Beranda Hukum Angka Kasus Bunuh Diri di Manggarai 2019 Meningkat

Angka Kasus Bunuh Diri di Manggarai 2019 Meningkat

172
0
Pertemua Akhir Tahun Yayasan Mariamoe Peduli (YMP) Ruteng dengan sejumlah wartawan. Foto (Adi Nembok/Florespost.co).

FLORESPOST.CO, Ruteng – Jumlah kasus bunuh diri di Kabupaten Manggarai, Propinsi Nusa Tenggara Timur, selama tahun 2019 meningkat jika dibandingkan tahun 2018 lalu.

Yayasan Mariamoe Peduli (YMP) Ruteng merilis, hingga bulan Desember 2019, sudah terjadi 19 kasus. Jumlah ini meningkat jika dibandingkan tahun 2018 sebanyak 11 kasus.

“Itu artinya, selama tahun 2019 ini, dalam dua (2) bulan sekali kurang lebih, terjadi dua (2) kasus bunuh diri di Manggarai,” jelas CEO YMP Jefrin Haryanto saat menggelar pertemuan akhir tahun dengan sejumlah wartawan, Sabtu (21/12/2019) di Kantor YMP.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri Direktur YMP Albina Redempta Umen dan sejumlah staf, Jefrin memprediksi kasus bunuh pada tahun – tahun yang akan datang terus meningkat, jika tidak ada upaya pencegahan sedini mungkin.

“Yang mesti dilakukan, pemerintah dengan semua stakeholder harus duduk bersama mencari tau apa penyebab dari kasus ini. Pemerintah lah yang punya kewenangan untuk menginisiasi ini,” kata Jefri.

Dikatakannya, sejak kasus bunuh diri meningkat, Ia belum melihat ada reaksi dari pemerintah daerah. Padahal menurutnya, kasus bunuh diri ini terjadi salah satu penyebabnya adalah karena kebijakan pemerintah itu sendiri.

Menurut Jefri, seorang melakukan tindakan bunuh diri, bukan karena keinginannya, melainkan orang itu ingin lari dari setiap persoalan yang Ia hadapi.

“Kenapa banyak masalah, kenapa tidak ada tempat untuk berlari. Orang punya masalah dan tidak tahu untuk menyelesaikannya. Karena itu tadi, tidak ada ruang, tidak ada tempat, tidak ada saluran untuk menyelesaikannya,” ungkap Jefrin.

Dari setiap peristiwa ini, Ia berharap agar peran media massa sangat penting untuk meminimalisir kasus ini, dengan tidak memberitakan kronologi kasus tersebut dan lebih bagus harap dia, tidak memberitakannya.

“Memang dilema juga. Berita bunuh diri itu punya pasar yang bagus. Tapi di satu sisi ada etika dan rambu – rambu yang perlu kita perhatikan secara serius. Ada kesepakatan bersama untuk etika pemberitaan supaya tidak menjadi pembelajaran buat orang lain. Kalau perlu tidak diberitakan sama sekali,” kata mantan wartawan ini.

Ia juga menyayangkan tentang begitu vulgarnya kasus bunuh diri ini disebar luaskan melalui media sosial. Ini terjadi karena masih lemahnya literasi digital kita.

“Percepatan media ini datang ketika masyarakat belum siap. Kita gagal menghadapi ini. Semua hal diberitakan seolah tidak ada lagi wilayah privasi,” katanya.

Laporan : Adi Nembok
Editor : Tarwan Stanis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here