Beranda Sastra Cerpen ǀ Melipat Jarak

Cerpen ǀ Melipat Jarak

137
0
Ilustasi (Sumber: Free-Photos/Pixabay)

Oleh: Chan Setu*

“Siapa namamu?”

Namaku, Luka.

Tanyaku lagi, siapa namamu? “ya, namaku, Luka”).”

Memangnya, tak ada nama lain dari parasmu yang menawan dan mengairahkan itu? Atau jangan-jangan, ibu dan ayah-mu lupa menamaimu dengan nama-nama yang lebih romantis dan cantik. Misalnya: Mawar, Anggrek, Melati, Senja atau mungkin Pelangi. Aku hanya berharap semoga tidak kau kenal lagi nama aslimu, Luka.

“Itulah percakapan kecil aku dan Luka,” saat senja mulai beranjak pergi dan menghantar kami kepada sebuah ruangan yang sunyi dengan iringan-iringan gendang yang bertalu, dengan gema suara yang saling bersahut-sahutan serta dengan romansa sebuah musik yang menghantar dunia kepada kedamaian.

“Aku mencintai suasana ini.” Maksud kamu? “Ya, aku mencintai suasana malam ini.” Ketika, di luar sedang ramai orang mondar-mandir, saling menawarkan harga sepasang baju kaos couple atau ada yang sedang duduk bertatap muka memancarkan kilauan senyum sepasang kekasih dengan hiasan pernak-pernik kejutan dengan lilin yang menyalah, bertaburan bunga-bunga mawar meronah dengan harum kembang yang menaikkan hasrat lalu tinggal kenangan dan air mata. Di lainnya lagi, ada gaduh yang bernilai seni dua – tiga orang menjajahkan bakat dan talenta mereka masing-masing, melalui petikkan gitar berdawai gendang dan yang lain menyanyikan lagu “Tanah Air Beta” atau mungkin saja menyanyikan lagi “Cinta Karna Cinta – Judika” yang sedang ramai ditayang di siaran-siaran televisi bahkan radio, atau lain lagi ada sekelompok remaja yang menamakan diri mereka gangster, menampilkan pakaian-pakaian robek dengan raut muka yang bengis saling mencopet bunga-bunga dada yang di simpan, di saku baju atau celana mungkin juga ada yang sedang mencuri pakaian dan tubuh lalu dijajah dan dipermainkan seolah barang rusak yang kembali di daur di tokopedia, yang lainnya lagi di luar sana sedang menjajah barang-barang haram hingga menjual tubuh tanpa salah, dipermainkan oleh sumber daya manusia (SDM) yang lemah, seolah tubuh manusia itu barang barter yang kapan maunya ditukar, kemudian dicampakkan persis seperti barang usang tanpa nilai dan harganya lagi.

“Kau tahu, dunia di luar sana begitu bengis dan kebengisan itu telah aku alami usai jadi korban kejinya dunia yang terlihat baik-baik saja sejauh pagi membuka mata dan malam menutup mata kepada mimpi yang tidak terwujud.”

Pagi dan malam: sebuah penjara yang berkali-kali kubungkus rapi dalam air mata. “Luka, maksud kamu? Ah, semoga kamu paham maksudku, Juan.”

* * * *

Setelah berkali-kali gagal mencoba untuk diam. Aku berbisik dengan penuh harap semoga hanya aku, Luka dan Tuhan yang mendengarkannya.

“Luka, benarkah itu namamu.” tanyaku parau dengan cemas, kalau-kalau aku akan dibentak atau dicaci maki.

“Juan, kau seperti seorang tuli yang tak paham arti dari bahasa kata yang kuucupkan atau mungkin kau akan memahaminya jika aku membahasakan namaku dengan bahasa tubuh?” Lagi-lagi kau mempersoalkan namaku. Jangan-jangan kau ingin membaptisku kembali dengan nama yang romantik dan cantik seperti: Mawar, Anggrek atau apa tadi yang kau sebut Senja dan Pelangi? Sungguh, itu bukan hal yang harus kukatakan waow.

“Luka, nama lahirku saat ibu dan ayahku membaptisku. Luka, nama gadis yang telah berkali-kali jadi korban dari dunia yang kau lihat baik-baik saja. Baik-baik saja? Mungkin bagimu. Dunia ini, tidak lebih dari seonggok petisi yang ramai bereklame.” Aku, telah berkali-kali jatuh di hadapan dunia dalam cengkeraman massa yang mencibirkan, perih rasanya jika harus jadi wangi untuk menilai aku baik-baik saja. “Juan, sudah kukatakan tadi. Tubuhku telah retak bersama cermin-cermin yang dipajangkan di depan emperan toko ruas jalan rumah, kampus dan tempat kerjamu. Jika kau masih saja mempersoalkan namaku, pulanglah dan tanya pada Tuhanmu siapa aku. “Luka, bukankah Tuhan kita sama?” Iya Juan, Tuhan kita sama, dulu. Saat ini Tuhanmu bukan Tuhanku lagi. Sejak malam yang berulang-ulang kali mengelegar tubuhku dan di depan cermin aku bertanya siapa sosok di dalam cermin itu? “Sosok penuh luka yang mengangah, sosok yang penuh dengan bekas cambuk gairah yang mulai redup, sosok seorang gadis yang telah berkali-kali dicampakkan dan dimatikan rasa.” “Kau mengenal jatuh cinta?” Aku sudah lama, mengubur cintaku yang telah jatuh berulang kali hingga usang ditelan dunia yang begitu beringas.

“Juan, namaku Luka.” Yang saban hari saat pagi tak kenal nasi bahkan tak ada sapaan lembut dari sang surya atau sekadar suara “Luka, bagaimana dengan mimpi malammu?” Senja yang kau sebut seperti tak ingin mengintip dan menanyai aku, “apakah aku baik-baik saja?”

“Juan, Luka itu namaku, nama pertama dan terakhir yang tak perlu kau baptis lagi.” Namun, jika saja kau bisa membaptis kembali namamu dalam sebuah kelahiran yang tak perlu lagi dikandung selama sembilan bulan, mungkinkah kau bersedia kupanggil dengan sapaan Mawar? “Tanyaku lanjut.”

“Maaf Juan. Luka, tetaplah Luka yang tak perlu kau panggil aku Mawar sekalipun kau memiliki filisofi untuk nama itu.” “Aku tetap akrab dipanggil, Luka.”

Usai mendengar sederetan kata yang dilemparkan begitu saja akhirnya aku kembali diam. Diam dengan seribu pertanyaan. “Kemarin, kudengar dari rekan kerjaku ada seorang gadis datang dengan sendu muka yang memerah. Tangisnya pecah, rambutnya berantakkan, tubuhnya penuh cambuk yang baru usai dicabik dan matanya, matanya penuh air mata kebencian. Kudengar, ia sedang menghamili anak yang tak dikandungnya, hasil dari cerita kelamnya usai diperdaya tanpa kekuatan untuk melawan. Toh yang kudengar dari cerita itu.” Apalah arti, seorang anak kecil yang sedang bermimpi akan senja yang romantis dengan impian yang menjulang tinggi bersama ingin untuk merengkuh bulan usai putih – abu-abunya ditanggalkan dengan predikat lulusan terbaik dari kampung. Pergi menebar hasrat, dengan doa yang diharapkan pulang kembali memberi rejeki dan membantu keringat ayah dan ibu di kampung lalu kenyataannya ia pulang dengan air mata dan jambuk kebengisan dunia. Cermin itu retak.

“Kalian tahu, itu yang kudengar dari rekan kerjaku dan kalian ingin tahu kalau sebenarnya mereka lupa, lupa kalau-kalau wanita itu adalah aku. Aku yang sedang bercerita kepada kalian ini, akulah wanita yang diceritakan oleh rekan kerjaku.” “Aku bukan lagi wanita yang baik-baik saja. Aku telah membebani jarak rumah, pulang dan keringat ayah juga ibuku. Bukan hanya itu aku telah membuang jarak yang kupikul itu antara mimpi, harap dan doa untuk pulang. Banyak jarak yang kutempah tanpa bersuara.

Lalu, tertawa kecil sambil berbisik dan bersiul dengan parau suaranya berisik mengumam demikian “dunia, tak lebih dari sekadar penghuni berparas topeng, aku digelitik jemari-jemari para korup, aku dicumbu bibir-bibir yang buas bak harimau yang ingin mengcengkeram musuh dan aku wanita yang tak ingin jadi baik-baik saja.

“Aku itu Luka, Luka yang dpanggil dari nama pemberian.” Gadis yang lari usai berkali-kali dikasari oleh dunia yang terasa baik-baik saja ini.”

Tiba-tiba aku sadar di depan panggung bioskop itu ada seorang wanita yang sedang me-monologkan peran gadis yang kukira hanya dalam khayalanku saja. Gadis itu bernama Luka. Mungkinkah Luka yang sedang duduk di sampingku? Jika benar itu dia, Luka gadisku maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku. Aku juga sedang tidak baik-baik saja.

* * * *

Seandainya bisa aku ingin kita melipat jarak biar doa kita menyatuh. Melipat jarak, agar kita jangan sekali-kali pergi memenjarakan jarak yang terlampaui bengis.

Luka gadisku, maafkan aku.

Maumere, 20 Februari 2020.

(sebuah perjalanan pulang – senja yang kelam di bibir pelabuhan)

Nb:

Melipat Jarak merupakan sebuah cerpen yang terinspirasi dari puisi Eyang Sapardi. Penulis hanya mencoba membaca lebih jauh dari imajinasi penulis mengenai alur-alur dalam sajak Sapardi.

*)Tentang Penulis:

Martinus Pancarianus Setu yang akrab di sapa dengan Chan ini merupakan anak kelima dari lima bersaudara, kelahiran Ende-Detusoko, 29 April 1998. Saat ini, Chan demikian biasa di sapa, sedang menempuh pendidikannya di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero (STFK-L) Maumere-Flores-Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai Mahasiswa semester IV, Chan juga merupakan seorang calon biarawan religius Serikat Sabda Allah (SVD). Dan saat ini menetap di Wisma Arnoldus Nita Pleat, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere-Flores-NTT.

Chan yang akrab di panggil dengan nama penanya Che di kalangan para sahabat dan teman-teman seperjuangannya sangat menyukai dunia Literasi khususnya dunia sastra. Dan beberapa tulisannya telah di muat dibeberapa media lokal dan media online. Misalnya: media lokal Surat Kabar Harian Umum (SKHU) Flores Pos dan Pos Kupang dan di beberapa media online Voxntt.com, nalarpolitik.com dan Diantimur.com. Karya-karya yang di muat dalam beberapa bentuk dengan genre yang sering berbeda. Misalnya puisi lebih banyak bergenre cinta dan romantis, cerpen lebih sering bergenre bebas sesuai imajinasi yang direfleksikan dan terkadang belian menulis prosa sebagai catatan-catatan kecil dari realitas hidupnya. Che dapat kita temukan lewat Fb: Pirres Setu/Che Pirres dan WA: 082236035772.

Sinopsis

Melipat Jarak merupakan sebuah cerpen yang paling tidak menceritakan tentang realitas dunia yang selalu menjadi problem kehidupan sekaligus menjadi hasil refleksi penulis khususnya tentang keadaan Ibu Pertiwi. Melipat Jarak secara singkat menceritakan realitas manusia yang sering menjadi korban penganiayaan, korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), human trafficking dan cerpen ini menjadi suara penulis atas keadaan ruang lingkup manusia khususnya perempuan-perempuan dari timur Indonesia (Nusa Tenggara Timur) yang sering menjadi korban human trafficking dan tenaga kerja ilegal. Luka, adalah nama seorang wanita yang telah keluar dan berani menjadi dirinya sendiri dengan kesadaran bahwa ia tidak sedang baik-baik saja. Keretakkannya dengan dunianya sendiri membuka jarak yang semakin melintang dengan hasrat untuk kembali kepada ibu. Seandainya bisa aku ingin kita melipat jarak biar doa kita menyatuh. Melipat jarak, agar kita jangan sekali-kali pergi memenjarakan jarak yang terlampaui bengis.

Luka gadisku, maafkan aku.

Martinus Pancarianus Setu (Chan Setu) (Foto: Dok. Pribadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here