Beranda Opini Opini ǀ Pancasila Vs Agama: “Entah Apa Yang Merasukimu”

Opini ǀ Pancasila Vs Agama: “Entah Apa Yang Merasukimu”

470
0
R. Maryono Paing, CMF, Mahasiswa Filsafat Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Pencinta Literasi Wisma Skolastikat Claretian, Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: R. Maryono Paing, CMF*

Agama dan Pancasila adalah potret yang kian menarik perhatian kalangan akademis Indonesia akhir-akhir ini. Adanya pernyataan eksentrik mengenai Pancasila dan agama, adanya konklusi tanpa preseden dan lain sebagainya. Hal tersebut mencuat dalam berbagai media sosial, ada informasinya yang benar dan tak terelakkan pula adanya hoax. Tentunya kedua hal tersebut berkaitan erat dengan politik. Terjemahan ala kadarnya menimbulkan  arti superfisial dan memudarkan nilai yang sebenarnya dari Pancasila dan agama.

Salah satu perdebatan para kaum intelektual Indonesia saat ini tentang pernyataan kepala BPIP. Ia menyampaikan bahwa “agama adalah musuh terbesar Pancasila”. Pernyataan ini terjadi dalam video singkatnya. Cuplikan tersebut merangsang mind-set untuk berdiskusi dan menilik lebih eksistensi Pancasila sebagai dasar negara dalam kaitannya dengan agama atau sebaliknya.

Fenomena ini memberikan banyak komentar dan kritik dari berbagai kalangan masyarakat dan akademis. Ada yang membela Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, dengan alasan sebagai seorang manusia yang tak luput dari kesalahan. Ada pula yang dengan terang-terangan menyatakan bahwa pernyataan tersebut tidak sepatutnya terjadi karena dia adalah seorang pemimpin dan public figure. Dan masih banyak lagi komentar dan kritik yang menenami potretan tersebut. 

Hal ini bisa saja terjadi karena adanya pemisahan antara sistem nilai Pancasila, nilai agama dengan nilai politik, sehingga pertentangan ini pun terus bergulir tanpa masuk babak baru yang dapat mencapai garis finish dan bahkan akan terus berlangsung.

Konflik yang demikian itu akan merenggut kepatuhan hati banyak orang. Jika ia mengikuti seruan agama dan Pancasila sebagai dasar negara, ia haruslah secara tajam menolak tuntutan-tuntutan politik yang mengabaikan nilai-nilai dasar dalam hidup negara Indonesia.  Namun, akhir-akhir ini kita ditemani dengan cuplikan yang menyatakan bahwa agama merupakan musuh terbesar Pancasila. Agama dianggap menjadi akar terjadinya masalah di negeri ini. Tentu tudingan seperti ini tidak dapat dibenarkan karena tidak sesuai dengan nilai historis dan filosofis Pancasila itu sendiri.

“Entah apa yang merasukimu ………….Kau sia-siakan cintaku”. Lirik lagu ini menginspirasi penulis untuk mengais fenomena ini. Memang jelas bahwa lagunya sangat profan dan disukai banyak kalangan, tetapi penulis mencoba menarik lagu ini dalam konteks pernyataan Kepala BPIP. “Entah apa yang merasukimu?” (Kepala BPIP sehingga ada sentimentil adanya sentimentil tersebut). Dalam kaca mata penulis ada banyak jawaban yang dapat dikatakan. Akan tetapi, tentunya satu hal yang tak dapat dilepaspisahkan adalah politik.

Namun penulis tetap positive thinking bahwa pernyataan Kepala BPIP adalah “salah lidah”. Penulis tidak men-judge apa yang dikatakannya sebagai bagian dari permainan politik, tetapi mungkin itu adalah kata-kata yang diucapkannya di bawah kesadarannya. Tentu sebagian orang tidak sependapat dengan apa yang penulis asumsikan. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang bagus dan akan memperkaya kita sebagai bangsa secara kritis.

Penulis semakin dikuatkan dengan pernyataan Kepala BPIP beberapa hari kemudian. Beliau mengklarifikasi pernyataannya dan bahkan meminta maaf kepada bangsa Indonesia. Bagi penulis, ini adalah keputusan dan tindakan yang benar dalam menjawabi apa yang menjadi polemik akhir-akhir ini akibat pernyataannya. Klarifikasinya memperjelas apa maksudnya dan tidak menimbulkan fenomena lain yang tidak diharapkan. Tentunya akan berbeda jika Kepala BPIP dalam klarifikasi mengatakan dan mempertahankan pernyataannya. Hal tersebut akan menimbulkan sesuatu yang lain, bahkan bisa saja demo yang berujung kekerasan dan kriminal.

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi II DPR, Selasa (18/2/2020). Pada kesempatan itu Yudian meralat pernyataan sebelumnya mengenai “agama merupakan musuh terbesar Pancasila”. Dia menuturkan, agama tidak bertentangan dengan sila-sila Pancasila karena agama justru mengisi nilai-nilai dasar dalam Pancasila. Menurutnya, ada cara beragama yang dikonsep dengan ekstrem. Mereka yang mengonsep agama dengan cara ekstrem secara sepihak itu yang menjadi musuh Pancasila (iNews.id, 19/02/2020). Dengan demikian, sasaran atau maksud dari pernyataan Kepala BPIP.

Agama: Potret Indonesia

Lembaga Survei Parameter Politik Indonesia menggelar survei tentang Wajah Islam Politik Pasca-Pemilu 2019. Survei berkaitan dengan persepsi responden terhadap agama dan Pancasila serta bentuk negara ideal. Survei dilaksanakan pada 5-12 Oktober 2019 kepada 1.000 orang responden dengan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei sebesar 3,1 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung.

Responden diberikan pilihan pernyataan ‘agama lebih penting dari Pancasila’, ‘agama dan Pancasila sama pentingnya’, serta ‘Pancasila lebih penting dari agama’. “Mayoritas responden yang kebetulan adalah mayoritas pemilih muslim di Indonesia itu menyatakan 81,4 persen mengatakan bahwa Pancasila dan agama sama-sama penting, nggak perlu diadu-adu, nggak perlu dibentur-benturkan,” kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno di kantornya, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (News Detik. Com, 29/11/2019).

Hasil survei di atas menunjukkan betapa cintanya rakyat pada bangsa yang difondasikan pada Pancasila. Hal ini juga telah ditegaskan Presiden Soeharto pada tanggal 16 Agustus 1983, dalam pidatonya dengan meyakinkan bahwa Pancasila bukanlah agama. Pancasila tidak akan dan tidak mungkin menggantikan agama. Pancasila tidak akan diagamakan. Juga agama tidak mungkin dipancasilakan. Tidak ada sila-sila dari Pancasila yang bertentangan dengan agama. Dan tidak ada satu agama pun yang ajarannya memberi tanda-tanda larangan terhadap pengamalan dari sila-sila dalam Pancasila. Karena itu, walaupun fungsi dan peranan dari Pancasila ini kita dapat menjadi pengamal agama yang taat sekaligus sebagai pengamal Pancasila yang baik. Oleh sebab itu jangan sekali-kali ada yang mempertentangkan agama dengan Pancasila, karena keduanya memang tidak bertentangan.

Mahmud M. D dalam bukunya “Konstitusi dan Hukum dalam Kontroversi Isu” (2012; 26) menyatakan ada empat kaidah penuntun dalam kebijakan-kebijakan hidup bersama sebagai bangsa Indonesia, yakni pertama, kebijakan umum dan politik hukum harus menjaga integrasi atau keutuhan bangsa baik secara ideologi maupun secara teritori.  Setiap kebijakan apa pun tidak boleh berpotensi terancamnya keutuhan kita sebagi bangsa. Politik dan kebijakan haruslah menjadi sesuatu yang dapat diterima secara bersama tanpa dirusak oleh nilai-nilai sektarian. Haruslah ditangkal dan ditindak tegas setiap kebijakan atau upaya apa pun yang bertendensi merobek keutuhan ideologi.

Kedua, kebijakan dan politik hukum haruslah didasarkan upaya membangun demokrasi (kedaulatan rakyat) dan nomokrasi (negara hukum) sekaligus. Artinya Indonesia adalah negara demokrasi yang berarti menyerahkan pemerintahan dan penentuan arah kebijakan negara kepada rakyat melalui konstelasi politik sehat, namun Indonesia juga negara hukum sehingga setiap kebijakan negara dibuat atas nama rakyat haruslah sesuai dengan prinsip-prinsip hukum dan filosofi yang mendasarinya.

Ketiga, kebijakan umum dan politik haruslah didasarkan upaya membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Indonesia bukanlah negara yang penganut paham liberalisme, tetapi secara ideologis menganut prismatika antara individualisme dan kolektivisme dengan titik berat pada bonum commune dan keadilan sosial.

Keempat, kebijakan dan politik haruslah didasarkan pada prinsip toleransi beragama yang berkeadaan. Indonesia bukanlah negara agama sehingga tidak boleh melahirkan kebijakan atau politik yang didominasi atau berdasar pada satu agama tertentu, tetapi Indonesia juga bukan negara sekuler yang hampa agama. Akan tetapi, Indonesia memiliki agama-agama yang telah diakui secara hukum yang dapat menjamin kehidupan bersama dan kebijakannya.

Singkatnya, Pancasila adalah philosofische grondslag yang terdiri dari sila-sila: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Kelima sila tersebut disepakati oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945 dalam rangka pengesahan UUD Negara Republik Indonesia, yang dalam pembukaannya pada alinea keempat tercantum rumusan Pancasila. Pancasila adalah dasar dan ideologi negara yang berfungsi sebagai suatu dasar moral dan ikatan moral bagi seluruh warga Indonesia dalam bernegara dan bermasyarakat. Sistem politik, meskipun menampakkan diri dalam bentuk kelembagaan (institusi) namun hakikatnya adalah perwujudan sistem nilai dan ideologi.

Dasar Negara Indonesia adalah Pancasila. Pancasila merupakan identitas dari masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, orang mengenal bahwa Indonesia adalah negara pluralistik yang terdiri dari berbagai macam kepercayaan/agama hal ini dapat dilihat dalam sila pertama dalam Pancasila, yakni “KeTuhanan Yang Maha Esa”. Selain itu, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan selanjutnya negara mengusahakan agar terjadinya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Apa yang akan terjadi bila identitas bangsa Indonesia, yakni Pancasila dicabut? Tentu saja identitas merupakan hakekat dari seseorang, maka apabila identitas Indonesia dicabut,  sama halnya dengan mencabut akan hakekat bangsa Indonesia. Akhirnya, banggalah menjadi Indonesia. Banggalah dalam kebhinekaan. Banggalah terhadap Pancasila sebagai dasar negara kesatuan Indonesia!

 “Seni mengungkapkan keindahan yang dengan itu menghadirkan kebahagiaan bagi kehiduapan manusia. Agama memberikan cinta dan merupakan musik kehidupan. Sains berkaitan dengan kebenaran, kebajikan, dan akal, yang dengan itu mencerdaskan kehidupan.” (George Sarton, Sejarawan AS)

*) Mahasiswa Filsafat Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Pencinta Literasi Wisma Skolastikat Claretian, Yogyakarta

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here