Beranda Florata News Pipa Air Digilas Alat Berat, Warga Rana Mbata Matim Alami Kerisis Air

Pipa Air Digilas Alat Berat, Warga Rana Mbata Matim Alami Kerisis Air

69
0
Pipa air. Foto Ilustrasi

FLORESPOST. CO, Borong – Kontraktor pelaksana proyek jalur Provinsi Bealaing Mbazang, di kabupaten Manggarai Timur diminta bertanggung jawab atas kerusakan pipa air milik warga desa Rana Mbata, kecamatan Kota Komba kabupaten Manggarai Timur.

Pipa-pipa air itu dibiarkan rusak akibat digilas alat berat ketika proses pelebaran jalur provinsi tepatnya di Golo Roba mulai dikerjakan pada pertengahan tahun lalu.

Akibatnya ratusan Kepala Keluarga di desa Rana Mbata mengalami kerisis air minum sejak Agustus tahun lalu. Pantauan Florespost.co beberapa batang pipa tampak dibiarkan berserakan di sepanjang jalan Golo Robo menuju Mbata.

sejauh ini pengerjaan Proyek dari Jere Mbata baru sebatas pelebaran jalan, Foto Florespost.co
sejauh ini pengerjaan Proyek dari Jere Mbata baru sebatas pelebaran jalan, Foto Florespost.co

Akibatnya hingga kini warga desa harus mengeluarkan uang untuk membeli air minum yang dijual mobil-mobil pickup. Harga air yang dibeli warga pun cukup mahal, yakni Rp 70.000/tanki ukuran 1000 liter dan Rp 3000/ jeriken dengan ukuran 5 Liter.

Marselus, salah seorang warga desa Rana Mbata mengatakan bahwa keadaan terparah dialami warga pada musim panas tahun lalu.

“Pada bulan agustus tahun lalu, kami harus membeli air untuk kebutuhan rumah tangga, harganya juga cukup mahal dan sangat memberatkan kami, sampai sekarang kami masih kesulitan air minum,” katanya kepada Florespost.co, Minggu 12 Januari pagi di Mbata.

Ia menambahkan kerisis air minum itu dialami warga semenjak proyek pelebaran jalur Golo Robo mulai dikerjakan.

“Sejak saat itu pipa-pipa air yang selama ini menjadi sumber utama pasokan air minum ke desa ini sudah tidak lagi dialiri air, karena digilas oleh alat berat di Golo Robo,” tambahnya.

Ia meminta pihak terkait untuk segera bertanggung jawab atas kerusakan pipa air yang menjadi hajat hidup orang banyak itu.

“Kami minta pipa air itu diganti lagi, karena sudah rusak digilas alat berat, kami ini sudah menderita jadi jangan buat kami tambah menderita lagi,” pintanya.

Sementara itu Agus salah seorang warga lain mengatakan kerisis air kali ini jadi yang paling parah dialami warga sejak tahun delapan puluhan, sebelumnya pasokan air ke desa itu hampir tidak mengalami kendala meski musim kemarau sekalipun.

“Kami punya instalasi pipa ini sudah ada sejak tahun delapan puluan pak, jauh sebelum jalan ini ada, sumbernya itu dari mata air wae pa,it dan wae Sepet selama ini aman-aman saja kami tidak mengalami kesulitan air minum,” kisahnya.

Namun, kata Agus, sejak jalur provinsi Bealaing – Mbazang itu mulai dikerjakan tahun lalu, pipa-pipa air yang memasok air ke desa Rana Mbata digilas alat berat milik kontraktor pelaksana proyek tepatnya di Golo Robo.

Akibatnya tambah Agus, pasokan air minum ke desa tersebut berhenti total, bak-bak penampung air di kampung Leda yang semula berfungsi sebagai bak induk kini tidak lagi terisi air.

“Sejak saat itu Warga Rana Mbata mulai mengalami kerisis air minum, bayangkan dengan penghasilan kami yang tidak seberapa harus membeli air minum seharga tujuh puluh ribu untuk satu tanki, dan itu hanya cukup untuk empat hinga lima hari saja” urai Agus.

Untuk itu ia berharap pemerintah segera memperhatikan nasib mereka, mengingat pipa air itu yang menjadi satu-satunya sumber pasokan air ke desa mereka.

Untuk diketahui proyek peningkatan jalan Bealaing Mbazang itu dikerjakan oleh PT Wiajaya Graha Prima sebagai kontraktor pelaksana. Proyek itu mulai dikerjakan pada pertengahan tahun 2019 lalu dari Jembatan Wae Mokel hingga kampung Mbata.

Namun sejauh ini jalan tersebut baru dihotmix hingga kampung Jere, sementara dari Jere menuju Mbata baru sampai di tahapan pelebaran jalan. Hingga kini belum ada tanda-tanda pengerjaan proyek dilanjutkan hanya ada satu unit eksavator yang terparkir di lokasi setelah kampung Jere dari arah Ruteng.

Menurut informasi yang beredar di masyarakat, dari kampung Jere menuju Mbata proyek itu dikerjakan oleh PT Agogo Golden Group dengan nilai kontrak sebesar Rp 14.198.198.000,00 dalam jangka waktu 210 hari kalender.

Meski demikian di lokasi proyek Florespost.co tidak melihat adanya papan informasi yang menyebut proyek dikerjakan oleh PT Agogo Golden Group.

Penulis : Antonius Rahu
Editor : Tarwan Stanis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here