Beranda Headline Kerusakan Pipa Air di Rana Mbata, Yohanes Rumat Minta Kontraktor Bertangung Jawab

Kerusakan Pipa Air di Rana Mbata, Yohanes Rumat Minta Kontraktor Bertangung Jawab

211
0
Sejauh ini pengerjaan Proyek dari Jere Mbata baru sebatas pelebaran jalan, Foto Florespost.co/foto ilustrasi kran pipa Florespost. 

FLORESPOST.CO, BorongKontraktor pelaksana proyek peningkatan jalan provinsi Bea Laing – Mbazang di Manggarai Timur diminta bertanggung jawab atas kerusakan pipa air milik warga desa Rana Mbata.

Demikian disampaikan oleh oleh Yohanes Rumat, anggota Fraksi PKB DPRD NTT di Kupang, Senin (13/01/2020).

Kepada Florespost.co, Yohanes Rumat menyebut tindakan kontraktor yang telah merusak pipa-pipa air milik warga desa Rana Mbata selama proses pelebaran ruas jalan Golo Robo adalah sebuah bentuk pelanggaran.

“Karena telah merusak fasilitas pipa air untuk masyarakat banyak,” kata Yohanes Rumat kepada Florespost.co,

Dirinya juga meminta agar dinas Pekerjaan Umum provinsi NTT sebagai pemberi proyek harus bertanggung jawab atas tindakan kontraktor pelaksana yang telah melakukan pengrusakan pipa air milik warga.

Selain itu Rumat juga meminta kepada Kepala Desa atau tokoh masyarakat setempat untuk segera menemui pihak kantraktor dan pengawas untuk mengingatkan pihak kontraktor agar segera memperbaiki pipa-pipa air itu.

“Karena ini pelanggaran masyarakat pengguna air pipa wajib melaporkan kepada pihak berwajib untuk menemukan solusi,” katanya.

Kendati demikian Yohanes Rumat menegaskan langkah itu diambil masyarakat bukan bermaksud hendak menghalangi pekerjaan proyek akan tetapi ia meminta agar pihak kontraktor juga harus menghargai hak hidup masyarakat setempat.

“Tentu kami sebagai DPRD provinsi NTT berkewajiban memberitahu kepada pemerintah dalam hal ini gubernur atau Dinas pekerjaan umum untuk segera memperhatikan hal ini,” tutup anggota DPRD NTT ini.

Alami Krisis Air Terparah

Akibat rusaknya jaringan pipa air milik desa Rana Mbata di kecamatan Kota Komba yang diduga imbas dari pengerjaan proyek jalan provinsi membuat masyarakat setempat alami krisis air terparah yang dialami sejak bulan Agustus 2019 lalu.

Saat Florespost datangi lokasi itu, tampak beberapa batang pipa air dibiarkan berserakan dengan kondisi rusak disepanjang jalan Golo Robo menuju Mbata. Rusaknya pipa-pipa ini menurut informasi dari warga setempat menyebutkan, saat proses pelebaran jalur provinsi tepatnya di Golo Robo yang mulai dikerjakan pada pertengahan tahun lalu.

Warga desa setempat harus mengeluarkan uang untuk membeli air minum yang dijual mobil-mobil pickup. Harga air yang dibeli warga pun cukup mahal, yakni Rp 70.000/tanki ukuran 1000 liter dan Rp 3000/jeriken dengan ukuran 5 liter.

Marselus, salah seorang warga desa Rana Mbata mengatakan keadaan ini membuat warga alami krisis air terparah sepanjang musim panas tahun lalu.

“Pada bulan Agustus tahun lalu, kami harus membeli air untuk kebutuhan rumah tangga, harganya juga cukup mahal dan sangat memberatkan kami, sampai sekarang kami masih kesulitan air minum,” katanya kepada Florespost.co Minggu, (12/1/2020) di Mbata.

Senada dengan Marselus, Agus salah seorang warga lain juga membenarkan kondisi itu. Agus menyampaikan sejak tahun 80-an pasokan air masuk, warga desa hampir tidak mengalami kendala meski musim kemarau sekalipun. Menurut Agus kondisi yang dialami sekarang adalah paling parah dialami warga semenjak tahun 80 – an.

“Kami punya instalasi pipa ini sudah ada sejak tahun delapan puluan pak, jauh sebelum jalan ini ada, sumbernya itu dari mata air wae Pa,it dan wae Sepet selama ini aman-aman saja, kami tidak mengalami kesulitan air minum,” kisahnya.

Namun, kata Agus, sejak jalur provinsi Bealaing-Mbazang itu mulai dikerjakan tahun lalu, jaringan pipa-pipa air yang memasok air ke desa Rana Mbata digilas alat berat milik kontraktor pelaksana proyek tepatnya di Golo Robo.

Akibatnya tambah Agus, pasokan air minum ke desa tersebut berhenti total, bak-bak penampung air di kampung Leda yang semula berfungsi sebagai bak induk kini tidak lagi terisi air.

“Sejak saat itu Warga Rana Mbata mulai mengalami kerisis air minum, bayangkan dengan penghasilan kami yang tidak seberapa harus membeli air minum seharga tujuh puluh ribu untuk satu tanki, dan itu hanya cukup untuk empat hinga lima hari saja,” urai Agus.

Untuk itu ia berharap pemerintah segera memperhatikan nasib mereka, mengingat pipa air itu yang menjadi satu-satunya sumber pasokan air ke desa mereka.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, proyek peningkatan jalan Bealaing Mbazang itu dikerjakan oleh PT Wiajaya Graha Prima sebagai kontraktor pelaksana. Proyek itu mulai dikerjakan pada pertengahan tahun 2019 lalu dari Jembatan Wae Mokel hingga kampung Mbata.

Namun sejauh ini jalan tersebut baru dihotmiks hingga kampung Jere, sementara dari Jere menuju Mbata baru sampai di tahapan pelebaran jalan.

Hingga kini belum ada tanda-tanda pengerjaan proyek dilanjutkan hanya ada satu unit eksavator yang terparkir di lokasi setelah kampung Jere dari arah Ruteng.

Menurut informasi yang beredar di masyarakat, dari kampung Jere menuju Mbata proyek itu dikerjakan oleh PT Agogo Golden Group dengan nilai kontrak sebesar Rp 14.198.198.000,00 dalam jangka waktu 210 hari kalender.

Meski demikian di lokasi proyek Florespost.co tidak melihat adanya papan informasi yang menyebut proyek dikerjakan oleh PT Agogo Golden Group.

Penulis : Antonius Rahu
Editor : Tarwan Stanis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here