Beranda Opini Opini ǀ Natal dan Mencari Damai

Opini ǀ Natal dan Mencari Damai

200
0
Mario Cole Malok, Novisiat Claretian Benlutu (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Mario Cole Malok*

KWI dan PGI sepakat untuk mengangkat tema “Hiduplah sebagai Sahabat bagi Semua Orang” sebagai tema Natal 2019. Tema ini terinspirasi dari Injil Yohanes 15:14-15 tentang perintah Yesus untuk saling mengasihi. Karena kita semua adalah sahabat, sudah sepantasnya kita menciptakan perdamaian dalam kehidupan bersama yang bermula dari dalam diri kita masing-masing.

Dunia dalam Realita Kekerasan

Bila kita merefleksikannya secara mendalam, maksud KWI dan PGI mengangkat tema ini tidak lepas dari situasi dunia pada umumnya, dan situasi bangsa pada khususnya. Kekerasan yang dapat berujung pada keterpecahan menyebabkan hidup dalam situasi chaos.

Situasi chaos itu dapat kita daftarkan di sini. Pemboman yang terjadi di mana-mana oleh kelompok-kelompok teroris, penganiayaan umat beragama, saling hujat antarpendukung dalam pemilu, kasus-kasus rasisme, korupsi yang kian menggurita, dan masih banyak lagi daftar hitam kasus-kasus yang ada di sekitar kita.

Kekerasan rupanya enggan minggat dari bumi. Bagaimana tidak, banyak sekali orang yang setiap harinya mengingini kekerasan. Seorang Thomas Hobbes pernah berujar, “Homo homini lupus”. Sesama adalah serigala bagi yang lain. Persaingan dunia yang makin keras semakin membuat orang untuk berpikir bahwa yang lain harus disingkirkan dari persaingan, dan lebih buruk lagi, menyingkirkan kehidupan.

Kekerasan telah menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari manusia. Kita tampaknya melihat bahwa berbuat kekerasan (baca: dosa) itu seperti meminum secangkir teh (St. Antonius Maria Claret). Orang terlihat sangat nikmat bila berbuat kekerasan.

Kekerasan tengah mendominasi dunia. Bila kita membaca secara cermat realitas ini, daftar panjang kekerasan itu memperlihatkan betapa perdamaian tengah disingkirkan dari jamuan makan kita. Penyingkiran perdamaian tersebut sejatinya menggambarkan kegagalan kita sebagai manusia. Kita lebih suka hidup dalam permusuhan ketimbang hidup sebagai saudara. Kita lupa tujuan kita diciptakan, tujuan keberadaan kita di dunia.

Kita lalu bertanya, apakah orang mulai pesimis untuk berdiskusi tentang perdamaian karena kondisi orang-orang kini didominasi pemikiran akan kekerasan?

Natal: Mencari, Menemukan dan Membawa Damai

Melihat realitas ini, mata rantai kekerasan tidak boleh terus-menerus dibentangkan. Kita perlu berkomitmen bahwa rantai kekerasan harus diputuskan dan dibuang jauh-jauh dari kehidupan kita. Untuk itu, membentuk habitus perdamaian merupakan langkah yang tepat untuk memutus mata rantai kekerasan yang kian hari kian menguat itu. Penekanan pada habitus ini adalah pencarian akan kedamaian yang dimulai dari dalam diri.

Untuk membangun perdamaian dengan orang lain, kita perlu membangun rasa damai dari dalam diri terlebih dahulu. Adalah sebuah kebohongan besar bila kita ingin membangun perdamaian dengan orang lain, sedangkan dalam diri sendiri tidak tersimpan rasa damai itu. Ketiadaan rasa damai dalam diri inilah yang memantik lahirnya kekerasan. Bila kita gagal mencari damai dalam diri, kita pun gagal menciptakan perdamaian dengan diri, sesama, alam dan Tuhan. Untuk itulah terlebih dahulu kita perlu berusaha dan berlatih mencari damai dalam diri, agar dimampukan membagikan damai itu pada orang lain.

Hal yang paling mungkin dilakukan untuk menemukan kedamaian dalam diri adalah dengan menerima diri apa adanya. Penerimaan diri yang demikian membuat orang tersebut tidak akan goyah meski ada gangguan-gangguan dari luar dirinya. Oleh sebab dia telah berdamai dengan diri dan menerima dirinya apa adanya.

Setelah kita menemukan kedamaian dalam diri, kita hendaknya membawa damai itu kepada orang lain. Saya sangat suka dengan istilah dari khazanah pemikiran Buddhisme, yakni interbeing. Kata ini terdiri dari dua suku kata, yakni inter (bersama-sama) dan be (ada). Maka, interbeing berarti ada bersama. Secara sosial, interbeing mengajak kita untuk mengangkat kesadaran kita bahwa keberadaan kita ini juga karena ada keberadaan yang lain. Kita terhubung satu dengan yang lainnya, dan tidak ada satu pun yang dapat berdiri sendiri.

Sebagai misal, eksistensi aku di tengah dunia rupanya dipengaruhi oleh faktor-faktor non-aku. Maka, aku tidak berdiri sendiri di tengah dunia ini. Adanya aku adalah karena ada yang lain. Aku tidak menjadi diriku saat ini karena diriku, melainkan karena ada yang lain selain aku. Aku ada karena kamu, dia, mereka dan yang lain juga ada. Aku ada karena bapa, mama, kakak dan adikku ada. Juga karena tetanggaku, teman-temanku ada. Tak bisa dipungkiri juga karena ada tanaman-tanaman dan binatang-binatang ada di alam. Dengan mereka inilah aku terhubung. Inilah yang membuat aku hadir, bereksistensi dan bertumbuh.

Interbeing membawa kita bertemu dengan wajah-wajah yang saling membangun. Relasi antar-wajah inilah yang disebut pemaknaan. Dalam bahasa Levinas, yang lain adalah yang lain, dengan wajah yang menandakan adanya kesempatan untuk menyalurkan sebuah kebebasan dan otonomi untuk bertanggung jawab atas yang lain (Marcus, 2008:26). Maka, karena keterhubungan itu, relasi antara seseorang dengan yang lain tidak sekadar relasi yang biasa-biasa saja, melainkan diubah menjadi relasi seseorang bertanggung jawab atas yang lain, entah yang lain itu tidak merespon atau tidak tindakan orang itu.

Pencarian akan rasa damai dalam diri menolong kita untuk melihat betapa pentingnya menjaga kerukunan dalam hidup bersama. Manusia memang memiliki kecenderungan untuk hidup bersama, tetapi dalam dirinya mesti tertanam pohon perdamaian sebagai faktor penting untuk menjaga keberlangsungan hidup bersama. Sampai di sini, tentu hidup dalam perdamaian dengan sendirinya melahirkan hasrat dalam setiap pribadi untuk saling menjaga dan melindungi kehidupan. Kehidupan bersama kita adalah untuk hidup dalam persekutuan kasih. Inilah inti kelahiran kita di dunia.

Natal adalah peristiwa lahirnya Seorang Raja Damai. Kedatangan Yesus merupakan momen yang tepat untuk membaharui seluruh lini kehidupan kita yang telah chaos. Dan, hati kita adalah palung bagi Yesus yang datang sebagai bayi mungil. Yesus sudah datang. Saatnya kita masuk dalam diri, menemukan Yesus di sana, lalu bawalah Yesus keluar untuk semua orang. Untuk perdamaian!

*) Novisiat Claretian Benlutu.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here