Beranda Florata News Tolak Geothermal, Warga Desa Wae Sano Surati Bank Dunia dan New Zealand...

Tolak Geothermal, Warga Desa Wae Sano Surati Bank Dunia dan New Zealand Aid

362
0
Foto Ist/ Dsgn Florespsot

FLORESPOST.CO, Ruteng– Warga di tiga (3) kampung di Desa Wae Sano, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, melayangkan surat ke Bank Dunia dan New Zealand Aid, untuk mempertimbangkan kembali pendanaan bagi proyek pengeboran panas bumi (Geothermal) di Desa Wae Sano.

Dalam press realease yang copyannya diterima media ini, Senin (9/3/2020) di Ruteng, ada beberapa point penting yang disampaikan masyarakat Desa Wae Sano, khususnya warga tiga anak kampung yaitu Lempe, Nunang dan Dasak.

Point pertama mereka menyampaikan, titik-titik pengeboran yang ditetapkan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT yang melakukan eksplorasi dan eksploitasi panas bumi) terletak di tengah-tengan ruang hidup warga tiga anak kampung yang mencangkup halaman, kebun, sumber air, pusat kehidupan adat, rumah ibadah,kl kuburan, hutan dan danau. Dengan kata lain, proyek ini mengancam kehidupan sosial,budaya,keagamaan dan mata pencaharian warga.

Kedua, sampai sejauh ini masyarakat belum mendapat penjelasan utuh tentang proyek ini, termasuk dampak dan resiko yang ditanggung warga jika proyek ini dijalankan. Sementara dalam sosialisasi yang dilakukan PT SMI yang difasilitasi pemerintah, warga hanya mendapat penjelasan bahwa proyek ini akan membawa kebaikan dan tidak ada resiko. Warga sangat tidak yakin jika proyek ini tidak ada resiko bagi kelangsungan hidup masyarakat.

Ketiga, warga telah memberitahukan kepada Bank Dunia dan New Zealand Aid, sebagai pemberi dana proyek ini bahwa warga tidak memberikan persetujuan rencana eksplotasi panas bumi tersebut.

Keempat, warga juga mengetahui bahwa Bank Dunia dan New Zealand Aid sangat menghormati prinsip Free, Prior and Informed Consent (Persetujuan bebas setelah mendapat informasi yang lengkap sebelumnya). Karena itu, Bank Dunia dan New Zealand Aid juga menghargai prinsip ini di kampung mereka.

Kelima, sudah tiga tahun PT SMI beroperasi (survei, pengeboran pengambilan sample, dll) tanpa persetujuan warga dan saat ini hendak melanjutkan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi juga tanpa persetujuan warga. Titik yang hendak di eksplorasi persis berada di ruang hidup warga. Demi keadilan dan hak asasi manusia dan atas dasar prinsip free, prior and informed consent, warga meminta Bank Dunia dan New Zealand Aid untuk mengevalusi dukungan dana terhadap proyek ini.

Warga Wae Sano juga menyampaikan penghargaan atas bantuan Pater Paul Rahmat SVD dari Vivat Indonesia dan JPIC SVD, yang telah membantu mengantar surat keberatan warga ke Perwakilan Bank Dunia dan New Zealand Aid di Jakarta sehingga surat tersebut sudah diterima kedua lembaga ini pada tanggal 2 Maret 2020.

Koordinator/ Direktur JPIC SVD Ruteng P. Simon Suban Tukan, SVD, yang dikonfirmasi di kantornya membenarkan jika pihaknya mendampingi warga.

“Setelah mempelajari dan melihat lokasi di lapangan, kami memutuskan untuk mendampingi mereka,” kata Pater Simon.

Pater Simon juga mengatakan bahwa, JPIC juga memfasilitasi agar surat-surat warga bisa sampai ke alamatnya seperti bank dunia dan new zealeand aid.

“Kami menggunakan jaringan kami untuk menyebarluaskan informasi terkait penolakan warga. Informasi ini juga bisa kami sebarluaskan melalui jaraingan kami di level internasional,” katanya.

“Kami menfasilitasi agar suara-suara mereka sampai ke orang-orang yang bertanggung jawab pada proyek ini,” tambah Pater Simon.

Laporan: Adi Nembok
Editor: Tarwan Stanis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here