Beranda Opini Opini | Toto Kopi Pilkada

Opini | Toto Kopi Pilkada

263
0
Alfred Tuname. (Foto/Ist)

Oleh: Alfred Tuname
Penulis Buku “le politique” (2018)

***

Dulu, sastrawan Pramoedya Ananta Toer pernah berujar: “kalau sejarah Indonesia itu diibaratkan sebagai seekor cicak, maka buku tersebut hanya ujung buntutnya saja”. Kebiasan minum kopi (ngopi) dan politik Pilkada pun persis demikian. Mutatis mutandis, kalau ngopi itu diibaratkan sebagai seekor cicak, maka Pilkada adalah buntutnya saja”.

Orang Manggarai itu akan terus ngopi meskipun Pilkada itu terlepas, tak ada lagi. Sejak Belanda memperkenalkan kopi di tanah congka sae (pada tahun 1920-an di Colol, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur), sejak itu pula orang Manggarai minum kopi. Tanpa gula pun, kopi terasa enak. Sebab ada pisang, ada ubi. Tak ada politik dalam suguhan kopi, selain sentuhan persahabatan atau ramah-tamah.

Oleh karena itu, dua orang pernah saling berseteru dapat kembali akrab melalui ngopi bareng. Dua tokoh yang garing dan arogan bisa renyah lewat ngopi bareng. bisa menyatukan dua politisi yang sama-sama ambisius. Apa saja bisa terjadi ketika ngopi.

Film Coffee and Cigarettes (sutradara Jim Jarmusch, 2003) mendeskripsikan secara detail karakter orang di hadapan secangkir kopi (dan sebatang rokok). Intimasi dan manipulasi terlihat jelas. Ada tokoh yang tampak periang dan mudah bersahabat tetapi kesepian, ada keakraban pada mafia yang sangar tetapi tetap takut istri. Mungkin saja ada pesan “emansipatoris” yang ironis pada ngopi. Bahwa, semua sama di hadapan kopi, kecuali di rumah.

Agak berbeda apabila kita komparasikan Film Coffee and Cigarettes dengan film Filosofi Kopi (sutradara Angga Dwimas Sasongko, 2015). Pesan yang disampaikan juga cukup emosional. Perjalanan hidup sang barista adalah suatu pencarian jati diri. Ia “hilang” karena kopi, dan ia temukan jati dirinya karena kopi. Kopi merekonsiliasi antara anak (barista) dan ayahnya.

Dua contoh film di atas hendak mengilustrasikan dua orang “kepala batu” bisa diakurkan dengan ngopi. Jadi, dengan ngopi dua orang saling sapa, saling jajak apa yang mereka inginkan. Kalau ilustrasi itu kita sandingkan dengan konteks politik Pilkada, dua tokoh baru bisa akur karena kopi. Mereka baru saling cocok, karena ngopi. Jika mereka adalah calon pemimpin, publik bisa menduga pragmatisme apa yang sedang mereka gadangkan. Toh, mereka baru saling sapa, saling jajak melalui mediasi ngopi.

Tetapi orang Manggarai punya cara untuk menduga nasip seseorang. Cara itu dikenal dengan sebutan “toto kopi”. Dari ampas, sisa ngopi, orang Manggarai menduga nasip seseorang. Diceritakan, ada pola-pola tertentu dari ampas kopi yang berhubungan dengan masa depan seseorang. Hanya orang “pinter” yang bisa membaca pola-pola itu.

Itulah kebiasan orang Manggarai dulu, selain toto urat untuk membaca tanda dari hewan tentang nasib seseorang. Ritual wuat wa’i, misalnya. Nasib baik atau buruk bisa dibaca melalui pola tertentu pada urat hewan sembelihan setelah dalam ritual. Dalam ritual yang sakral, seorang calon pemimpin bisa diramalkan bernasib baik atau buruk. Tua-tua gendang (tetua adat) bisa melihat itu.

Cara-cara irasional seperti itu memang masih pilihan politis Pilkada. Tak ada salahnya, sebab adat adalah bagian dari cara hidup orang Manggarai. Falsafah penyatuan makro kosmos dan mikrokosmos tetap ada pada mesbah perjuangan hidup (:politik) seseorang. Itu bukan berhala, tetapi kasiat untuk mendapat pahala.

Akan tetapi, pahala politik itu tak ujug-ujug didapat dari sesuatu yang irasional semata. Cara-cara politik yang rasioal pun perlu “dikultuskan”. Integritas, kredibilitas dan kapasitas mesti jadi batu uji tapak politik seseorang. Pemimpin yang teruji pasti punya semua kategori itu (Integritas, kredibilitas dan kapasitas). Bahwa ia selalu ada untuk rakyatnya. Tak hanya tampil (di medsos), tetapi ikut memberi andil dalam mensejahterakan masyarakat. Ia tidak hanya ada dan baru muncul di lima tahun sekali, di saat-saat konstestasi politik (Pilkada).

Dengan demikian, sesuatu yang irasional baru bisa dimengerti apabila disandingkan dengan yang rasional. Tanda tidak pernah muncul dari kosong, ia selalu meminta yang nostalgis untuk melihat yang postalgis. Semiologi politisnya, tanda kepemimpinan muncul dari perjuangan dan keterlibatan politik.

Dalilnya, tak mungkin ada pemimpim politik yang hanya ikut di tiap pesta (Pilkada), kecuali ia pernah memimpin. Tak ada yang sering ikut pesta politik, kecuali ia hanya politisi bukan pemimpin. Sayangnya, politisi itu terus ngotot tanpa timbang bobot keterlibatannya di masyarakat.

Mungkin benar kata peraih Nobel, Saramago: “pemilihan umum telah jadi representasi komedi absurd, yang memalukan”. Politisinya hanya tebal dompet dan niat, tetapi miskin wajah politik di hadapan publik. Tak ada prestasi tetapi ambisi terus diisi.

Ringkasnya, jika ingin jadi pemimpin, jangan hanya toto kopi, mesti juga toto gelu meskipun sekadar angkat sampah sebagai pengabdian pada publik.

Catatan Redaksi : Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here