Beranda Pilkada Menguji Akurasi Poling di Media Sosial Jelang Pilkada Manggarai

Menguji Akurasi Poling di Media Sosial Jelang Pilkada Manggarai

199
0
Jefrin Haryanto, CEO YMP. (Foto/ Dokumen Pribadi)

FLORESPOST.co, Ruteng – Perkembangan informasi teknologi yang pesat membuat media sosial diminati sebagai sarana untuk menyalurkan unek – unek dan gagasan.

Hasil studi dari Yayasan Mariamoe Peduli (YMP) sampai November 2019 memperlihatkan, pengguna media aktif di Kabupaten Manggarai mencapai 46.000 pengguna yang tersebar dalam beberapa jenis media sosial mulai dari facebook, WhatsApp, twitteer dan lain – lain.

“Sejak bulan Juli 2019 trafic mulai ramai, dan tercatat 11 poling yang terkait dengan pilkada dan 1 poling terkait survey kepuasan publik terhadap bupati dan wakil bupati incumbent. Fakta lain juga terkait dengan maraknya kemunculan akun – akun anonim sampai dengan angka 10%,” jelas kata Jefrin Haryanto, CEO YMP, kepada Florespost, Kamis (5/12/2019).

Disejumlah group FB, dan WAG, kata Jefrin, sejumlah orang juga menyitir hasil poling di FB untuk menunjukkan kuatnya dukungan publik terhadap calon yang dia dukung, tanpa mempertimbangkan bandwagon effect atau menguntungkan pasangan lain.

“Banyak pertanyaan yang muncul kemudian apakah hasil poling di media online itu bisa di percaya?,” ujarnya.

Dalam merespon hal tersebut, Dirinya pun berbagi beberapa hal, terkait dengan hasil survei yang telah dilakukan YMP.

Dalam survei itu jelasnya, hal mendasar yang harus didefenisikan terlebih dahulu ialah siapa populasi yang akan diteliti, dan bagaimana proses pengambilan sampelnya? Lalu apakah sampelnya proporsional atau representatif?

“Defenisi terhadap populasi akan menjadi penting apakah hasil survei itu bisa menjadi rujukan atau dianggap valid untuk menjelaskan presepsi populasi atau tidak,” katanya.

Terkait dengan Pilkada Manggarai jelasnya, populasi survei tentu warga kabupaten Manggarai yang ditandai dengan kepemilikan KTP. Sementara itu lanjutnya, dalam proses pengambilan sampel, yang dimaksud sebagai populasi sasaran ialah wargs kabupaten Manggarai yang mempunyai hak pilih dan berusi 17 tahun keatas atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

“Lalu bagaimana dengan poling kita.com di FB saat ini? Dengan mengacu kekaidah ilmiah, jelas hasil poling FB tifak valid dan tidak bisa menjelaskan presepsi pemilih kabupaten Manggarai,” ungkapnya.

Dirinya pun menjelaskan mengapa hasil polling tidak valid dengan tidak menjelaskan presepsi pemilih kabupaten Manggarai yang dilakukan di media sosial.

Pertama jelasnya, poling FB tidak mewakili populasi masyarakat Manggarai, karena tidak teridentifikasi usia, KTP dan Jenis kelamin, dan pemilik akun tidak 100 % pemilih Kabupaten Manggarai.

Kedua, poling di FB tidak mencerminkan proporsional pemilih, karena tidak mewakili distribusi pemilih Kabupaten Manggarai.

Ketiga, poling tidak mempresentasikan berdasarkan jenis kelamin dan usia.

Keempat, hasil polling tidak bisa diregenerasi karena tidak menggunakan proses pengacakan.

Kelima, para kandidat atau tim yang menjadi subyek poling cenderung menggerakan dan membagikan link poling ke orang – orang yang pasti memdukungnya.

“Sehingga bisa terlihat yang unggul adalah yang paling rajin membagikan linknya,” kata pria yang juga praktisi psikologi ini.

Laporan : Yuga Yuliana
Editor : Tarwan Stanis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here