019 misalnya, orang tua TJ menyebut kasus pelecehan terjadi pada tanggal 4 November 2019 di ruangan Kapela Sampar.

Namun pada pemberitaan selanjutnya, locus bukan hanya di Kapela Sampar tetapi juga di kios milik PK.Hal ini menunjukkan ada penambahan locus delicti.

Silvanus menjelaskan, pada hari Senin (4/11/2019), pintu Kapela Sampar dalam keadaan terkunci. Semua umat di stasi tersebut mengetahui bahwa pintu kapela hanya dibuka pada hari Minggu dan hari lainnya apabila ada kegiatan rohani.

“Sementara pada hari Senin (4/11/2019) tidak ada kegiatan di Kapela. Pertanyaannya bagaimana orang masuk dalam Kapela, sementara Kapela terkunci. Lagipula hari itu, klien kami sedang berduka karena ayah kandungnya meninggal dunia dan terlapor sedang mengerjakan kuburan dirumahnya. Pertanyaanya adalah ketika orang lagi berduka dan di rumahnya banyak orang, apakah setega itu PK berbuat asusila,” kata Silvanus.

Begitupun menyangkut kejadian di Kios milik PK, Silvanus mengatakan bahwa kios milik PK tutup sejak ayahnya meninggal sampai acara 40 malam.

Perbedaan Pernyataan di Media

Terkait pengakuan TJ kepada orang tuanya tentang pelecehan yang dilakukan PK, Silvanus mengatakan ada ketidaksesuain keterangan yang disampaikan orang tua TJ di media.

Dimana jelasnya, setelah mengetahui anaknya dilecehkan PK, orang tua TJ mengatakan membawa anaknya ke Puskesmas Cancar, sementara di media lainnya menyebut membawa ke Rumah Sakit St. Rafael Cancar. Perbedaan penyebutan tempat ini memunculkan sejumlah pertanyaan atas kebenaran tersebut.

Bahwa di media online WK (orang tua TJ) mengatakan, setelah di Puskesmas Cancar, korban langsung diperiksa dan disarankan lapor ke Polisi kemudian di rujuk ke Rumah Sakit dr. Ben Mboi Ruteng, sementara di media lainnya WK menjelaskan bahwa membawa TJ ke Rumah Sakit St. Rafael Cancar, lalu langsung dirujuk ke Rumah Sakit dr. Ben Mboi Ruteng untuk di visum.

Hasil visum kata dia, langsung di ambil oleh WK kemudian melaporkan Terlapor ke Polres Manggarai. Hal ini berarti tambahnya, WK sendiri membawa korban untuk di Visum dan setelah hasil visum diketahui, baru WK melapor ke Polres Manggarai.

“Hal ini menjadi aneh. Karena secara Hukum visum dilakukan atas permohonan polisi berdasarkan laporan Polisi atau pengaduan dan melakukan pemeriksaan visum didampingi oleh Polisi dan hasil visum hanya dipegang oleh Polisi atas permintaan Polisi jadi bukan oleh WK,” jelas Silvanus.

Soal pernyataan yang menyebut TJ tidak makan sama sekali, ini pun dikatakan tidak benar oleh penasihat hukum terduga pelaku. Sebab kata penasihat hukum terduga pelaku, setiap hari TJ tetap pergi sekolah dan masih dalam kondisi sehat.

“Kalau tidak makan sama sekali, bagaimana dia bisa pergi sekolah atau datang lapor di polisi. Dan lebih jauh lagi pada tanggal 3 Desember 2019 korban dalam kodisi sehat, ceria dan sempat bermain di halaman Polres Manggarai,” katanya.

Ia menambahkan, pernyataan Hendrik Darma (50), salah satu keluarga korban yang menyebutkan bahwa anak – anak sekolah merasa ketakutan dan trauma karena melihat pelaku masih berkeliaran, sehingga anak – anak diantar oleh orang tuanya ke sekolah juga dianggap Silvanus adalah pernyataan tidak benar.

“Karena realitas sejak kasus ini dimediakan anak – anak tetap sekolah, bermain sebagaimana biaasanya, pergi sekolah seperti biasa dan berjalan sendiri tanpa diantar oleh orang tua,” katanya.

Silvanusa juga merasa ada kejanggalan terhadap 4 orang saksi anak tersebut, dimana jelas nya mereka (saksi-red) selalu bersama – sama dengan korban pada dua tempat dan waktu kejadian yang berbeda.

“Apakah ke 5 orang anak ini selalu pulang sekolah secara bersama – sama,” tanya Silvanus.

Silvanus juga menilai bahwa kejanggalan diatas, dapat menujukan WK ayah korban melakukan rekayasa kasus dengan melibatkan anak – anak di bawah umur.

“Kami Tim Penasehat Hukum sudah mengajukan permohonan untuk dilakukan Tes Kebohongan supaya kasus ini terungkap secara jelas dan terang, di samping itu juga untuk membantu penyidik kami juga telah membuat laporan terkait pencemaran nama baik di Polres Manggarai,” tutup Silvanus.

Laporan : Adi Nembok
Editor : Tarwan Stanis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here